Saham GOTO: Dari Boncos Triliunan Hingga Cuan Perdana, Mungkinkah Balik ke Harga IPO?
Perjalanan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dari awal merger hingga menembus bursa saham itu ibarat sinetron. Penuh drama, boncos, dan akhirnya ada titik terang. Banyak investor yang dulu ngebet banget pengen punya saham GOTO waktu startup lagi di atas angin. Ekspektasinya harga GOTO bisa meroket kayak saham teknologi di Amrik.
Padahal, dulu aja UBER, sang pionir ride-hailing, udah ngasih liat kalo IPO itu nggak selalu mulus. Metrik kayak EBITDA adjusted buat nunjukin keuntungan bahkan jadi bahan ketawaan di Wall Street. Tapi tetep aja, orang-orang pada penasaran, gimana sih cara investasi GOTO?
Eh, pas COVID-19 muncul, hype startup makin gila. Bukalapak (BUKA) jadi startup unicorn pertama Indonesia yang duluan IPO. Antusiasme yang meluap-luap itu akhirnya dibalas kenyataan pahit: daleman perusahaan teknologi ternyata nggak seindah ekspektasi. Harga saham BUKA ambles, sampe sekarang belum bisa balik ke harga IPO di Rp850 per saham. Padahal, udah coba ganti strategi ke SaaS, bahkan akuisisi bank, tapi tetep aja mandek. Bisnis online-to-offline yang dulu di-gembor-gemborin juga gitu-gitu aja, kalah saing.
Ironisnya, meski kasus BUKA udah bikin dana IPO banyak nganggur di deposito, pas GOTO mau IPO, hebohnya tetep nggak ketulungan. Gojek dan Tokopedia merger, lahirlah GOTO. Saham dengan lembar terbanyak di bursa ini tetep disambut antusias sama pasar.
Tapi ya gitu deh, suplai saham yang segunung itu bikin harga saham GOTO langsung terjun bebas setelah IPO. Dari harga IPO Rp338 per saham, sempat nyungsep di Rp51 per saham. Ngeri, kan?
Perjalanan GOTO pun nggak jauh beda dari BUKA. Boncos terus. Sampai akhirnya, GOTO ambil langkah drastis: lepas Tokopedia ke TikTok di Januari 2024. Ini bikin laba bersih GOTO secara akuntansi rugi gila-gilaan sampe Rp80 triliun karena dekonsolidasi goodwill Tokopedia yang jumbo. Tapi, keputusan ini terbukti jadi kunci buat GOTO melangkah lebih ringan menuju profitabilitas. Dan bener aja, di Kuartal I 2026, GOTO berhasil catatkan laba bersih perdana! Mantap jiwa!
Kinerja Keuangan GOTO Q1 2026: Dari Boncos ke Cuan?
Akhirnya, setelah perjalanan panjang dan berliku, GOTO berhasil cetak laba bersih untuk pertama kalinya! Ini bukan kaleng-kaleng, bro. Angka-angkanya bikin melongo:
- Pendapatan Bersih: Rp5,3 Triliun, naik 26% dari Kuartal I 2025.
- Laba Usaha: +Rp418 Miliar, jauh banget dari rugi Rp942 Miliar di Kuartal I 2024.
- Laba Bersih: +Rp171 Miliar, ini dia nih yang ditunggu-tunggu! Pertama kali dalam sejarah GOTO.
- Margin Laba Usaha: +7,8%, padahal di Kuartal I 2024 masih minus 28,3%.
Ini nunjukkin kalo GOTO serius banget benah-benah. Kualitas pendapatan sekarang jauh lebih baik, karena hampir semua segmen mulai profit. Pendapatan Rp5,3 Triliun ini jadi yang paling tinggi setelah GOTO restrukturisasi, didorong sama pertumbuhan on-demand dan ledakan segmen fintech pinjaman yang tumbuh 72% YoY. Gaspol!
Kalo kita liat perjalanan laba/(rugi) usaha GOTO, perbaikan Rp4,5 Triliun dalam 3 tahun itu bukan main-main. Dari rugi Rp4 Triliun di Q1 2023, sekarang jadi laba Rp418 Miliar di Q1 2026. Ini bukti efisiensi biaya dan restrukturisasi segmen yang tepat.
Selain laba bersih, EBITDA proxy GOTO di Q1 2026 juga ciamik, sekitar Rp806 Miliar. Angka ini jauh di atas laba usaha, nunjukkin kalo GOTO sekarang operationally healthy. Udah nggak jadi “mesin pembakar uang” lagi, bestie!
Bedah Segmen Bisnis GOTO: Siapa Jagoan Baru?
Perjalanan GOTO dari rugi besar ke laba perdana itu nggak lepas dari manuver di setiap segmen bisnisnya. Ada satu keputusan yang jadi game changer:
Divestasi Tokopedia: Game Changer!
Dulu, segmen e-commerce Tokopedia itu ibarat “mesin pembakar uang”. Di Q1 2023, Tokopedia menyedot rugi Rp889 Miliar, gara-gara beban insentif pelanggan yang sama gedenya. Rasio subsidinya hampir 1:1. Bayangin, lu kasih insentif sebanyak pendapatan, rugi bandar namanya!
Nah, setelah GOTO lepas Tokopedia ke TikTok Shop (pasca-deal di Q1 2024), ceritanya beda. GOTO sekarang cuma terima imbalan jasa dari Tokopedia (yang sekarang jadi TOKO) sebesar Rp790 Miliar, tanpa beban insentif gila-gilaan. Malah, langsung laba Rp533 Miliar! Di Q1 2026, e-commerce fee cuma Rp288 Miliar tapi margin operasionalnya 89%. Gila, kan? Dari pembakar uang, jadi sumber keuntungan bersih. Ini baru namanya transformasi!
On-Demand Services: Tetap Gaspol
Segmen on-demand (GoRide, GoCar, GoFood, GoSend, GoPlay) tetep jadi tulang punggung. Di Q1 2026, pendapatan dari segmen ini mencapai Rp3.301 Miliar dengan laba Rp356 Miliar. Pertumbuhan organiknya kuat, nunjukkin kalo layanan ini masih sangat dibutuhkan masyarakat.
Financial Technology: Mesin Cuan Masa Depan
Ini nih segmen yang lagi nge-gas kenceng banget! Fintech GOTO (GoPay, GoPayLater, pinjaman, asuransi) mencatat pendapatan Rp1.761 Miliar dengan laba Rp130 Miliar di Q1 2026. Pertumbuhan segmen pinjaman/lending yang mencapai 72% YoY di Q1 2026 bikin GOTO sekarang serius bertransformasi jadi perusahaan fintech yang patut diperhitungkan. Kalo dulu lu cuma kenal GoPay buat bayar-bayar, sekarang GoPayLater dan pinjaman makin banyak penggunanya.
Efisiensi Biaya GOTO: Jaga Dompet Biar Nggak Bolong
Salah satu kunci balik cuan GOTO adalah pemangkasan biaya yang masif. Coba bandingin Q1 2023 sama Q1 2026:
- Biaya G&A (umum & administrasi) dipangkas 50%.
- Beban penjualan & pemasaran dipangkas 54%.
- Beban D&A (depresiasi & amortisasi) turun 72% (karena impairment goodwill Tokopedia udah kelar dicatat).
Total biaya operasional GOTO berhasil dipangkas 33%, dari Rp7,4 Triliun (Q1 2023) jadi Rp4,9 Triliun (Q1 2026). Yang menarik, COGS (biaya pokok penjualan) justru naik, ini sinyal positif! Artinya, GOTO lebih banyak transaksi yang menghasilkan pendapatan, bukan cuma nutup kerugian. Mantap!
Komposisi Pendapatan GOTO: Nggak Cuma Ojek Online!
Dari total pendapatan GOTO Rp5,3 Triliun di Q1 2026, lu bisa liat dari mana aja cuannya:
- Jasa pengiriman (GoSend) dan imbalan jasa on-demand masih dominan.
- Tapi, yang jadi bintang baru adalah pinjaman/lending. Kontribusinya mencapai 25% dari total revenue, tumbuh 72% YoY. Ini bikin segmen fintech sekarang menyumbang 33% total pendapatan GOTO. Serius, GOTO lagi nge-gas banget di dunia fintech!
Pergerakan Pemegang Saham GOTO: Siapa yang Masih Setia?
Sejak IPO GOTO di 2022 sampai sekarang, ada beberapa perubahan menarik di struktur kepemilikan saham strategis:
- SoftBank (SVF) dan Alibaba (Taobao) masih jadi dua pemegang saham terbesar, meski porsi kepemilikannya agak menyusut karena dilusi dan sebagian penjualan.
- Yang bikin kaget, Google (2,48%), Tencent (2,48%), dan Telkomsel (1,99%) masih setia jadi investor strategis. Mereka udah nemplok di Gojek jauh sebelum merger, lho.
- Bahkan, William Tanuwijaya (co-founder Tokopedia) masih tercatat punya 1,25% saham. Padahal Tokopedia udah dilepas ke TikTok. Ini bikin penasaran, ya.
- Investor modal ventura global kayak Peak XV Partners (eks-Sequoia India) dan Warburg Pincus juga masih keliatan, nunjukkin kalo GOTO masih menarik di mata mereka.
- Sekarang, yang paling banyak pegang saham GOTO justru publik, dengan lebih dari 51% saham beredar tersebar di investor ritel dan institusi kecil.
GOTO vs. Raksasa Ride-Hailing Dunia: Setara Nggak Sih?
Kalo dibandingin sama raksasa ride-hailing lainnya kayak UBER, Grab, Didi, atau Lyft, GOTO emang paling mini dari sisi aset. Dari sisi valuasi yang ngacu ke profitabilitas kayak PE (Price-to-Earnings) dan EV/EBITDA, GOTO juga masih terlihat paling mahal. Wajar sih, kan baru pertama kali cetak laba bersih.
Tapi, kalo diliat dari PBV (Price-to-Book Value), GOTO masih lebih murah dari UBER. Meski ya, skala bisnisnya emang beda jauh banget. Jadi, GOTO masih punya PR besar buat ningkatin skala dan profitabilitas biar bisa bersaing di liga global.
Bisakah Saham GOTO Balik ke Harga IPO (Rp338)? Mitos atau Fakta?
Ini pertanyaan yang sering banget muncul di kalangan investor saham GOTO. Harga IPO GOTO di Rp338 per saham itu terasa jauh banget dari harga sekarang. Nah, tantangan terbesarnya itu ada di jumlah lembar saham GOTO yang super jumbo: mencapai 1,19 triliun lembar! Ini salah satu saham dengan lembar terbanyak di Indonesia, bareng GIAA, BUMI, DSSA, dan BBKP.
Dari total lembar saham itu, sekitar 51% dipegang sama pemegang saham di bawah 1%. Artinya, ada sekitar 500 miliar lembar saham yang bisa diperdagangkan kapan aja sama investor ritel atau investor pra-IPO yang mungkin pengen cuan.
Jadi, buat harga saham GOTO balik ke harga IPO, bukan cuma soal bisnisnya udah laba. Tapi juga gimana caranya ningkatin permintaan (demand) saham GOTO jadi super gede. Butuh dorongan dana besar dari institusi atau investor kakap biar terjadi perebutan suplai saham yang bikin harganya naik.
Kalo menurut gw pribadi, saham GOTO bisa ke area Rp100 per saham itu masih mungkin, bro. Tapi kalo balik ke Rp338 per saham? Itu butuh dorongan gila-gilaan dari “pemilik dana besar” yang siap tempur buat merebut saham dari tangan investor kecil. Jadi, jangan terlalu berekspektasi tinggi, tapi juga jangan pesimis banget.

