Inspirasi Investasi

Gelombang Rights Issue 2026 Makin Seru: 20 Emiten Ngantre, Mana yang Bikin Salfok?

Gaes, siap-siap! Gelombang aksi korporasi rights issue di tahun 2026 ini beneran lagi nge-gas parah. Bayangin aja, udah ada sekitar 20 emiten yang masuk daftar antrean buat ngadain aksi tambah modal ini. Dari puluhan itu, ada enam emiten baru yang ikut meramaikan, siap nyusul buat dapetin dana segar. Tapi, dari semua yang antre, siapa aja sih pemain utamanya, dan gimana prospeknya buat portofolio kita?

Daftar Emiten yang Lagi Siap-Siap Rights Issue, Ada Muka Baru!

Musim rights issue, atau yang biasa kita kenal sebagai aksi tambah modal lewat penerbitan saham baru, emang masih berlanjut sampai tahun ini. Data sampai 30 Maret 2026 nunjukkin ada 20 emiten yang punya rencana ini. Yang paling fresh from the oven, ada enam emiten baru yang baru muncul ke permukaan: WMUU, TOBA, RMKO, PYFA, RAAM, dan COCO.

Mayoritas emiten ini sebenernya udah dapet lampu hijau dari para investor lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Tapi, masalahnya, izin efektif dari OJK ini yang kadang bikin drama. Gara-gara ini, ada aja emiten yang jadwalnya auto mundur karena surat efektifnya masih nyangkut di OJK. Contohnya kayak kasus IRSX yang tadinya udah dijadwalin cum date di awal bulan, eh malah harus mundur jadwalnya karena kendala administrasi ini.

Yang paling update, CBRE udah gaspol ngerilis prospektus lengkap, termasuk jadwal dan harga pelaksanaan rights issue-nya. Selain itu, ada juga NINE, FUTR, dan AIMS yang masih dalam tahap diskusi internal atau perencanaan, tapi udah masuk radar pantauan kita.

Ngintip Lebih Dekat: Jurus Emiten Biar Dana Segar Gaskeun!

Nah, biar lu pada gak bingung, mari kita bedah satu per satu emiten yang lagi jadi sorotan, terutama yang baru-baru ini muncul dengan rencana rights issue-nya.

CBRE: Restrukturisasi Utang atau Ganti Pengendali?

Mulai dari CBRE. Meskipun kepastian izin efektif dari OJK belum bisa kita pegang, tapi jadwalnya udah mepet banget, tinggal ngitung bulan doang.

  • Cum date CBRE dijadwalin tanggal 26 Mei 2026. Ini artinya, kalau lu mau dapet Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), lu harus punya saham CBRE sebelum tanggal itu.
  • Setelah dapet haknya, investor yang mau nebus bisa cek tanggal perdagangan rights issue-nya di 4-10 Juni mendatang.
  • Berdasarkan prospektus, harga pelaksanaannya di rentang Rp100-Rp150 per lembar. Rasio rights issue-nya bikin melongo: setiap 90 saham lama, berhak nebus 253 saham baru.
  • Total saham baru yang dikeluarkan itu 12,75 miliar lembar, jadi dana segar yang bisa diraup maksimal sampe Rp1,91 triliun.

Kalau kita pakai asumsi harga pelaksanaan Rp100 aja, secara matematis, harga teoritisnya bisa di Rp280 dari harga terkini di Rp795 per saham. Ini artinya, risiko turunnya bisa lebih dari 60 persen! Gila, kan?

Ada hal penting nih dari aksi korporasi CBRE. Dua pemegang saham utamanya, Omudas (61%) dan Republik Capital (11%), malah milih buat gak eksekusi haknya dan ngalihin ke investor baru. Ini sinyal jelas banget kalau bakal ada perubahan kepemilikan di CBRE.

Sebagian besar rights-nya bakal diserap lewat mekanisme konversi utang jadi saham oleh beberapa pihak, kayak Hilong Shipping, Saga Investama Sedaya, Yafin Tandiono Tan, dan Superkrane, dengan total sekitar Rp924 miliar. Jadi, aksi ini lebih condong ke arah restrukturisasi neraca dibanding sekadar cari dana biasa.

Secara fundamental, ini sebenernya positif karena utang perusahaan bakal berkurang dan leverage jadi lebih baik. Perusahaan jadi punya napas lebih sehat. Tapi di sisi lain, dilusi yang terjadi itu super besar dan berpotensi banget menggerus kepemilikan investor lama secara signifikan, bahkan membuka peluang perubahan kontrol.

Dengan kondisi kayak gini, beli saham di harga Rp795 cuma buat ngejar rights jadi kurang mantap. Gampangnya, gak ada cuan instan yang bisa didapat, karena nanti harga sahamnya bakal disesuaikan buat “ngimbangi” keuntungan dari rights itu.

Ditambah lagi risiko penurunan harga dan perubahan kepemilikan, strategi ini jadi cukup berisiko kalau lu cuma ngarep cuan cepet. Lebih aman kalau kita nunggu harga sahamnya turun ke level yang lebih wajar, atau lihat dulu gimana pasar nyerap saham baru dan siapa yang beneran jadi pengendali setelah rights issue kelar. Kecuali buat yang udah punya harga modal di bawah Rp300, kemungkinan buat ikutan rights issue ini jadi cukup menarik karena bisa dapet diskon gede.

WMUU: Mode Penyelamatan Via Konversi Utang?

Lanjut ke WMUU. Mereka udah ngumumin rencana penambahan modal dengan target maksimal 6,10 miliar saham baru. Dana yang dihimpun ini tujuan utamanya buat memperbaiki struktur permodalan dan modal kerja. Pemegang saham pengendali (WMPP) juga berencana ambil bagian lewat skema konversi utang jadi saham (debt-to-equity swap). Jelas banget, ini artinya rights issue WMUU ini mode penyelamatan, bukan ekspansi.

Kalau pakai asumsi harga pelaksanaan di Rp50 per saham, dari posisi terkini di Rp62 per saham, harga teoritisnya bisa mencapai Rp58 per saham. Risiko penurunan masih moderat, sekitar 8 persenan.

Tapi, yang perlu diantisipasi, kalau harga jatuh dari level itu, karena secara historis saham ini udah pernah di papan pemantauan khusus (FCA) lama dengan rekor terendah di 9 perak. Setidaknya, kalau konversi utang ini sukses, neraca perusahaan bakal jadi jauh lebih sehat. Namun, ini baru langkah awal, karena pada akhirnya kemampuan mencetak laba tetap jadi faktor utama buat menopang valuasi ke depan.

Saat ini, statusnya masih nunggu restu RUPSLB pada 2 April 2026 dan belum dapet pernyataan efektif OJK.

TOBA: Nge-gas ke Bisnis Ijo, Tapi Koq Rugi?

TOBA juga berencana ngadain rights issue dengan nerbitin sebanyak-banyaknya 1,39 miliar saham baru. Dana dari aksi korporasi ini bakal difokusin buat mendukung transisi energi perusahaan, khususnya pengembangan ekosistem kendaraan listrik lewat Electrum, serta proyek energi terbarukan dan pengelolaan limbah. Saat ini, rencana tersebut masih nunggu persetujuan RUPSLB yang dijadwalin 16 April 2026.

Harga pelaksanaan rights issue-nya emang belum ditentuin. Tapi, kalau diasumsiin pakai harga sekitar Rp300 per saham, atau diskon sekitar 50% dari harga pasar terbaru per 30 Maret 2026 di Rp595, potensi dana segar yang bisa dihimpun itu sekitar Rp417 miliar.

Secara sederhana, aksi ini juga bakal nekan harga saham secara teoritis. Dengan asumsi jumlah saham lama sekitar 8,38 miliar lembar (estimasi dilusi 14,23%), maka harga teoritis setelah rights (TERP) bisa kita hitung kayak gini:

  • Nilai saham lama: 8,38 miliar × Rp595 = Rp4,99 triliun
  • Nilai saham baru: 1,39 miliar × Rp300 = Rp417 miliar
  • Total nilai: Rp5,41 triliun
  • Total saham setelah rights: 9,77 miliar lembar

Sehingga, harga teoritisnya di kisaran Rp553 per saham. Ini berarti potensi penurunan harga sekitar 7% dari level saat ini, tergolong relatif moderat dibanding rights issue dengan dilusi gede.

Secara keseluruhan, dibanding rights issue dengan dilusi ekstrem, aksi TOBA ini kelihatan lebih “sehat” karena dilusinya relatif kecil dan tujuan penggunaan dananya cukup jelas, yaitu buat ekspansi bisnis yang lagi dibangun.

Tapi, investor tetap perlu cermatin harga pelaksanaan final dan eksekusi penggunaan dana, karena dua hal itu bakal nentuin banget apakah rights issue ini beneran nambah nilai atau cuma sekadar nambah jumlah saham beredar. Apalagi perlu dicatat, setelah masuk bisnis “sampah jadi energi”, TOBA malah rugi US$162 juta (sekitar Rp2,7 triliun) pada tahun buku 2025, padahal tahun sebelumnya masih laba.

RMKO: Modal Kerja Buat Bisnis Tambang Makin Gaspol!

RMKO juga berencana ngadain rights issue dengan nerbitin maksimal 512 juta saham baru, atau sekitar 29,06% dari total modal setelah aksi korporasi. Dana yang dihimpun dari aksi ini bakal difokusin buat memperkuat modal kerja serta mendukung pengembangan infrastruktur jasa kontraktor tambang, termasuk ekspansi layanan dan peningkatan kapasitas operasional.

Sampai sekarang, belum ada info soal pembeli siaga (standby buyer), dan pelaksanaannya masih nunggu persetujuan RUPSLB yang dijadwalin 8 April 2026.

Secara fundamental, rights issue RMKO ini tergolong cukup jelas tujuannya: buat dukung operasional dan ekspansi bisnis, bukan buat restrukturisasi utang besar atau perubahan kepemilikan. Seluruh dana bakal dipake buat modal kerja dan pengembangan usaha, yang diharapkan bisa ningkatin likuiditas serta memperkuat struktur permodalan perusahaan.

Dari sisi bisnis, RMKO sendiri di sektor jasa penunjang pertambangan dengan model usaha terintegrasi, mulai dari pembangunan infrastruktur tambang, penyewaan alat berat, sampe jasa hauling batubara. Perusahaan juga punya keunggulan berupa integrasi dengan ekosistem grup RMK, termasuk akses ke hauling road dan jaringan logistik batubara, yang jadi faktor penting buat efisiensi operasional.

Prospeknya ke depan cukup menarik, apalagi RMKO lagi di fase ekspansi dan peningkatan utilisasi aset. Perusahaan nargetin peningkatan volume angkutan dan aktivitas operasional seiring nambahnya klien baru serta optimalisasi infrastruktur yang udah ada. Sinergi dengan grup juga jadi katalis penting buat dorong pertumbuhan volume dan pendapatan ke depan.

Namun demikian, ada beberapa hal yang tetap perlu kita perhatiin:

  1. Dilusi yang mencapai sekitar 29% tergolong cukup besar buat pemegang saham yang gak ikut rights.
  2. Belum adanya pembeli siaga bikin tingkat kepastian penyerapan rights masih bergantung pada minat pasar.
  3. Karena dana digunain buat modal kerja, dampaknya terhadap peningkatan laba biasanya gak langsung kerasa, tapi bertahap ngikutin pertumbuhan volume bisnis.

PYFA: Go Internasional atau Ngutang Lagi?

Selanjutnya ada PYFA yang lagi ngejalanin rencana ekspansi ambisius lewat rights issue dengan nerbitin hingga 5,70 miliar saham baru. Dana yang dihimpun bakal digunain buat danai akuisisi strategis pabrik milik Mayne Pharma di Australia dengan nilai sekitar US$90 juta atau setara Rp1,4 triliun.

Buat ningkatin daya tarik, PYFA juga nyertain waran sebagai insentif tambahan buat investor, serta ngebuka peluang keterlibatan investor strategis sebagai pembeli siaga biar transaksinya lancar. Saat ini, rencana tersebut masih nunggu persetujuan RUPSLB yang dijadwalin 22 April 2026.

Kalau aksi ini sukses, PYFA bakal naik kelas, dari perusahaan farmasi yang fokus di pasar domestik jadi perusahaan multinasional. Dengan punya pabrik di Australia, PYFA secara otomatis punya basis operasional di luar negeri. Tapi, ngelola bisnis lintas negara itu ada tantangan sendiri, mulai dari beda regulasi, mata uang, sampe manajemen sumber daya manusia di Australia.

Dalam jangka panjang, kalau integrasinya mulus, pendapatan dari pasar internasional diharapkan bisa dongkrak laba bersih PYFA secara signifikan karena margin produk farmasi di pasar global (kayak Australia dan AS) biasanya lebih tinggi daripada pasar domestik.

RAAM: Bikin Bioskop di Pelosok, Strategi Anti-Mainstream!

RAAM juga berencana rights issue dengan nerbitin maksimal 1,36 miliar saham baru (20% modal) buat danai produksi konten kreatif dan penyertaan modal ke anak usaha buat bangun 50 bioskop baru (Platinum Sinema). Ini strategi unik banget!

Beda sama kompetitor gede yang fokus di mall-mall elit kota metropolitan, strategi RAAM lewat Platinum Cineplex adalah ngelakuin penetrasi ke wilayah yang belum terjamah. Dengan bangun 50 bioskop baru, RAAM pengen:

  • Menguasai Pangsa Pasar Lokal: Memperluas jangkauan distribusi film hasil produksi sendiri (integrasi vertikal).
  • Pendapatan Berulang (Recurring Income): Selain dari penjualan tiket, ekspansi bioskop ningkatin pendapatan dari sektor makanan dan minuman (F&B) serta iklan di area bioskop.

Saat ini belum ada pembeli siaga yang dipublikasiin secara resmi, dan statusnya masih nunggu RUPSLB pada 5 Mei 2026.

Gimana Sih Kita Nyikapin Gelombang Rights Issue Ini?

Gaes, gelombang rights issue yang lagi rame ini emang bikin pasar jadi dinamis banget. Ada yang niatnya restrukturisasi utang, ada yang mau ekspansi besar, macem-macem deh. Penting banget buat kita sebagai investor tetep kritis dan ngelakuin analisis mendalam sebelum memutuskan buat ikut atau gak.

Jangan mudah tergiur sama diskon atau janji manis doang. Cermati baik-baik tujuan rights issue-nya, potensi dilusi ke saham kita, dan terutama, siapa yang bakal jadi pengendali baru atau gimana prospek bisnis perusahaan setelah dapet dana segar. Ingat, investasi itu butuh riset, bukan cuma ikut-ikutan!

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x