Kabar Pasar

Analisis Kebijakan Suku Bunga The Fed: Apa yang Dikatakan Jerome Powell?

Kepala The Fed, Jerome Powell, baru saja menyampaikan pernyataan penting pada Kamis, 14 November 2024, yang menyatakan bahwa pihaknya tidak perlu terburu-buru untuk menurunkan suku bunga mengingat kondisi ekonomi yang saat ini dianggap “sangat bagus”.

Inflasi AS dan Tanggapan The Fed

Pernyataan Powell muncul hanya sehari setelah rilis data inflasi AS untuk bulan Oktober 2024, yang menunjukkan adanya peningkatan ke level 2,6% YoY (year over year), dibandingkan dengan 2,4% YoY pada bulan September. Ini menandai akhir dari tren penurunan inflasi yang berlangsung selama enam bulan sebelumnya.

Powell menegaskan bahwa The Fed masih menganggap inflasi berada pada jalur yang sustainable menuju level target 2%. Hal ini memberi ruang bagi bank sentral AS untuk menggerakkan tingkat suku bunga ke level yang lebih netral, yang artinya tidak akan merangsang maupun membatasi pertumbuhan ekonomi.

Ketidakpastian Ekonomi di Masa Depan

Meskipun demikian, berapa tinggi tingkat suku bunga yang lebih netral tersebut dan seberapa cepat The Fed akan mencapainya masih menjadi pertanyaan besar. Dalam konteks ini, pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi AS ke depannya akan menghadapi ketidakpastian, terutama akibat kebijakan proteksionis yang diusulkan oleh presiden terpilih, Donald Trump.

Reaksi Pasar terhadap Pernyataan Powell

Setelah pernyataan Powell yang dianggap kurang dovish, analisis dari CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa probabilitas The Fed untuk memangkas suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan Desember 2024 menurun tajam, dari 82,5% pada 13 November menjadi hanya 58,9% pada hari Jumat, 15 November 2024. Seiring dengan itu, probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed sebesar sekitar 75 bps hingga Juni 2025 juga mengalami penurunan, dari 47% menjadi 34% dalam satu pekan terakhir.

Pergerakan Bursa Saham dan Nilai Tukar Rupiah

Pada 14 November, bursa saham AS mengalami pelemahan yang cukup signifikan, dengan indeks S&P turun 0,60%, Nasdaq 0,64%, dan DJI 0,47%. Indeks dolar AS (DXY) juga menguat 0,09% meskipun mengalami penurunan -0,1% ke level 106,56 pada pagi hari. Sementara itu, IHSG pun mendapatkan sentimen negatif dengan penutupan turun -0,74%, sementara yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun juga turun -4 bps ke level 6,92%.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat melemah -0,6% secara intraday sebelum ditutup flat di level 15.855 pada hari itu, yang utamanya ditopang oleh intervensi Bank Indonesia. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Edi Susianto, menyatakan bahwa level fundamental rupiah lebih kuat dari 16.000 per dolar AS.

Implikasi Kebijakan Suku Bunga terhadap Bank Indonesia

Pemangkasan suku bunga The Fed yang lebih lambat pada 2025 berpotensi untuk mengurangi ruang bagi Bank Indonesia dalam menurunkan suku bunga BI Rate. Saat ini, konsensus yang dihimpun oleh Bloomberg memperkirakan bahwa Bank Indonesia akan memangkas suku bunga sebanyak -100 bps hingga akhir 2025.

Outlook Pasar dan Tren Ke Depan

Dari aspek market, meskipun foreign outflow dari IHSG masih berlanjut hingga kini sejak kemenangan Trump, kami melihat bahwa nilai (value) mulai mengecil ke level 517 miliar rupiah. Penurunan nilai outflow ini dapat mengindikasikan bahwa mayoritas tekanan jual telah terealisasi (priced-in).

Kesimpulan

Dengan memperhatikan pernyataan Jerome Powell dan data ekonomi yang ada, terlihat bahwa tren kebijakan suku bunga di AS dan Indonesia akan terus mengalami pengaruh dari kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Kebijakan yang diambil oleh The Fed dan dampaknya terhadap perekonomian domestik menjadi kunci dalam menentukan arah investasi ke depan. Pantau terus perkembangan ini agar Anda tidak tertinggal informasi penting yang bisa mempengaruhi keputusan keuangan Anda.

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x