Bakrie Group Geger! DEWA Dividen Perdana, BUMI & BRMS Lirik Emas, Mana yang Paling Gaspol?
Gercep banget nih Bakrie Group! Narasi dan aksi korporasi dari emiten-emiten mereka lagi rame banget diomongin. Dari DEWA yang tiba-tiba bagi dividen perdana, sampai kabar BUMI nge-divestasi bisnis emasnya biar dikelola BRMS. Kira-kira, gimana nih prospeknya ke depan? Dan siapa yang paling bikin investor penasaran?
DEWA Bikin Kejutan: Dividen Perdana Setelah 19 Tahun!
Yuk, kita bedah dulu dari DEWA. Perusahaan kontraktor tambang asal Grup Bakrie ini baru aja bikin heboh investor. Setelah 19 tahun nge-chill di bursa, DEWA akhirnya bagi dividen tunai perdana sebesar Rp58,6 miliar!
Angka segitu setara dengan dividen payout ratio (DPR) 11,4 persen dari laba inti tahun 2025, atau Rp1,5 per saham. Kalau dihitung dari harga saham Rp286 per lembar, yield-nya sekitar 0,52 persen. Emang sih, nilainya terbilang “mini” alias kecil, tapi ini wajar banget karena ini pertama kalinya dan perusahaan masih butuh dana buat ekspansi alias nge-gas.
Tapi, pembagian dividen perdana ini sinyal penting, lho! Artinya, DEWA ini mulai masuk fase yang lebih matang dan udah mulai “peduli” sama pemegang sahamnya.
Kenapa DEWA Bisa Bagi Dividen Mini tapi Makna Besar?
Ada dua alasan utama kenapa DEWA akhirnya berani bagi dividen tahun ini:
1. Laba Ciamik di Tahun 2025
Sepanjang tahun lalu, DEWA berhasil raih laba bersih Rp4,3 triliun, gila ini sih, melonjak 80 kali lipat dibanding perolehan tahun 2024 yang cuma Rp55 miliar! Mayoritas laba ini emang dari negatif goodwill Rp4,5 triliun yang sifatnya one-off. Ini didapat dari akuisisi Gayo Mineral Resources (GMR), perusahaan tambang emas dan tembaga di Aceh, lewat anak usahanya, Mahadaya Imajinasi Nusantara (MIN).
Gini, DEWA beli 99,75% saham GMR seharga Rp844 miliar. Padahal, nilai aset bersih GMR itu sekitar Rp6,7 triliun. Nah, selisih antara nilai aset yang didapat dan harga akuisisinya ini diakui sebagai negative goodwill, yang otomatis bikin laba DEWA melonjak drastis tahun itu.
Tapi, jangan salah. Core bisnis DEWA di tahun 2025 juga nunjukkin pertumbuhan signifikan. Laba inti (underlying profit) di luar negative goodwill tadi tercatat Rp573 miliar, naik lebih dari 8 kali lipat dibanding Rp65 miliar di tahun 2024. Pendapatan perusahaan juga naik 6 persen secara tahunan (yoy) jadi Rp6,39 triliun. Nggak kaleng-kaleng!
2. Kesuksesan Restrukturisasi
Keberanian DEWA bagi dividen juga nggak lepas dari langkah restrukturisasi yang sukses, bos! Beberapa poin pentingnya: konversi utang jadi modal Rp1,4 triliun, rasio utang membaik (DER turun dari 1,69 kali di 2024 jadi 0,76 di 2025), dan nambah armada alat berat sendiri. Ditambah lagi, sinergi sama Grup Bakrie makin kuat, termasuk perpanjangan kontrak gede dengan Arutmin senilai Rp10,5 triliun sampai masa tambang habis.
Jadi, meskipun dividen perdananya masih kecil, ini sinyal kuat kalo DEWA lagi bertransformasi jadi perusahaan yang lebih matang, profitable, dan mulai peduli sama pemegang saham.
FYI aja nih, aksi bagi dividen ini udah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tanggal 29 Juni 2026, dan jadwal pembayarannya 31 Juli 2026. Setelah ini, rumor bilang DEWA bakal ngawal IPO dari PT Gayo Mineral Resources (GMR) yang udah diakuisisi tahun lalu. Gokil!
BUMI Lepas Emasnya ke BRMS: Biar Fokus, Biar Gacor!
Sekarang kita beralih ke emiten Bakrie Group lainnya. BUMI baru aja ngumumin kalo mereka udah nge-divestasi sekitar 3,03 persen saham PT Citra Palu Minerals (CPM) ke BRMS senilai US$9,2 juta.
Ini transaksi afiliasi ya, soalnya BUMI itu punya 20,09 persen saham BRMS. Setelah divestasi ini, BRMS sekarang jadi nguasain 99,99 persen saham Citra Palu Minerals (sisanya punya PT Internasional Minerals Cakrabuana).
BUMI jelasin, divestasi ini dilakukan biar mereka bisa lebih fokus ngembangin aset-aset baru yang baru diakuisisi (kayak tambang emas dan tembaga di Australia). Sementara itu, CPM bisa dikelola dan dikembangin lebih fokus sama BRMS sebagai perusahaan pure-play gold & mineral company. Strategi yang lumayan jitu!
Setelah transaksi, BRMS kini hampir sepenuhya ngontrol CPM, salah satu tambang emas terbesar Grup Bakrie yang beroperasi di area Poboya, Palu, Sulawesi Tengah. Tambang ini punya cadangan emas mencapai 34,1 juta ton, setara dengan cadangan logam sekitar 3,5 juta troy ons emas, dan lagi dalam fase produksi/ekspansi. Diproyeksikan beroperasi sampai 2050, dengan pengembangan tambang emas bawah tanah yang diharapkan bisa produksi 2,8 juta ons emas selama umur tambangnya.
Didukung cadangan emas yang gedhe, tren positif pertumbuhan produksi emas BRMS diprediksi masih akan terjaga. Manajemen targetin produksi bisa capai 80.000 troy ons di tahun 2026, naik sekitar 11,3% dibanding realisasi produksi tahun 2025 yang sebesar 71.886 troy ons. Sebelumnya, sepanjang 2025, BRMS udah produksi 71.886 troy ons emas, naik sekitar 10,6% dibandingkan produksi 2024 yang mencapai 64.983 troy ons. Target ini nunjukkin perusahaan masih optimis bisa jaga tren pertumbuhan produksinya.
Selain itu, BRMS juga lagi ngebut nyelesaiin perluasan Pabrik 1 CIL (Carbon-in-Leach) dari kapasitas 500 ton bijih per hari jadi 2.000 ton bijih per hari. Dampak penuh dari perluasan ini dijadwalin nyokong pertumbuhan volume produksi di semester kedua 2026. Konstruksi tambang bawah tanah di Blok 1 Poboya juga terus dikebut (pembangunan paste plant dan penggalian lateral). Fase penambangan bawah tanah ini ditargetkan mulai beroperasi penuh di tahun 2027. Keunggulannya, kadar emas di sana jauh lebih tinggi (rata-rata 4,9 gram per ton) dibanding metode tambang terbuka (open pit) yang saat ini berkisar di 1,4-1,5 gram per ton. Makin gacor kan!
BUMI Mau Cuan dari Non-Batu Bara? Strategi Baru Makin Jauh!
Balik lagi ke BUMI. Aksi divestasi CPM ke BRMS ini sebenernya bagian dari strategi pengelolaan aset biar lebih efisien. Soalnya, BRMS emang punya keahlian yang lebih kuat dalam ngelola bisnis tambang emas di Indonesia.
Dengan langkah ini, BUMI bisa lebih fokus ngembangin portofolio bisnis non-batu bara, khususnya aset-aset di luar negeri. Strategi ini juga sejalan sama komitmen manajemen buat ningkatin kontribusi pendapatan dari bisnis non-batu bara hingga 50 persen dari total pendapatan di tahun 2031. Ambisius banget!
Sebagai pengingat aja nih, tahun lalu BUMI udah agresif akuisisi aset emas dan tembaga di Australia:
- Akuisisi Wolfram Limited, perusahaan tembaga dan emas senilai Rp699 miliar dengan 100 persen kepemilikan. Transaksi selesai November 2025.
- Akuisisi Jubilee Metals Limited, perusahaan emas senilai Rp347 miliar dengan kepemilikan 64,98 persen. Transaksi sudah selesai Desember 2025.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi BUMI keluar dari batu bara menuju mineral lain (emas, tembaga, dll), dengan target EBITDA 50:50 antara batu bara dan non-batu bara di tahun 2031. Gila, serius banget nih BUMI mau banting setir!
Jadi, Gimana Prospek Saham Grup Bakrie Ini?
Intinya, Grup Bakrie lagi aktif banget nata ulang portofolio bisnisnya. DEWA mulai bagi dividen perdana sebagai sinyal perbaikan fundamental, sementara BUMI nge-divestasi aset emasnya ke BRMS biar pengelolaan bisnis jadi lebih fokus sesuai keahlian masing-masing. Berbagai langkah ini nunjukkin strategi grup buat ningkatin efisiensi sekaligus perkuat pertumbuhan jangka panjang di sektor pertambangan.
Tapi, muncul satu pertanyaan nih, bikin galau. Kalo fundamental dan arah bisnisnya mulai membaik, kenapa harga saham emiten-emiten Grup Bakrie ini masih belum banyak gerak dan cenderung tetap lesu? Ini yang bikin pusing tujuh keliling.
Sebenernya, tantangan paling utama yang menerpa saham DEWA, BUMI, dan BRMS ini lebih banyak karena risiko pasar. Secara makro, belum bisa dibilang ekonomi baik-baik aja, masih ada kekhawatiran soal fiskal dan moneter, terutama tren suku bunga yang naik lebih cepat dari perkiraan. Ngeri-ngeri sedap lah pokoknya.
Secara teknikal juga, trennya relatif mirip, semuanya lagi turun dan belum kelihatan adanya akumulasi yang signifikan. Seiring dengan tren turun, risiko outflow juga masih membayangi akibat review MSCI yang masih berlanjut sampai November 2026. BUMI dan BRMS masih masuk konstituen MSCI, sementara DEWA belum, tapi efek satu grup ini saling berkaitan satu sama lain.
Namun, di balik penurunan harga saham itu, sebenernya peluang juga masih ada, karena narasi masih on track dengan sederet aksi korporasi yang dilakuin, seperti pembagian dividen DEWA, akuisisi tambang emas, tembaga, dan lainnya. Hanya saja, pelaku pasar masih belum banyak merespon itu karena risiko pasar dan teknis masih mendominasi. Ketika nanti kondisi ekonomi membaik dan outflow udah mereda, harusnya harga saham akan kembali pulih.
PR-nya kita belum bisa nentuin seberapa jauh bottom ini akan tersentuh. Jadi, strategi cicil beli bertahap lebih bijak dilakukan, sambil tetap sedia cash buffer buat jaga-jaga beli dengan porsi lebih banyak di posisi harga yang lebih bawah. Ini penting banget biar nggak nyesel kemudian.
Jadi, gimana menurut lu pada, paling menarik lirik saham DEWA, BUMI, atau BRMS? Atau malah ketiganya?

