Duel Internet Murah 100 Ribuan: Siapa Raja Cuan di Pasar Saham? (DATA, WIFI, MORA)
Gaes, dunia internet di Indonesia lagi heboh-hebohnya nih! Pemain internet murah harga Rp100 ribuan udah mulai pada gaspol di jalanan, siap bikin geger pasar. Ada DATA, WIFI, sama MORA yang lagi adu strategi buat narik hati pelanggan. Nah, kira-kira dari sisi saham, siapa sih yang paling bikin ngiler buat dilirik? Trus, gimana juga nih prospek bisnis mereka ke depan?
Kalo lu pada penasaran, yuk kita bongkar satu per satu biar gak salah pilih jagoan!
Highlights Penting yang Wajib Lu Tau!
- WIFI baru aja resmi komersialkan layanan internet murahnya, cuma Rp100 ribuan sebulan. Goks!
- DATA, udah lebih dulu jualan internet murah dari tahun lalu.
- Sementara itu, MyRepublic yang kini jadi bagian dari MORA, lagi tahap pre-registrasi buat layanannya.
Eits, ada bedanya nih! WIFI dan MORA jualan internet murahnya pake teknologi Fixed Wireless Access (FWA) 4G dengan frekuensi 1,4 GHz. Kalo DATA? Dia beda sendiri, lebih fokus pakai jaringan fiber optik yang terkenal stabil.
Frekuensi 1,4 GHz: Kunci Bikin Internet Murah Merata!
Nah, buat lu yang kepo kenapa internet murah dengan harga Rp100.000 sebulan dan kecepatan sampe 100Mbps bisa ada, kuncinya itu di pita frekuensi 1,4 GHz. Frekuensi ini emang jagoan banget buat bikin internet jadi lebih terjangkau dan merata di Indonesia.
Beberapa waktu lalu, frekuensi ini udah dilelang, dan ada dua pemain besar yang jadi pemenangnya. Ada PT Telemedia Komunikasi Pratama (anak perusahaan Surge/WIFI) sama Eka Mas Republik (pemilik MyRepublic, yang sekarang udah merger sama MORA).
Waktu lelang itu, ada tiga regional yang diperebutkan. Dan hasilnya, WIFI berhasil ngamanin Regional I, sementara MORA sukses bawa pulang Regional II dan III.
Ini dia detail pemenang lelangnya:
- Regional I: PT Telemedia Komunikasi Pratama (Surge/WIFI), dengan penawaran tertinggi Rp403,764 miliar.
- Regional II: PT Eka Mas Republik (MyRepublic), menang dengan penawaran tertinggi Rp300,888 miliar.
- Regional III: PT Eka Mas Republik (MyRepublic), menang dengan penawaran tertinggi Rp100,888 miliar.
FYI aja nih, para pemenang lelang ini berhasil ngalahin penawar lain, termasuk si raksasa Telkom, waktu seleksi yang diumumin sama Kementerian Komunikasi dan Digital beberapa waktu lalu.
Spektrum ini bakal mereka pakai selama 10 tahun ke depan buat ngebutin efisiensi dan jangkauan internet di wilayah Jawa (oleh WIFI) dan wilayah lainnya kayak Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan (oleh MyRepublic).
Bedah Saham WIFI: Internet Rakyat (IRA) Siap Gebrak!
Yuk, kita bedah lebih detail soal internet murahnya WIFI. Update terbaru, layanannya udah mulai jalan alias komersial belum lama ini, mantap jiwa!
Dengan brand IRA (Internet Rakyat), WIFI meluncurkan layanan internet pakai teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA) 1,4 GHz. Kecepatan aksesnya diklaim bisa sampe 100Mbps dengan harga maksimal Rp147 ribu sebulan. Paling asyik, ini unlimited alias tanpa batas kuota, plus gratis sewa modem dan pemasangan! Cihuy!
Peluncuran IRA ini didukung target eksekusi 5.500 site jaringan aktif yang akan live tahun ini, dengan target ngejangkau lebih dari 5 juta pelanggan di Region-1 (Jawa, Maluku dan Papua).
Potensi Pasar Gede di “Golden Zone”
Kalo ngomongin potensi pasar, Region-1 ini emang “golden zone” banget, bro. Kontribusinya sekitar 61 persen dari total rumah tangga di Indonesia. Dari total 73,9 juta rumah tangga secara nasional (data tahun lalu), sekitar 45 juta lebih rumah tangga itu ada di wilayah ini. Jadi, fokus ekspansi di sini itu sama aja kayak langsung nyamperin basis permintaan terbesar dan paling padat penduduknya.
Dari sisi infrastruktur, estimasi nunjukkin ada sekitar 55 ribu tower di Region-1 (data tahun lalu), yang tersebar di berbagai provider tower besar kayak Tower Bersama Group (TBIG), Centratama (CENT), Mitratel (MTEL), dan Sarana Menara Nusantara (TOWR).
Ketersediaan menara yang masif ini jadi enabler penting banget buat ngebutin deployment FWA. Kenapa? Karena operator gak perlu bangun dari nol, tinggal manfaatin tower yang udah ada buat mempercepat waktu pemasaran. Efisien banget kan?
Kinerja Keuangan & Strategi Agresif
Lanjut ke kinerja keuangan, sampe akhir September tahun lalu, struktur pendanaan WIFI nunjukkin kenaikan signifikan seiring ngebutnya ekspansi FTTH dan FWA. Total liabilitas berbunga naik dari Rp1,85 triliun jadi Rp3,16 triliun dalam kurun waktu beberapa bulan aja.
Kenaikan ini didorong banget sama lonjakan penerbitan obligasi dari Rp589,4 miliar jadi Rp2,59 triliun, sementara pinjaman bank malah turun. Pergeseran ini nunjukkin strategi refinancing dan optimalisasi pendanaan jangka menengah buat dukung belanja modal yang lebih agresif.
Dampaknya, beban bunga ikutan naik. Tapi, langkah ini justru bikin likuiditas dan kapasitas pendanaan perusahaan makin kuat. Gaspol terus!
Target Akuisisi LINK: Ambisi Gede!
Selain internet murah, WIFI juga lagi ada agenda buat ngikutin proses penawaran akuisisi LINK dari Axiata. Meskipun nilai transaksinya belum diumumin, tapi ini gede banget potensinya.
LINK sendiri punya jaringan yang lumayan kuat, dengan sekitar 4,4 juta home passes dan kurang lebih 1 juta home connects lewat brand XL Home (take-up rate sekitar 22%).
Kalo akuisisi ini berhasil dan WIFI bisa ningkatin take-up rate LINK sampe sekitar 50%, didukung paket internet 500 Mbps cuma Rp250 ribu per bulan, maka entitas gabungan ini berpotensi meraup pendapatan sekitar Rp13 triliun per tahun. Dengan asumsi margin EBITDA 60%, potensi EBITDA bisa sampe Rp8 triliun! Bikin ngiler gak tuh?
Tantangan yang Harus Diwaspadai
Tapi, ada tantangan juga nih buat WIFI. Biaya frekuensi yang harus dibayar bisa 3 kali lipat di tahun pertama. Ini bisa bikin margin keuntungan WIFI sedikit tertekan. Apalagi, mereka juga harus bangun ekosistem baru buat FWA 1,4 GHz, dan kalo kurs rupiah melemah, biayanya bisa makin bengkak.
Ditambah lagi, WIFI gak bebankan biaya sewa alat ke konsumen. Artinya, kalo gagal capai konversi yang optimal, risikonya cukup tinggi. Area persaingan di regional WIFI juga ketat banget. Dan skema prabayar bulanan mereka bisa bikin konsumen balik lagi ke fiber optik yang cenderung lebih stabil kalo ada kendala internet. Harus mikir strategi matang-matang nih!
Bedah Saham MORA: MyRepublic Air Meluncur!
Sekarang giliran MORA! Internet murah kedua yang udah mulai jalan itu MyRepublic Air, yang sekarang ada di bawah MORA setelah resmi merger akhir tahun lalu. Konsolidasi di industri ini makin panas!
Saat ini, MyRepublic Air masih dalam tahap pra-registrasi. Mereka nawarin layanan berbasis 5G FWA dengan kecepatan sampe 100 Mbps dan harga mulai dari Rp100 ribu per bulan. Produk ini diposisikan sebagai internet rumah tanpa batas kuota dengan kualitas setara fiber. Ini langkah awal MORA buat narik minat pasar di segmen mass market.
Dampak Merger MORA-MyRepublic
Ngomongin merger antara MORA dan MyRepublic, ini adalah fase baru konsolidasi industri fixed broadband di Indonesia. Integrasi ini ngegabungin kekuatan backbone nasional Moratelindo dengan basis pelanggan ritel MyRepublic.
Hasilnya? Terciptalah struktur bisnis yang terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari jaringan inti sampe last-mile ke rumah pelanggan. Skemanya cakep!
Secara skala infrastruktur, MORA ngoperasikan jaringan fiber optic backbone sepanjang lebih dari 57.000 kilometer yang terhubung langsung ke Singapura via jaringan internasional. Sementara itu, sampe September tahun lalu, MyRepublic udah ngelayanin lebih dari 1,5 juta pelanggan ritel, punya lebih dari 8,7 juta homepass, dan jaringan fiber optic yang juga lewatin 58.000 kilometer.
Dengan begitu, entitas hasil penggabungan diproyeksikan bakal ngelola lebih dari 116.000 kilometer jaringan fiber optic, dengan basis pelanggan ritel di atas 1,8 juta dan puluhan ribu pelanggan enterprise. Gede banget kan skalanya?
Kalo eksekusi integrasinya jalan optimal, MORA pasca-merger berpotensi jadi salah satu pemain fixed broadband terbesar di luar operator seluler. Sekaligus juga nguatkan posisinya dalam persaingan internet murah nasional. Wajib pantau!
Potensi Keuangan Pasca-Merger
Kinerja tahun lalu secara konsolidasi belum rilis, jadi kita coba hitung aja potensi pendapatan tambahan MORA dari MyRepublic.
Sampe September tahun lalu, pendapatan MORA tercatat Rp2,81 triliun dengan laba bersih Rp250 miliar. Kalo kita anualisasi sederhana, pendapatan bisa sekitar Rp3,7 sampe Rp3,8 triliun dan laba bersih sekitar Rp330 miliar.
Sementara itu, pendapatan segmen TV kabel, internet, dan teknologi DSSA yang merepresentasikan MyRepublic, sekitar US$153,80 juta atau sekitar Rp2,56 triliun, berpotensi jadi tambahan pendapatan setelah merger efektif.
Dari sisi laba, kontribusi MyRepublic saat ini masih negatif tapi skalanya relatif kecil dibanding laba MORA. Artinya, dampaknya ke laba bersih konsolidasi gak akan signifikan, cuma ngurangin sebagian kecil dari laba MORA.
Secara proforma, pendapatan konsolidasi bisa meningkat hampir 70 persen jadi sekitar Rp6,3 triliun! Sedangkan dari sisi laba bersih, efek awalnya cenderung netral atau bakal turun sedikit, tergantung perbaikan kinerja operasional MyRepublic pasca-integrasi. Kalo sinerginya optimal dan kinerja MyRepublic membaik, kontribusi laba ke depan bisa jadi katalis pertumbuhan buat MORA.
Bedah Saham DATA: Fokus Fiber Optik, Bukan FWA!
Terakhir, ada DATA. Dia juga pemain internet murah, tapi beda jalur sama WIFI dan MORA. Kalo yang lain fokus di FWA berbasis spektrum 1,4 GHz, DATA ini kekeh di pengembangan jaringan fixed broadband berbasis fiber optik. Ini yang bikin dia unik!
Perusahaan nunjukkin keseriusannya dengan tanda tangan MoU bareng vendor infrastruktur telekomunikasi kelas kakap kayak Huawei, CCSI, VOKS, KTER, Guangzhou V-Solution Telecommunication Technology, dan Kosmos Wavelength Technology. Tujuannya? Buat ngebutin ekspansi jaringannya. Jangka pendek, DATA targetin bangun 1 juta homepasses dengan 500 ribu home connect.
Saat ini, DATA udah ngoperasiin layanan fixed broadband lewat brand NEThome.id. Mereka nawarin paket 500 Mbps cuma Rp100 ribu dan 1 Gbps cuma Rp200 ribu. Goks banget kan harganya!
Layanan ini udah tersedia di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Karawang, dan beberapa wilayah sekitar Cirebon. DATA juga udah kerja sama sama Huawei buat ngadirin layanan internet kecepatan di atas 10 Gbps buat pelanggan residensial. Edan!
Ke depan, DATA nyiapin roadmap ekspansi agresif dengan target 5 juta homepasses dalam dua tahun dan sampe 25 juta homepasses dalam lima sampe sepuluh tahun mendatang. Sebagai catatan, homepasses itu jumlah rumah yang udah terjangkau jaringan fiber, sementara home connect itu pelanggan yang udah aktif berlangganan.
Kinerja Keuangan DATA
Dari sisi laporan keuangan, pasca diakuisisi sama Grup Djarum, DATA berhasil raih pendapatan sebesar Rp314,4 miliar, naik 26 persen di kuartal ketiga tahun lalu dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Cuan makin ngacir!
EBITDA yang dinormalisasi sebesar Rp144 miliar dengan margin EBITDA 46 persen dan laba bersih Rp65 miliar, naik tipis dari posisi tahun sebelumnya. Ini nunjukkin kinerja yang cukup sehat dan stabil.
Kesimpulan: Siapa Pemenang Duel Internet Murah Ini?
Nah, kalo ditarik ke kesimpulan, kemunculan paket internet Rp100 ribu per bulan ini bukan cuma strategi promosi biasa, tapi ini adalah fase awal konsolidasi dan transformasi industri broadband nasional. Game changer!
Kepemilikan spektrum 1,4 GHz jadi faktor pembeda utama karena bikin barrier to entry jadi tinggi dan memungkinkan ekspansi cepat lewat teknologi 5G FWA. Di sisi lain, pemain berbasis fiber optik kayak DATA tetep punya keunggulan dalam kualitas jaringan dan stabilitas jangka panjang. Artinya, persaingan gak cuma ditentukan sama harga, tapi juga kombinasi spektrum, skala infrastruktur, kekuatan modal, dan disiplin eksekusi. Lengkap banget!
Dari sisi saham, karakter ketiganya beda banget nih:
WIFI nawarin potensi pertumbuhan paling agresif dengan risiko leverage yang ikut meningkat.
MORA ada di posisi lebih defensif dengan fondasi backbone nasional dan potensi sinergi pasca-merger yang bisa memperbesar skala usaha secara signifikan.
Sementara itu, DATA hadir dengan pendekatan ekspansi fiber yang lebih terukur dan margin yang udah relatif sehat.
Pada akhirnya, pilihan kembali lagi ke profil risiko investor. Lu mau ngejar growth tinggi dengan volatilitas lebih besar, atau pilih jalur pertumbuhan yang lebih bertahap tapi stabil? Pilihannya di tangan lu, bro!
Internet Rp100 ribu ini bisa jadi titik balik penetrasi broadband Indonesia. Tapi dalam jangka panjang, yang bakal unggul bukan cuma yang paling murah, melainkan yang paling siap secara struktur bisnis, pendanaan, dan kemampuan mempertahankan kualitas layanan di tengah kompetisi harga yang makin ketat. Kualitas tetap nomor satu!
Jadi, gimana menurut kalian, gaes? Dari tiga pemain internet murah ini, mana nih yang paling bikin lu penasaran buat diinvestasiin? Yuk, kasih pendapat lu di kolom komentar!

