Saham Bakrie Ngebut Parah Juli 2026: Masih Ada Cuan? Analisis Lengkap Biar Gak Ketinggalan Kereta!
Lu pada pasti udah liat kan, saham-saham grup Bakrie belakangan ini lagi gaspol banget di Juli 2026? Modal seratus juta aja bisa balik puluhan juta. Bikin mata melek, cuy! Tapi, ini cuma euforia sesaat atau emang ada momentum yang bisa kita gebuk terus? Jangan cuma denger kata orang, yuk kita bedah satu-satu biar tau prospeknya ke depan gimana, plus apa aja yang bikin saham-saham ini jadi sorotan.
Gerilya Cuan Saham Bakrie: Analisis Mendalam Juli 2026
Dari data yang kita tarik sampai 24 Juli 2026, mayoritas emiten Grup Bakrie emang lagi pada pamer otot. Hampir semua naik double digit persentase, bahkan ada yang nyaris 40% kayak DEWA dan VKTR! Kecuali BRMS yang masih kalem, lainnya udah pada terbang.
Kenaikan kenceng ini bukan cuma hoki doang. Saham-saham ini sebelumnya udah anjlok parah dari awal tahun, jadi wajar kalo ada rebound. Ditambah lagi, emiten-emiten ini lagi gencar-gencarnya ekspansi sama restrukturisasi internal. Penasaran gimana nasibnya masing-masing? Yuk, kita bedah satu-satu!
DEWA: Dari Diskon Parah ke Momen Cuan Dividen?
Saham DEWA ini paling ngebut, sob! Sebelum naik, harganya udah terjun bebas hampir 70% dari puncak awal tahun, mentok di Rp250 per saham di awal Juni 2026. Valuasinya sempet di bawah rata-rata lima tahun, alias lagi diskon parah banget di PBV 1 kali.
Sekarang, harganya udah naik ke PBV 2,29 kali. Tapi santai dulu, posisinya masih di bawah rata-rata lima tahunan. Jadi, secara valuasi masih keliatan murah.
Tapi inget, karena udah naik hampir 40% dalam sebulan, risiko taking profit makin gede. Secara teknikal, posisinya udah di area resistance. Ada potensi koreksi sehat dulu ke support Rp386.
Secara fundamental, DEWA juga makin oke. Tahun ini, mereka berani bagi dividen pertama kali sejak IPO 2007! Walau yield-nya masih mungil 0,52% (Rp1,5 per lembar), ini bukti komitmen buat bagi-bagi cuan ke investor.
Laba 2025 DEWA juga gila, melonjak 80 kali lipat jadi Rp4,3 triliun dari Rp55 miliar di tahun sebelumnya. Emang sih, sebagian besar dari negative goodwill, tapi bisnis intinya (core business) juga tumbuh signifikan dari Rp65 miliar ke Rp573 miliar.
DEWA juga makin efisien:
- Melakukan debt to equity swap Rp1,4 triliun, biar modal makin sehat.
- Menurunkan beban utang lewat pelunasan syndicated loan dan berbagai pinjaman lain.
- Rasio DER anjlok signifikan dari 1,69x ke 0,76x, mantap!
- Meningkatkan efisiensi operasional dengan lebih banyak pakai alat berat sendiri dan mengurangi ketergantungan pada subkontraktor.
Ekspansi juga jalan terus, Bro. DEWA baru aja bikin tiga anak usaha baru:
- PT DH Listrik: Fokus di bisnis ketenagalistrikan dan pengembangan pembangkit energi.
- PT DH Infrastruktur: Dibentuk buat garap berbagai proyek infrastruktur komersial.
- PT DH Arunika Hospitality: Jadi kendaraan buat ekspansi ke sektor perhotelan dan bisnis akomodasi.
Bisnis utama DEWA sebagai kontraktor tambang juga masih jalan. Yang menarik, tahun ini mereka dapet kontrak jumbo Rp22 triliun dari PT Sebuku Sejaka Coal buat lima tahun ke depan. Proyek ini dari luar grup BUMI, yang nunjukkin risiko ketergantungan terhadap grup bisa dikurangi. Potensi pendapatan dari kontrak ini bisa mencapai Rp7,9 triliun per tahun. Gila!
VKTR: Si Jagoan EV, Hati-hati Rights Issue!
Berikutnya, ada saham VKTR, emiten grup Bakrie yang fokus bisnisnya di ekosistem kendaraan listrik (EV) komersial, khususnya bus listrik, truk listrik, serta penyediaan infrastruktur pendukungnya. Lagi ngetren banget, kan?
Momentum aksi korporasi rights issue dari VKTR ini masih berjalan, dengan jadwal cum date pada 28 Juli 2026 mendatang. Dengan asumsi harga terkini di Rp770 dan harga pelaksanaan di Rp50, harga teoritis bisa ke Rp508 per saham. Artinya, ada risiko koreksi sampai 34% pas ex-date!
Menurut gw, buat ngejar harga sekarang demi rights issue rasanya udah gak terlalu worth it. Apalagi terhitung per Jumat hari ini (24/7/2026) cuma tersisa tiga hari perdagangan aktif aja sampai cum date, dengan risiko volatilitas juga tinggi. Kecuali, jika lu punya mental yang kuat hadapi volatilitas, potensial buat scalping masih terbuka.
Adapun, secara teknikal, menurut kami koreksi yang terjadi hari ini masih terbilang wajar, tetapi masih berada di dekat resistance Rp910. Masih ada potensi koreksi menuju support terdekat di Rp690.
ENRG: Minyak Ngacir, Rights Issue Siap Sikat!
Saham ENRG juga masih punya momentum aksi rights issue, yang akan berlangsung pada Agustus mendatang. Tipe pergerakan harga saham yang mau melakukan aksi korporasi biasanya masih ada peluang naik, tetapi risiko volatilitasnya juga tinggi.
Menurut kami rights issue ENRG punya kepastian sukses yang cukup tinggi karena ada standby buyer yang kuat, tetapi, bukan datang dari pemegang saham pengendali, yakni PT Shima Global Kapital. Pengendali ENRG justru akan mengalihkan seluruh haknya (sekitar 2,33 miliar HMETD) kepada PT Bakrie Kalila Investment (BKI). Selain itu, BKI bersama afiliasinya siap bertindak sebagai pembeli siaga yang menyerap sisa saham hingga maksimal 10,48 miliar lembar.
Strategi yang menarik diambil kemungkinan lebih untuk swing trading sebelum rights issue untuk menghindari risiko turun dalam ke harga teoritis, kecuali investor memang sudah punya dari bawah dan memang ingin menebus haknya.
Di sisi lain, secara makro, ENRG potensial memanfaatkan momentum harga minyak global yang kembali naik. Baru-baru ini Brent sudah menembus US$100 per barel lagi. ENRG yang punya bisnis di hulu minyak dan gas bumi (migas) tentu punya sensitivitas terhadap kenaikan harga minyak dunia.
Secara teknikal, tren harga jangka pendek sedang naik, meskipun hari ini ada koreksi, posisinya juga sedang di resistance. Ada potensi menguji support terdekat dulu di Rp1350.
BNBR: Habis Rights Issue Malah Melaju?
Berikutnya ada BNBR yang baru saja menyelesaikan rights issue (RI). Biasanya, saham yang baru selesai RI itu rawan turun, tetapi BNBR malah sebaliknya.
Menurut kami, secara teknikal saham ini malah membentuk pattern akumulasi rounding bottom. Beberapa kali juga membentuk higher low yang menunjukkan sinyal pembalikan arah.
Dari posisi terkini terlihat adanya koreksi dua hari yang cukup normal dengan potensi menyentuh support terdekat di Rp97. Jika memantul dari area ini ada potensi pembentukan higher low baru untuk melanjutkan arah tren naik.
Story dari saham ini juga masih berjalan. Baru-baru ini BNBR dapet jatah menggarap proyek sampah jadi energi yang sedang dijalankan Danantara.
Melalui anak usahanya, PT Bakrie Power, BNBR masuk ke dalam Konsorsium Mentari Citra Lestari (bersama PT Acritas Karya Persada dan SUS Indonesia Holding Limited) untuk penggarapan PSEL wilayah Surabaya Raya (Tahap II).
Proyek ini masih di fase tahap studi kelayakan (FS). Jika FS tuntas dan berlanjut ke PPA (Power Purchase Agreement) jangka panjang (umumnya skema 30 tahun dengan PLN), PSEL akan memberikan arus kas yang stabil bagi BNBR. Ini bagus!
Selain itu, BNBR juga punya prospek dari mega proyek Masela yang sudah mulai jalan lagi. Mereka bisa mengincar proyek pengadaan pipa baja melalui anak usahanya, Bakrie Pipe Industries. Pasalnya, proyek Masela butuh jaringan pipa darat yang panjang, jadi kalau menang tender, potensi tambahan pendapatannya bisa cukup menarik.
BUMI: Saham Batu Bara Diverifikasi ke Emas?
Selanjutnya, ada saham BUMI yang terpantau kemarin naik kencang. Kami memantau untuk perdagangan di sesi I kemarin saja, saham BUMI berhasil naik 15% ke Rp194 per saham, dengan nilai transaksi mencapai Rp1,2 triliun. Bisa dibilang saham BUMI ini di peringkat teratas paling diburu investor. Sayangnya, penguatan itu susut di sesi kedua kemarin dan hari ini lanjut koreksi 5% ke level Rp170 per saham.
Menurut kami, koreksi yang terjadi hari ini masih relatif normal dengan support terdekat yang perlu diantisipasi di Rp160. Secara teknikal, sudah terlihat adanya pattern akumulasi menarik, bisa dibilang double bottom.
Namun, saham ini punya riwayat volatilitas tinggi dan kita juga harus manage ekspektasi. Rasanya masih perlu waktu lama untuk menuju level sebelum Januari 2026 yang sempat mau ke Rp500.
Meski begitu, saham ini juga punya narasi yang menarik dan masih jalan. Pada tahun lalu, BUMI menyelesaikan akuisisi tambang emas dan tembaga di Australia:
- Akuisisi Wolfram Limited, perusahaan tembaga dan emas senilai Rp699 miliar dengan 100% kepemilikan. Transaksi selesai November 2025.
- Akuisisi Jubilee Metals Limited, perusahaan emas senilai Rp347 miliar dengan kepemilikan 64,98%. Transaksi sudah selesai Desember 2025.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi BUMI keluar dari batu bara menuju mineral lain (emas, tembaga, dll), dengan target EBITDA 50:50 antara batu bara dan non-batu bara pada 2031.
Sekitar sebulan lalu, BUMI juga baru saja mengumumkan telah mendivestasikan sekitar 3,03% saham PT Citra Palu Minerals (CPM) kepada BRMS senilai US$9,2 juta.
Transaksi ini merupakan transaksi afiliasi karena BUMI memiliki 20,09% saham BRMS. Setelah divestasi ini, BRMS kini menguasai 99,99% saham Citra Palu Minerals (sisanya dimiliki PT Internasional Minerals Cakrabuana).
BUMI menjelaskan bahwa divestasi dilakukan agar fokus pada pengembangan aset-aset baru yang baru diakuisisi (seperti tambang emas dan tembaga di Australia), sementara CPM dapat dikelola dan dikembangkan secara lebih terfokus oleh BRMS sebagai perusahaan pure-play emas dan mineral.
BRMS: Tambang Emas Jumbo, Tapi Hati-hati Harga Logam Mulia!
Beralih ke BRMS, ini punya story yang masih berkaitan dengan BUMI. Apalagi baru saja mendapatkan kepemilikan utuh mengontrol CPM, salah satu tambang emas terbesar grup Bakrie yang beroperasi di area Poboya, Palu, Sulawesi Tengah. Mantap!
CPM memiliki cadangan emas mencapai 34,1 juta ton setara dengan cadangan logam sekitar 3,5 juta troy ons emas dan sedang dalam fase produksi/ekspansi. Tambang ini diproyeksikan beroperasi hingga 2050, dengan pengembangan tambang emas bawah tanah yang diharapkan memproduksi 2,8 juta ons emas selama umur tambangnya.
Didukung cadangan emas yang besar, tren positif pertumbuhan produksi emas BRMS diperkirakan masih akan terjaga. Manajemen menargetkan produksi mencapai 80.000 troy ons pada 2026, naik sekitar 11,3% dibanding realisasi produksi tahun 2025 yang sebesar 71.886 troy ons.
Sebelumnya, sepanjang 2025 BRMS telah memproduksi 71.886 troy ons emas, meningkat sekitar 10,6% dibandingkan produksi 2024 yang mencapai 64.983 troy ons. Target tersebut menunjukkan perusahaan masih optimistis dapat menjaga tren pertumbuhan produksinya.
Selain itu, BRMS juga tengah merampungkan perluasan Pabrik 1 CIL (Carbon-in-Leach) dari kapasitas 500 ton bijih per hari menjadi 2.000 ton bijih per hari. Dampak penuh dari perluasan ini dijadwalkan menyokong pertumbuhan volume produksi pada semester kedua 2026.
Konstruksi tambang bawah tanah di Blok 1 Poboya juga terus dikejar (pembangunan paste plant dan penggalian lateral). Fase penambangan bawah tanah ini ditargetkan mulai beroperasi penuh pada tahun 2027.
Keunggulannya adalah kadar emas jauh lebih tinggi (rata-rata 4,9 gram per ton) dibandingkan metode tambang terbuka (open pit) yang saat ini berkisar di 1,4 – 1,5 gram per ton.
Menurut kami, prospek bisnis emas saham BRMS ini cukup menarik, tetapi risiko jangka pendek sensitivitas terhadap harga emas global juga patut diperhatikan, karena harga logam mulia saat ini sedang dalam tren turun dan sempat menguji ke bawah level US$4000 per troy ons.
Adapun, secara teknikal saham BRMS cenderung masih terkonsolidasi, geraknya juga relatif tertinggal dibanding saham Bakrie lainnya. Menurut kami pergerakan saham ini masih akan lanjut mendatar jika belum bisa menembus resistance Rp660.
BIPI: Gabung Bakrie, Fokus Energi Bersih!
Terakhir, ada saham BIPI yang resmi masuk ekosistem grup Bakrie per Februari 2026. Bakrie Capital Indonesia secara resmi ‘nyaplok’ sekitar 6% saham BIPI (3,82 miliar saham) dengan nilai transaksi mendekati Rp948 miliar. Grup Bakrie ini emang hobi banget akuisisi, ya!
Masuknya Grup Bakrie memperkuat sinergi ekosistem energi grup, memberi dukungan permodalan, serta membuka peluang kolaborasi di bidang logistik pertambangan dan infrastruktur energi.
Dalam pantauan kami, BIPI mendapatkan kesepakatan Jual Beli Gas dengan entitas Grup Bakrie, ENRG. Melalui fasilitas Mini LNG Plant milik entitas anaknya (termasuk di Sidoarjo, Jawa Timur) serta rencana ekspansi ke Batam dan Aceh, BIPI memanfaatkan pasokan gas bumi dari ENRG untuk masuk secara bertahap ke bisnis LNG (Liquefied Natural Gas).
Ekspansi di energi bersih juga dilakukan dengan mengakuisisi saham PT Maharaksa Energi Hijau (MEH) dari entitas grup PT Maharaksa Biru Utama Tbk (OASA).
BIPI juga berencana merestrukturisasi portofolio dengan menyetujui divestasi 99,90% saham di PT Sintesa Bara Gemilang (SBG) senilai Rp1,79 triliun kepada pihak ketiga.
Dana segar dari penjualan aset tambang/infrastruktur batu bara ini dialokasikan untuk memperkuat struktur permodalan (deleveraging / fleksibilitas keuangan) serta mendanai transisi ke bisnis energi terbarukan dan proyek energi hijau. Keren!
Langkah-langkah di atas itu menunjukkan BIPI untuk mentransformasi portofolio bisnisnya dari sekadar infrastruktur batu bara murni menjadi penyedia layanan infrastruktur energi terbarukan.
Adapun dari sisi teknikal, saham BIPI juga sudah naik kencang dalam sebulan ini lebih dari 15% dan posisinya sedang tertahan resistance. Ada potensi koreksi mendekati support terdekat dulu di Rp136. Jika mantul dan membuat higher low baru, ada potensi sinyal pembalikan arah menjadi naik.
Gimana, Bro dan Sis? Dari tujuh saham grup Bakrie ini, mana nih yang paling bikin lu tertarik buat masuk? Atau malah nunggu koreksi dulu? Inget, investasi itu selalu ada risikonya ya, jadi riset sendiri itu wajib!

