Inspirasi Investasi

Saham-Saham Geger Akuisisi Juli 2026: Intip Potensi & Strateginya, Bro!

Aksi korporasi itu macem bumbu rahasia yang bikin pergerakan saham jadi makin seru. Nah, di sepanjang Juli 2026 ini, ada lima saham yang auto jadi sorotan publik. Tiga di antaranya lagi digoyang isu perubahan pengendali, sementara dua lainnya justru agresif ngakuisisi perusahaan lain buat nge-gas bisnisnya. Siapa aja nih mereka? Langsung aja kita bedah satu per satu, biar lu nggak kudet!

MBSS: Siapa Dalang di Balik Akuisisi Gede Ini?

Kabar gila datang dari saham MBSS. Pengendali MBSS, yaitu PT Galley Adhika Arnawama yang merupakan bagian dari Grup Daidan, udah teken CSPA (Conditional Sale and Purchase Agreement) buat ngelepas 82,5 persen sahamnya ke PT Wibowo Group Capital. Gila sih porsinya, hampir semua!

Wibowo Group Capital: Misteri yang Mulai Terkuak

Pertanyaan gede langsung muncul: emang siapa sih Wibowo Group Capital ini? Setelah kita intip sana-sini, ada potensi kuat kalo Wibowo Group Capital ini bagian dari Grup Gandasari, yang didirikan oleh bapak Andy Wibowo. Grup Gandasari ini bukan kaleng-kaleng, bro. Mereka punya beberapa bisnis tambang, mulai dari bauksit sampai batu bara lewat PT Gandasari Resources dan PT Alfa Granitama. Nggak cuma itu, bisnis perkapalannya juga jago, dari armada sampai galangan kapal. Kalo beneran nyambung ke Gandasari, berarti MBSS bisa dapet suntikan darah baru yang kuat banget di sektor logistik maritim.

Kira-Kira Harga Dealnya Berapa, Ya?

Kalo ngomongin akuisisi, pasti penasaran dong sama harganya? Coba kita tengok historisnya. Grup Daidan dulu beli 82 persen saham MBSS di harga Rp660 per saham. Komposisinya, Daidan beli dari pengendali 76 persen, sisanya dari MTO (Mandatory Tender Offer). Total modal yang mereka keluarin sekitar Rp952 miliar. Nah, sebelumnya lagi, 51 persen saham MBSS juga pernah dilepas PT Patin Resources dkk ke Grup INDY di harga Rp1.630 per saham. Jadi, patokan harganya lumayan bervariasi. Kira-kira kali ini berapa ya? Kita tungguin aja, jangan sampai ketinggalan info!

AGAR: Bakal Jadi Jagoan Cat Kapal Nasional?

Saham AGAR juga nggak mau kalah! Mereka ngumumin kalo pemegang saham pengendali lagi negosiasi buat ngejual 51 persen sahamnya ke Suprajitno Sutomo. Ini dia nih yang seru!

Sosok Suprajitno dan Jejak Bisnis Catnya

Siapa sih Suprajitno Sutomo ini? Ada potensi kuat kalo beliau ini terafiliasi dengan PT Pacific Dwiyasa Paint (PDP). Nggak cuma itu, beliau juga tercatat sebagai Presiden Direktur dari PT Multipro Paint Indonesia. Nah, yang bikin makin menarik, Suprajitno ini juga sosok yang mengakuisisi PT Multipro Paint Indonesia dari AVIA di tahun 2025 lalu. Bisnisnya PT Multipro Paint Indonesia itu fokus ke manufaktur dan perdagangan besar cat pelindung serta cat kapal laut dengan merek Admiral. Jadi, ada kemungkinan besar aksi Suprajitno ngakuisisi AGAR ini buat menyuntikkan aset-aset dari PT Multipro Paint Indonesia tersebut. Kalo beneran, AGAR auto jadi pemain gede di industri cat, terutama cat kapal!

ASPI: Drama Akuisisi Berulang, Tapi Kali Ini Gandasari Ikut Campur?

ASPI juga lagi digoyang isu perubahan pengendali. Pengendali mereka lagi negosiasi sama PT GMP Group Investama buat ngambil alih 51 persen saham. Tapi, ini bukan kali pertama ASPI jadi target akuisisi, bro.

Jejak Gandasari Grup di Balik GMP Group?

Sebelumnya, ASPI sempat mau diakuisisi sama PT Hua Yan New Energi dengan porsi yang sama. Tapi, transaksi itu batal di semester I/2026. Nah, sekarang muncul PT GMP Group Investama. Yang bikin kita penasaran, pas kita telusuri PT GMP Group, mereka punya direktur bernama Desvriany Susilo. Setelah kita kepoin lagi, sosok ini juga ternyata Financial Budget Controller di PT Gandasari Group Investama—perusahaan yang kita cek ada keterkaitan sama transaksi akuisisi MBSS tadi, yang jelas-jelas di bawah Grup Gandasari. Walaupun ini masih dugaan dengan probabilitas tinggi, Grup Gandasari sendiri punya area bisnis di Banyuasin, Sumatra Selatan, yang kebetulan jadi alamat PT GMP Group Investama. Di sana, mereka punya anak usaha PT Gandasari Musi Perkasa yang bisnisnya di fasilitas dermaga atau pelabuhan. Cocoklogi atau memang ada benang merahnya? Ini sih kudu dikonfirmasi lebih lanjut ya!

BREN: Gaspol Mau Jadi Raksasa Panas Bumi Asia Tenggara?

Jangan kaget! Saham BREN juga bikin gebrakan dengan rencana akuisisi perusahaan panas bumi di Filipina, yaitu Energi Development Corp. Valuasinya ditaksir gila-gilaan, sekitar US$5 miliar! Pihak BREN sendiri udah ngakuin kalo mereka udah kasih penawaran buat aksi akuisisi ini.

Energi Development Corp (EDC): Siapa Dia & Seberapa Besar?

Dari keterbukaan Energi Development Corp, penawaran ini masih tahap awal dan belum bersifat mengikat. Tapi, yang jelas, EDC ini bukan perusahaan ecek-ecek, bro. Mereka adalah perusahaan energi baru terbarukan terbesar di Filipina dengan fokus utama di panas bumi. Selain itu, portofolio mereka juga ada pembangkit energi terbarukan lain kayak tenaga air, angin, dan surya. Skala pembangkit panas bumi mereka mencapai 1,3 GW di 16 situs berbeda. Ini jelas lebih gede dari BREN yang saat ini baru 926 MW. Kalo transaksi akuisisi ini beneran jadi, BREN bisa auto jadi salah satu perusahaan panas bumi paling jumbo di Asia Tenggara. Gila sih, nggak kaleng-kaleng ambisinya!

Waspada Risiko Utang, Jangan Gas Terus Tanpa Mikir!

Meskipun potensi pertumbuhan BREN bakal meledak, investor juga wajib banget merhatiin efeknya ke risiko keuangan. Dengan nilai transaksi yang super jumbo, gimana nanti sama risiko utang BREN? Catatannya, Debt to Equity Ratio (DER) BREN terakhir udah tembus 3,04 kali, ini lumayan tinggi lho. Tapi, dari segi Interest Coverage Ratio (ICR), masih aman di 3,81 kali. Untungnya, BREN juga baru aja dapet fasilitas pinjaman tambahan US$300 juta dari Bangkok Bank, dananya buat proyek panas bumi baru di Suoh Sekincau (Sumatra) dan Hamiding (Maluku). Utang ini tenornya sampai 5 tahun ke depan dengan jaminan saham SEGPL, SEGNBV, dan DGA SEG. Jadi, tetep ada kalkulasi matang di balik setiap langkah mereka.

MAPA: Gercep Ekspansi Toko ke Negeri Tetangga!

Nggak cuma BREN, MAPA juga nggak mau ketinggalan momentum. Mereka memperluas bisnisnya dengan ngakuisisi Direct Malaysia Sdn. Bhd. senilai Rp2,5 triliun. Ini langkah cerdas banget, bro!

Ada Harga Premium di Balik Deal Ini?

Dengan akuisisi ini, MAPA auto ekspansi operasional toko Sports Direct dan USC di luar Indonesia. Mereka dapet hak buat buka dan ngelola gerai Sports Direct dan USC di Indonesia plus beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Ini berpotensi banget buat ngejaga ruang pertumbuhan kinerja keuangannya di tengah tantangan daya beli masyarakat Indonesia yang lagi melemah. Jadi, pas banget strateginya! Tapi, ada beberapa catatan menarik dari aksi akuisisi ini. Pertama, MAPA beli Direct Malaysia Sdn. Bhd. di harga premium. Kalo menurut KJPP (Kantor Jasa Penilai Publik), nilai pasar 100 persen sahamnya setara 511,65 juta Ringgit, tapi nilai transaksinya sekitar 605 juta Ringgit. Lumayan selisihnya. Kedua, dalam simulasi pro-forma, dampak akuisisi ini belum terlalu kelihatan di kinerja MAPA. Tapi, kalo diitung berdasarkan kinerja Direct Malaysia sendiri, rata-rata tahunan laba bersihnya sekitar Rp200-an miliar. Artinya, ada potensi dorongan ke kinerja MAPA sekitar 10-11 persen pasca-akuisisi ini. Mantap jiwa!

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x