Inspirasi Investasi

3 Saham Backdoor Listing yang Pernah Booming: Masihkah Punya Potensi Jadi “Next PANI”?

Masih ingat euforia saham PANI yang tiba-tiba melonjak gara-gara aksi backdoor listing oleh Grup Agung Sedayu? Setelah momen itu, para investor ritel langsung heboh cari “saham next-nya PANI”. Tapi seperti cinta bertepuk sebelah tangan, belum ada yang benar-benar bisa menggantikan hype-nya PANI. Jadi, pertanyaannya: masih adakah saham backdoor listing yang bisa meledak lagi? Kita bahas bareng di sini, lengkap dan santai.

Apa Itu Backdoor Listing dan Kenapa Bisa Jadi Tren?

Backdoor listing, atau dikenal juga sebagai reverse takeover, adalah strategi di mana sebuah perusahaan yang belum listing (biasanya punya aset besar) masuk ke bursa dengan cara mengakuisisi perusahaan publik yang volumenya kecil. Jadi mereka enggak perlu IPO ribet-ribet, enggak perlu transparansi berlebihan, dan bisa langsung dapetin akses ke pendanaan publik. Lebih cepat, lebih murah, dan lebih ‘tertutup’.

Kenapa saham-saham backdoor listing bisa tiba-tiba melonjak? Simpel. Karena biasanya ada dua momen emas yang dinantikan:

  • Mandatory Tender Offer (MTO): pemilik baru beli saham publik di harga premium. Ini bisa kurangi free float, bikin harga lebih gampang digoreng.
  • Right Issue dengan Masuknya Aset Baru: perusahaan bisa tiba-tiba punya pendapatan gede, laba naik, valuasi tampak murah. Contohnya ya PANI yang omzetnya naik dari Rp90 miliar jadi Rp900 miliar!

Sounds amazing, right? Tapi jangan lupa, enggak semua cerita backdoor listing berakhir bahagia. Kadang isu doang yang rame, eksekusinya kosong. Nah sekarang kita kulik 3 saham yang sempat heboh karena kabar backdoor listing-nya. Siapa tahu ada yang bisa jadi “next PANI”.

1. LABA – Si Baja yang Kini Punya Ambisi Listrik dan Tambang

LABA, dulunya saham sektor baja, sekarang berubah arah jadi pemain di sektor baterai kendaraan listrik. Pemilik barunya adalah Gotion, pemain global di industri EV battery, yang juga punya koneksi ke kawasan industri nikel PT Indonesia Pomala Industry Park.

Apa saja manuver LABA sejauh ini?

  • Sudah lewat fase Mandatory Tender Offer.
  • Berencana right issue hingga 6 miliar saham dengan target dana Rp900 miliar.
  • Rencana masuknya aset tambang nikel dan gedung perkantoran milik Neo Power Teknologi Indonesia.

Dari sisi kinerja juga mulai pulih. Di kuartal 1-2025, pendapatan LABA tumbuh 444% jadi Rp8,49 miliar. Laba bersihnya balik untung Rp1,85 miliar dari yang sebelumnya rugi Rp1,16 miliar.

Ada juga kabar ekspansi bisnis ke PLTS di Timor Leste dengan kapasitas 5 MW. Tapi muncul pertanyaan: kenapa harus Timor Leste? Kenapa enggak Indonesia yang jelas-jelas pasarnya lebih besar?

Kalau kamu suka saham dengan narasi besar dan agenda transisi energi, LABA bisa jadi kandidat. Tapi tetap waspada, karena kabarnya akuisisi dan realisasi aset belum seratus persen transparan.

2. PACK – Kena Gosip, Langsung Ambruk

Saham kedua, PACK, sempat bikin panik gara-gara isu right issue besar-besaran: katanya mau nerbitin 100 miliar lembar saham dengan harga hanya Rp300 per lembar. Pasar langsung panik, harga PACK sempat ambles gara-gara isu ini.

Tapi ternyata… itu cuma hoaks. Pihak manajemen langsung bantah, dan harga mulai stabil lagi.

PACK sendiri dibackdoor listing oleh CNGR, perusahaan Tiongkok yang punya bisnis dari hulu ke hilir di bidang baterai kendaraan listrik. Di Indonesia, mereka masuk lewat PT CNGR Dingsing New Energy, yang menjadi pengendali baru PACK.

Rencananya, CNGR akan memasukkan asetnya ke PACK lewat right issue. Pemegang saham bahkan sudah setuju dengan penerbitan maksimal 100 miliar lembar saham baru. Tapi… hingga sekarang, belum ada kabar pasti soal harga dan aset apa yang akan dimasukkan.

Kalau kamu tipe investor yang tahan banting dan sabar tunggu aksi korporasi, mungkin PACK masih menarik. Tapi risiko dilusi sangat besar, jadi pertimbangkan matang-matang sebelum masuk.

3. NINE – Jembatan Masuk Poh Group ke Indonesia?

NINE juga ikut-ikutan tren backdoor listing. Tapi bedanya, perusahaan yang masuk adalah Poh Group asal Singapura yang belum punya jejak bisnis di Indonesia sama sekali.

Menariknya, Poh Group sebelumnya sempat listing di bursa Australia, tapi sudah delisting sejak 2023 karena kerugian selama pandemi. Sekarang, mereka justru mau masuk ke Indonesia lewat NINE.

NINE berencana lakukan dua right issue:

  1. Senilai Rp80 miliar
  2. Senilai Rp3 triliun

Dana ini kabarnya akan digunakan untuk mengakuisisi POH Resources, bagian usaha milik Poh Group, dan kemudian membeli tambang batubara (yang sampai sekarang belum jelas juga lokasi dan volumenya).

Dari sini muncul pertanyaan: kenapa POH masuk ke Indonesia, padahal mereka delisting di Australia? Apakah ini bentuk pemulihan? Atau sekadar cari panggung baru?

Harga saham NINE per 5 Mei 2025 sempat auto rejection bawah. Jadi, kalau kamu tipe investor yang suka nekat dan ambil risiko tinggi, bisa pantau NINE. Tapi buat yang konservatif, lebih baik tunggu kejelasan aksi dan asetnya dulu.

Kesimpulan: Apakah Akan Ada “Next PANI”?

Kalau ditanya apakah dari ketiga saham ini ada yang berpotensi jadi “Next PANI”? Jawabannya: masih mungkin, tapi dengan syarat. Perlu aksi korporasi yang konkret, aset yang masuk harus solid, dan valuasi saham harus tetap wajar saat berita itu muncul.

LABA saat ini jadi kandidat paling menjanjikan, dengan kinerja yang sudah mulai pulih dan rencana akuisisi yang cukup masuk akal. PACK punya potensi tapi masih penuh ketidakjelasan. Sementara NINE masih terlalu dini untuk dinilai.

Intinya, jangan beli saham cuma karena ikut hype. Pelajari struktur kepemilikan, baca prospektus, dan tunggu momen yang tepat. Karena di dunia saham, bukan yang cepat yang menang, tapi yang siap.

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x