Kabar Pasar

Rupiah Lagi Goyang Dikit: Dolar Makin Gacor, Pasar Merana, Tapi BI Santuy?

Gengs, nilai tukar Rupiah kita lagi jadi sorotan nih. Kemarin, Rupiah sempat nyentuh rekor terendah sepanjang sejarah di level 17.669 per Dolar AS pada perdagangan intraday Senin (18/5), sebelum akhirnya ditutup di 17.656. Kalau dihitung dari awal tahun (YTD), Rupiah udah melemah sekitar -5,8%! Ini bikin Rupiah jadi salah satu mata uang yang paling loyo di Asia tahun ini, bro.

Kenapa Rupiah bisa “nyungsep” gini? Salah satu pemicu utamanya adalah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed (Bank Sentral AS) yang makin tinggi. Harga minyak dunia yang betah di level atas, plus data inflasi AS yang melambung di luar perkiraan, bikin The Fed mau gak mau makin agresif.

Inflasi AS & Harga Minyak Bikin The Fed Ngegas

Coba deh liat, harga minyak Brent naik +0,6% ke US$110 per barel pada Senin (18/5) sore. Ini gara-gara insiden drone di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Minyak mahal ini bikin inflasi global makin tinggi.

Badan statistik tenaga kerja AS mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) AS April lalu tembus 3,8% secara tahunan (YoY), naik dari Maret yang 3,3%. Angka ini rekor tertinggi sejak Mei 2023 dan di atas ekspektasi pasar yang cuma 3,7%. Wih, panas!

Gak heran, gara-gara data itu, analisis dari CME FedWatch Tool per Senin (18/5) sore nunjukkin probabilitas The Fed naikin suku bunga minimal 25 bps sampai akhir 2026 ke level 3,75-4% itu sampai sekitar 51%. Padahal seminggu sebelumnya, probabilitasnya cuma 21% lho. Ini namanya The Fed makin ngegas!

Efek Domino ke Pasar Keuangan Indonesia

Dolar AS jadi makin perkasa gara-gara ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed ini. Indeks Dolar AS (DXY) naik +1,19% WoW ke 99,1 pada Senin (18/5) sore. Kalau Dolar AS kuat, aset-aset di pasar negara berkembang (emerging markets) kayak Indonesia auto kena tekanan.

Contohnya aja, Senin (18/5) kemarin:

  • Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik +11 bps ke 6,81%.
  • IHSG melemah -1,85% ke 6.599, dengan investor asing net sell (outflow) Rp464 M.

Respons Bank Indonesia: Jangan Panik, Ini Wajar!

Melihat Rupiah yang lagi “tertekan” ini, Gubernur Bank Indonesia (BI), Pak Perry Warjiyo, angkat bicara. Dalam rapat dengan DPR pada Senin (18/5), Pak Perry bilang kalau BI optimis Rupiah bisa balik menguat ke level rata-rata 16.500 tahun ini, atau di rentang 16.200-16.800 sesuai asumsi APBN 2026.

Menurut Pak Perry, secara historis, Rupiah memang selalu kena tekanan di kuartal kedua setiap tahun. Ini karena permintaan Dolar AS yang lebih tinggi, terutama pas musim pembagian dividen. Tapi tenang, biasanya nanti di kuartal berikutnya Rupiah akan menguat lagi.

BI juga fokus memantau volatilitas Rupiah, bukan cuma level absolutnya. Mereka pakai rata-rata pergerakan 20 hari sebagai acuan. Pelemahan Rupiah -5,8% YTD ini, kata Pak Perry, masih dalam kategori terkendali. Jadi, BI santuy, gaes!

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x