Saham BUMI (BUMI): Laba Q1 2026 Ngegas YoY, Tapi QoQ Malah Ngerem? Ada Apa Nih Bestie!
Laba Bersih BUMI Q1 2026: Nanjak Gila-Gilaan YoY!
Guys, mari kita bedah laporan keuangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) buat kuartal pertama tahun 2026. Laba bersih mereka tembus US$24 juta! Mantul banget, naik +35% dibanding periode yang sama tahun lalu (YoY). Ini nunjukkin performa yang makin moncer secara tahunan, gaes!
Pendapatan dan Margin BUMI Makin Kece!
Kenaikan laba bersih ini bukan kaleng-kaleng, Bestie. Ada beberapa faktor yang bikin BUMI makin cuan:
- Pendapatan mereka juga ikutan naik, gaspol +20% YoY! Ini nunjukkin kalau penjualan BUMI lagi kenceng-kencengnya.
- Margin laba kotor ikutan ekspansi gila-gilaan, +510 basis poin (bps) YoY. Artinya, BUMI makin jago ngatur biaya produksi biar labanya makin tebel.
- Harga jual batu bara sama emas lagi naik daun, dan itu nguntungin banget buat BUMI. Beban royalti juga turun -9% YoY, makin bikin laba bersihnya ngegas!
Tapi Kok Laba BUMI Ngerem -53% QoQ? Ada Apa Nih Bestie?
Nah, kalau kita bandingin sama kuartal sebelumnya (QoQ), laba bersih BUMI malah turun drastis -53% di Q1 2026. Ini nih yang perlu kita ulik lebih dalam, Bro!
Kontribusi DEWA Nggak Segila Dulu & Core Profit Ikutan Melorot!
Penurunan laba bersih QoQ ini utamanya gara-gara kontribusi pendapatan dari PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang merosot tajam. Dari US$30 juta di Q4 2025, eh di Q1 2026 cuma nyumbang US$1 juta doang!
Kenapa begitu? Ternyata di Q4 2025 itu ada one-off gain dari konsolidasi PT Gayo Mineral Resources. Jadi, itu bukan pendapatan rutin, gaes. Kalau kita liat dari core profit BUMI, kinerjanya juga turun -18% QoQ. Ini disebabkan:
- Margin laba kotor menyusut -280 bps QoQ.
- Biaya stripping dan mining malah naik +17% QoQ. Artinya, biaya buat ngeduk tanah sama tambang makin gede, bikin laba jadi tipis.
Stripping Ratio DEWA Bikin Pusing Tujuh Keliling?
Dari data operasional DEWA, stripping ratio di beberapa proyek utama kayak PT Arutmin Indonesia (Asam Asam dan Kintap) dan PT Kaltim Prima Coal (Bengalon) itu naik jadi 13x di Q1 2026. Padahal di Q4 2025 cuma 12x.
Apa itu stripping ratio? Gampangnya, itu perbandingan antara jumlah tanah yang harus dikeruk buat ngambil satu unit batu bara. Kalau makin tinggi, berarti makin banyak biaya yang keluar buat “buang” tanahnya, gaes. Ini bisa jadi beban operasional yang lumayan berat!
Eh, Tapi Pendapatan BUMI dari Penjualan Tetap Ngacir!
Walaupun laba bersih QoQ-nya ngerem, tapi dari sisi top-line pendapatan BUMI justru tetap naik +8% QoQ di Q1 2026! Ini disokong oleh:
- Kenaikan penjualan batu bara +8% QoQ.
- Kenaikan penjualan emas +5% QoQ.
Artinya, aktivitas penjualan BUMI masih kuat, Bro! Permintaan batu bara sama emas kayaknya masih stabil atau bahkan naik tipis.
Analisa Saham BUMI: Cermati Lebih Dalam!
Gimana nih menurut lu, Bestie? Performa BUMI di Q1 2026 nunjukkin dualisme: performa YoY yang positif banget, tapi QoQ yang agak melambat gara-gara faktor one-off dan biaya operasional. Investor perlu mencermati lebih lanjut data-data ini buat keputusan investasi. Tetap bijak ya, guys!

