Jurus Anti Rungkad dari Investor Dunia Pas Pasar Saham Merah Membara!
Pasar saham lagi diguyur diskon gede-gedean? Tenang, lu gak sendirian. Jangankan investor ritel kayak kita, institusi gede pun ikutan pusing kepala tujuh keliling. Tapi, namanya juga pasar, ada naik ada turun. Nah, biar lu gak panik melulu, yuk kita intip strategi para dewa investasi dunia pas krisis melanda. Dijamin, ini bukan cuma omong kosong belaka!
Peter Lynch: Beda Krisis 1987 dan 1990, Mana Lebih Sakit?
Siapa sih yang gak kenal Peter Lynch? Investor legendaris ini punya pandangan unik soal krisis. Dia bilang, crash horor “Black Monday” tahun 1987 itu gak se-serem kondisi pasar di tahun 1990. Kenapa, Bro?
Market Crash 1987: Shock Doang, Fundamental Aman!
Lynch ngaku, pas 1987, pasar saham anjlok parah mendadak. Tapi, dia gak langsung panik. Dia langsung telpon-telponan sama manajemen emiten-emiten yang dia pegang. Hasilnya? Mayoritas bilang, “Bisnis kami aman-aman aja kok, Bos, meski harga saham rontok.”
Tapi, dia sadar juga, crash dadakan gitu bikin mental pebisnis ciut. Banyak yang nanya, “Bisnis kita masih oke, nih. Tapi, ada apa ya? Ada bahaya gede yang ngintai?” Jadi, meski fundamental gak kenapa-kenapa, harga saham yang terjun bebas itu bikin orang bertanya-tanya, jangan-jangan ada monster ekonomi yang mau muncul.
Ternyata, biang kerok utamanya bukan fundamental jelek, tapi “portfolio insurance”. Ini semacam program yang otomatis jual saham buat batasi rugi pas ada sinyal pasar bakal anjlok. Eh, malah jadi snowball effect, semua pada jual barengan, makin dalam deh jatuhnya.
Dari kejadian 1987 ini, lahirlah jurus “circuit breaker” di pasar saham. Intinya, kalau pasar terlalu barbar, transaksi bisa distop sementara biar gak makin parah. Di Indonesia, kita kenal auto rejection atas-bawah dan trading halt buat indeks saham. Mayan lah, buat ngerem panik.
Resesi 1990-1991: Ini Baru Fundamental Ngilu!
Beda sama 1987, periode 1990-1991 itu bener-bener bikin AS resesi. Penyebabnya kompleks, mulai dari invasi Irak ke Kuwait yang bikin harga minyak melambung dua kali lipat, sampai sistem perbankan yang masih cupu. Kredit macet, suku bunga naik, semua bikin ekonomi megap-megap.
Lynch ngasih skor, krisis 1990 itu jauh lebih berat dari 1987. Kenapa? Karena kali ini, fundamental bisnis emiten ikutan melambat. Investor gak cuma ngadepin harga saham yang volatile, tapi juga perusahaan yang kinerjanya beneran seret. Ngeri gak tuh? Jadi, bukan cuma sentimen, tapi kondisi nyata yang memburuk.
Warren Buffett: Kisah sang Kakek Bijak dari Krisis ke Krisis
Siapa sih yang gak kenal Om Warren Buffett? Legenda hidup ini punya banyak cerita pas pasar lagi mode ‘bear’ alias merah menyala.
Bear Market 1973-1974: Beli Media Anti Rungkad!
Tahun 1973-1974, pasar saham ambruk parah, paling parah sejak The Great Depression 1929! Indeks Dow Jones terjun 45% dalam dua tahun. Penyebabnya, mulai dari stagflasi (inflasi tinggi tapi ekonomi melambat), krisis minyak, sampai runtuhnya sistem Bretton Woods.
Pas semua lagi ketar-ketir, Buffett malah nyerok saham Washington Post Company senilai $10,6 juta di tahun 1973. Eh, tahun berikutnya, dia sempet rugi ngambang 24%! Tapi, Buffett mah santuy. Dia punya keyakinan kuat kalau koran itu aset yang murah banget karena dijual pas semua lagi panik.
Dia ngelihat Washington Post itu bisnis media berkualitas dengan “economic moat” alias benteng ekonomi yang kuat. Hasilnya? Butuh hampir 10 tahun (sampai 1985), Buffett bisa cuan gila 1984%, jadi $221 juta! Terus, dijual lagi di 2014 dengan harga $1,1 miliar. Ngerti kan, sabar itu kunci?
Krisis Finansial Global 2008: Nyelamatin Bank, Dapet Cuan Pasti!
Kisah Buffett di 2008 beda lagi. Pas krisis Subprime Mortgage, dia gak nyerok saham biasa, tapi malah nyuntikin modal $5 miliar ke Goldman Sachs dalam bentuk saham preferen. Ini bukan cuma investasi, tapi lebih ke ngebantu likuiditas bank-bank AS yang lagi sekarat.
Tapi, Om Buffett gak rugi. Dia dapet jaminan dividen 10% per tahun! Sebulan kemudian, dia juga beli saham preferen perpetual General Electric dengan skema serupa: dividen 10% per tahun, plus waran buat beli saham GE di harga diskon. Jadi, pas semua lagi panik, dia malah dapet cuan yang hampir pasti dengan modal gede yang dia punya. Sultan mah beda!
Philip Fisher: Hold Keras Ala Sesepuh Investor
Nah, kalau Philip Fisher ini sesepuhnya investor, bahkan Buffett pun ngambil ilmunya! Fisher ini dikenal doyan nyari saham pertumbuhan yang menjanjikan buat jangka panjang. Jurus andalannya? “Scuttlebutt”!
Scuttlebutt itu bukan sembarang riset. Dia gali info dari mana-mana: pelanggan, pemasok, kompetitor, karyawan, bahkan jaringan industri buat bener-bener ngerti kualitas emiten secara mendalam. Gak cuma liat angka di laporan keuangan doang, Bro!
Motorola: Dibeli ’55, Dijual 2004, Cuan Ngagetin!
Salah satu investasinya yang paling legendaris adalah saham Motorola. Dia beli tahun 1955, pas Motorola masih fokus bikin radio, jauh sebelum jadi produsen smartphone. Dan lu tau apa? Dia hold keras saham itu sampai akhir hayatnya di tahun 2004!
Selama periode itu, dia ngelewatin berbagai krisis: bear market 60-an, stagflasi 70-an, Black Monday 87, resesi 90-an, sampai bubble dotcom awal 2000-an. Hasilnya? Konon, dia dapet keuntungan akumulasi sampai 20 kali lipat dari modal awal! Edan!
Filosofi Fisher simpel: jangan jual perusahaan hebat cuma gara-gara pasar lagi panik atau harga saham volatile. Selama fundamentalnya masih top, penurunan harga saham itu cuma gangguan jangka pendek. Intinya, jangan buang berlian saat badai.
Catatan Penting Buat Pasar Saham Indonesia:
Meski begitu, jurus “hold keras sampai puluhan tahun” ala Fisher ini belum tentu cocok buat semua saham di Indonesia, ya. Paling cuma saham-saham yang bisa dihitung jari. Alasannya, likuiditas pasar kita dan skala bisnis emiten yang cenderung lokal-regional (ekspor pun masih banyak komoditas mentah/setengah jadi). Jadi, risiko hold puluhan tahun itu agak ngeri-ngeri sedap.
Mending kita pakai strategi “hold jangka menengah-panjang” aja. Kalau udah cuan, boleh lah realisasi dulu, terus cari potensi saham murah lainnya. Jangan terlalu saklek!
Kesimpulan: Cut Loss Itu Pilihan, Tapi Pake Otak, Ga Cuma Panik!
Artikel ini bukan berarti ngelarang lu buat cut loss, ya. Tapi, ini buat ngasih pencerahan pas pasar saham lagi ambruk parah dan semua orang pada panik. Jadi, sebelum lu mencet tombol “jual rugi” karena panik, coba deh mikir ini:
- Kalau cut loss, abis itu lu mau ngapain? Nunggu pasar tenang doang?
- Gimana caranya balikin modal yang udah lu cut loss? Punya strategi buat nyari saham atau aset lain yang bagus pas market koreksi?
- Saham yang mau lu jual ini, beneran terpengaruh fundamentalnya sama krisis yang terjadi? Atau sebenarnya bisnisnya masih strong?
- Apa lu butuh cut loss sebagian buat punya cash, biar bisa nyerok saham bagus pas diskon?
Intinya, setiap keputusan jual rugi itu harus dipikirin mateng-mateng. Pahami seberapa besar potensi cuan dan risiko yang akan lu hadapi.
Dari awal, kalau tujuan lu investasi, seharusnya udah masuk di harga yang murah dan punya probabilitas tinggi buat balik modal atau cuan. Nah, yang bahaya itu kalau awalnya trading, terus nyangkut, mendadak jadi investor. Biasanya, saham buat trading itu dipilih pas lagi hype, jadi posisinya bukan yang terbaik buat investasi jangka panjang.
Dan kalaupun lu mutusin cut loss buat “wait and see” terus mau nyari peluang pas market rebound, itu sah-sah aja. Asalkan, lu ngerti risikonya adalah merealisasikan kerugian. Jadi, nanti kalau harga sahamnya tiba-tiba terbang lagi sampai di atas harga rata-rata lu (alias cuan lagi), jangan malah nyalahin keadaan atau nangis bombay, ya! Semua udah jadi pilihan lu dari awal.

