Catatan Jamet

Bedah Defisit APBN – Edisi Jamet

Pasti lu pada mikir, kok bisa sih belanja pemerintah yang katanya buat rakyat malah bikin pasar saham ambruk, rupiah lemes, terus investor pada kabur? Woy, ini bukan cuma soal ekonomi di permukaan doang, tapi ada “dapur negara” yang lagi nombok, guys! Yuk, kita bedah kenapa defisit APBN itu bahaya buat cuan lu.

Defisit APBN: Kenapa Pasar Auto Oleng?

Gini lho, semua itu saling terkait. Ketika negara kita lagi tekor, alias defisit APBN-nya melebar, efeknya bisa kemana-mana. Bukan cuma ke makro doang, tapi sampai ke portofolio investasi lu. Data lengkapnya sih ada di situs Kementerian Keuangan, tapi kita coba bahas yang penting-pentingnya aja, fokus ke angka Q1. Ada tiga kunci utama: Pendapatan Negara, Belanja Negara, sama kondisi Surplus/Defisit.

Pendapatan Negara: Kok Bisa Seret, Bestie?

Jujur aja, kelihatan banget pendapatan negara lagi seret. Kenapa?

  • Harga komoditas global yang ambruk beberapa tahun terakhir bikin pemasukan dari sektor ini jadi loyo.
  • Banyak sektor ekonomi kita yang lagi lesu, efeknya penerimaan pajak juga ikutan seret.
  • Nah, ada lagi nih. Dulu dividen BUMN masuk kas negara, sekarang sebagian dialihin ke Danantara. Otomatis pemasukan cash flow negara jadi berkurang, kan?

Belanja Negara: Auto Ngegas Terus, Bosque!

Berbanding terbalik sama pendapatan, belanja negara kita malah gas pol terus. Ini yang bikin ngeri.

  • Banyak program jor-joran dan proyek sana-sini yang kayaknya nggak ada rem-nya.
  • Beberapa pengeluaran kayaknya kurang efisien dan hemat, bikin dana negara terkuras cepet banget.

Akibatnya, defisit APBN kita melebar drastis. Bayangin aja, Q1 tahun 2025 defisitnya cuma 99 triliun (0,41% PDB), eh di Q1 2026 udah nyentuh 240 triliun, alias 0,93% PDB! Gila sih, ini udah lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Kalau diterusin setahun penuh, bisa tembus 3% PDB. Padahal, Undang-Undang Keuangan Negara kita tegas banget, defisit nggak boleh lebih dari 3%!

Apa Dampaknya Buat Dompet Kita & Pasar?

Nah, ini dia kenapa pasar mulai panik. Kalau negara terus nombok gede, pemerintah harus cari duit ekstra. Caranya gimana?

  • Nambah Utang: Pasti! Negara harus ngutang lagi buat nutupin selisihnya.
  • Naikin Pajak: Siap-siap PPN atau jenis pajak lain bisa naik. Ujung-ujungnya yang nanggung ya kita, rakyat dan dunia usaha.
  • Naikin Biaya Usaha: Royalti tambang naik, biaya ekspor naik, biaya lain-lain juga ikutan ngegas. Investor jadi mikir dua kali buat investasi di sini.

Fakta pahitnya, setiap rupiah melemah 100 poin aja, negara kita butuh sekitar 800 miliar buat nombokin defisit. Ini lingkaran setan banget! Kekhawatiran defisit bikin risiko downgrade rating ekonomi Indonesia makin nyata. Ditambah lagi faktor geopolitik global dan harga minyak yang tinggi, makin memperparah aksi jual saham.

Defisit gede yang dibiayai utang juga bisa maksa Bank Indonesia (BI) buat naikin suku bunga demi stabilin rupiah. Kalau suku bunga BI naik, biaya pinjaman makin mahal, dunia usaha makin terbebani, dan valuasi saham ikutan ketekan. Investor yang peka sama disiplin makroekonomi, auto cabut lah! APBN 2026 yang dirancang ekspansif buat dorong pertumbuhan tapi nggak diimbangin sama pendapatan negara yang berkelanjutan, jelas ada risiko fiskal mendikte moneter.

Pahami “Dapur Negara”: Kunci Investasi Anti Oleng!

Jadi, kalau lu lihat IHSG merah padam dan rupiah loyo, jangan buru-buru nyalahin perusahaan atau pasar modal doang. Intinya, masalahnya itu ada di “dapur negara” kita. Pahami ini, dan lu bakal lebih jeli dalam ngatur strategi investasi di Indonesia. Jangan sampai cuan lu ambyar cuma gara-gara nggak update info begini!

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x