Inspirasi Investasi

Bongkar Tuntas! Stock Split Saham: Bikin Harga Merakyat atau Cuma FOMO Semata? Ini Daftar Emitennya!

Belakangan ini, lagi banyak banget emiten yang pada ngelakuin stock split. Ada yang udah kelar, ada yang baru usul, ada juga yang lagi proses. Nah, siapa aja sih doi yang lagi jadi sorotan investor?

Gaspol Pahami Dulu, Kenapa Sih Emiten Pada Stock Split Sekarang Ini?

Bro dan sist, stock split tuh sekarang bukan cuma soal bikin harga saham jadi kelihatan murah doang biar gampang dibeli ritel. Lebih dari itu, ini upaya serius buat naikin free float sama kualitas likuiditas saham biar makin mantul di pasar.

Market kita dari awal tahun ini udah dihajar habis-habisan sama risiko teknis. MSC Index misalnya, sempat bikin IHSG trading halt dua kali beruntun, ujung-ujungnya malah jadi bubble saham konglo. Nggak sedikit saham yang dari awal tahun udah nyungsep sampai separuh harga, bahkan lebih!

MSCI itu ngegas minta pasar kita lebih transparan dan cair. Akhirnya, regulator langsung gerak cepat buat berbenah. Mulai dari ganti pucuk pimpinan, minta keterbukaan informasi kepemilikan di atas 1 persen, sampai munculnya High Shareholding Concentration (HSC).

Soal HSC, total ada 51 emiten yang baru masuk daftar. Intinya, kejadian ini ngebuka mata kita kalau di market banyak saham yang kesannya dimiliki ritel, tapi pas diusut lebih dalam, kepemilikannya malah terkonsentrasi di segelintir pihak atau investor tertentu. Ini bikin likuiditas pasar kita jadi nggak se-bening yang kelihatan.

Aktivitas transaksi mungkin tampak ramai, tapi jumlah saham yang bener-bener beredar di publik tuh terbatas banget. Akibatnya? Pergerakan harga jadi gampang banget bergejolak kalau ada transaksi jumbo.

Nah, dalam kondisi begini, stock split jadi langkah yang relevan. Dengan harga saham yang lebih terjangkau, diharapkan makin banyak investor ritel yang bisa ikutan, jadi porsi saham publik pun bisa naik pelan-pelan. Tapi inget, proses ini bukan sulap, butuh waktu. Regulator aja kasih masa transisi sekitar dua tahun buat emiten penuhin ketentuan minimal free float 15 persen.

Selain naikin free float, stock split juga diharapkan mampu ningkatin likuiditas perdagangan saham. Dengan harga saham yang jadi lebih terjangkau dan jumlah lembar saham yang beredar makin banyak, potensi transaksi harian pun ikutan ngegas. Semakin aktif suatu saham diperdagangkan, bid-ask spread cenderung nyempit dan proses jual beli jadi lebih efisien.

Tapiiii, jangan salah kaprah. Stock split itu bukan obat mujarab instan. Kalau kepemilikan saham masih terkonsentrasi dan free float belum bener-bener nambah, likuiditas belum tentu membaik meskipun harga saham kelihatan lebih murah.

Kesuksesan stock split ujung-ujungnya tetep di tangan partisipasi investor publik yang lebih masif, pemerataan distribusi kepemilikan saham, dan pastinya, kinerja fundamental perusahaan itu sendiri. Jadi, jangan cuma liat harganya doang, ya!

Cekidot! Daftar Emiten Stock Split yang Lagi Gaspol di Tahun 2026 Ini!

Ada tiga emiten yang dijadwalkan cum date bulan Juli 2026 ini. Mereka adalah PT Rukun Raharja (RAJA), PT RMK Energy Tbk (RMKE), dan PT Multipolar Technology Tbk (MLPT). Berikut detailnya:

  • RAJA: Udah lewat cum date tanggal 15 Juli 2026 kemarin dengan rasio stock split 1:5. Nilai nominal turun dari Rp25 jadi Rp5 per saham. Jumlah lembar saham melonjak dari 4,23 miliar jadi 21,14 miliar. Harga saham RAJA per 16 Juli 2026, yang udah dipecah lima, jadi Rp885 per saham.
  • RMKE: Lagi cum date per 16 Juli 2026 dengan rasio 1:5 juga. Nilai nominalnya dipecah dari Rp100 jadi Rp20. Jumlah saham melonjak jadi 21,875 miliar dari sebelumnya 4,375 miliar saham. Setelah dipecah, harga saham RMKE pada 17 Juli 2026 diperkirakan ada di level Rp490 – Rp500 per saham.
  • MLPT: Siap-siap cum date tanggal 20 Juli 2026. Rasionya jauh lebih banyak, yaitu 1:25! Nilai nominalnya turun dari Rp100 jadi Rp4 per saham. Jumlah lembar sahamnya melonjak dari 1,875 miliar jadi 46,875 miliar saham.

Selain tiga saham di atas, ada juga yang masih dalam proses perencanaan, yaitu saham PJAA. Manajemen sempat ngusulin stock split dengan rasio 1:2 dari harga Rp500 jadi Rp250 per saham.

Adapun dua emiten yang udah lebih dulu menyelesaikan aksi pecah saham, mereka adalah CYBR dan DSSA. Cekidot:

  • CYBR: Udah beres stock split dengan rasio 1:2 pada 13 Mei 2026. Nilai nominal saham turun dari Rp25 jadi Rp12,5 per saham, sedangkan harga sahamnya disesuaikan dari Rp1.180 jadi Rp590 per saham. Meski stock split bikin harga saham lebih terjangkau, sayangnya sampai perdagangan hari ini, harga saham CYBR masih cenderung konsolidasi, bahkan posisi harganya masih sama di level pembukaan ex date. Sejak awal tahun, geraknya terkontraksi sampai hampir 35 persen.
  • DSSA: Bisa dibilang ini emiten pertama yang ngelakuin aksi stock split tahun ini. Aksi stock split selesai pada 9 April 2026 lalu, dengan rasio 1:25. Harga sahamnya dipecah dari Rp63.880 jadi Rp3.150 per saham dan nilai nominal dari Rp25 jadi Rp1 per saham. Dengan nilai nominal segitu, peluang untuk stock split lagi praktis udah habis, kecuali ada perubahan regulasi. Sayangnya, saham emiten holding batu bara dan energi terbarukan itu juga masih jeblok lebih dari 70 persen setelah stock split, kini di Rp805 per saham. Bahkan sempat ambles ke level Rp480 per saham.

HSC Bikin Kering: Jurus Ampuh Lepas dari Cengkraman!

Saham yang masuk daftar High Shareholding Concentration (HSC) itu PR banget, bro. Masalahnya, doi kagak bisa masuk indeks saham lokal maupun global, yang bikin dia jadi makin kering dan nggak dilirik investor. Lalu, apa yang bisa dilakukan emiten biar lepas dari status “kering” tersebut?

Stock Split Itu Cuma Alat, Fundamental yang Bikin Kuat!

Inget lagi ya, tujuan dari stock split itu bukan cuma bikin saham terkesan murah dan terjangkau untuk ritel. Esensi akhirnya adalah saham itu harus likuid! Karena yang dibutuhkan pelaku pasar saham itu gampang ditransaksiin. Kalau bisa beli dengan mudah, di masa depan juga harus bisa dijual dengan mudah.

Tujuan itu juga harus diiringi dengan kinerja fundamental yang solid. Karena pada akhirnya, investor itu beli bisnis perusahaan, bukan cuma simbol sahamnya doang.

Jadi, stock split sebaiknya dipandang sebagai alat (tools) untuk ningkatin kualitas perdagangan saham, bukan sebagai faktor utama yang menentukan kenaikan harga saham. Dalam jangka panjang, arah harga saham tetep akan ditentukan sama pertumbuhan laba, prospek bisnis, tata kelola perusahaan yang cakep, serta kepercayaan investor terhadap fundamental emiten.

Dari sudut pandang kami, ada beberapa indikator yang kami nilai, mulai dari pergerakan harga saham, valuasi, dan kinerja profitabilitas terkini. Selain itu, bagi beberapa emiten, kalau ada narasi atau potensi aksi korporasi ke depan selain stock split juga kami cermati.

(Catatan: Data ditarik per 16 Juli 2026, data profitabilitas per kuartal I/2026)

Dari analisa kami terhadap lima saham stock split tadi, begini perbandingannya:

  • Pergerakan Harga Saham (YTD):
    • Semuanya masih bergerak di zona kontraksi dari awal tahun. DSSA paling parah, nyungsep hampir 80 persen.
    • Sementara yang koreksinya paling “buncit” itu RAJA, sekitar 28 persenan.
  • Valuasi:
    • DSSA, RAJA, RMKE sudah cukup masuk akal.
    • Tapi untuk CYBR dan MLPT, meskipun harga sahamnya udah turun tajam, valuasinya masih tetep kemahalan, bro.
  • Profitabilitas (Q1/2026):
    • Menurut kami yang paling menarik RMKE, karena pendapatan dan laba bersih sama-sama tumbuh positif.
    • DSSA dan RAJA juga kami nilai cukup bertahan baik, karena meskipun pendapatan turun, labanya masih dipertahankan naik.
    • Sementara itu, CYBR masih merugi, dan MLPT mengalami kontraksi laba hampir separuh secara tahunan.

Adapun dari kelima saham stock split, ada dua emiten yang kami lihat punya narasi ekspansi yang bikin ngiler, mereka adalah DSSA dan RAJA!

Dari DSSA dulu, ekspansinya semakin gencar nyasar infrastruktur teknologi. Paling baru, DSSA nambah investasi di salah satu pemegang saham EXCL, yaitu PT Bali Media Telekomunikasi (BMT) sebanyak Rp8,54 triliun. Memang, secara bisnis DSSA saat ini batu bara masih dominan lewat GEMS. Namun, arus kas dari bisnis itu direinvestasikan ke yang lain, seperti energi hijau (geothermal 480 MW), data center hyperscale SMX01, konektivitas fiber/5G via MoraRepublic dan XLSmart, serta aplikasi seperti DANA yang jadi sumber data AI.

RAJA juga nggak kalah agresif ngelakuin ekspansi bisnis. Perusahaan mulai serius bangun ekosistem LNG melalui akuisisi proyek Floating Liquefied Natural Gas (FLNG) di Blok Kasuri bareng Genting Group, pembangunan terminal LNG di Banten, pengembangan fasilitas LNG di Kalimantan, hingga memperluas rantai bisnis dari hulu, logistik, pelayaran energi, sampai distribusi. Di saat yang sama, RAJA juga memperkuat bisnis migas melalui pembangunan infrastruktur dan penjajakan akuisisi aset migas yang udah berproduksi. Dalam jangka panjang, RAJA juga mulai merambah sektor energi baru terbarukan (EBT), seperti blue ammonia, biomassa, hingga pembangkit listrik tenaga air.

💡Butuh Tool & Screener analisa saham AS yang akurat, lengkap, dan udah pake AI data biar gak halu? Gaspol promo spesial Investing Pro: DISKON 60% + 15% buat pembaca setia! Langsung sikat di sini!

Tips Jitu Investasi: Jangan Cuma Ngejar Cuan, Bro! Tujuan Utama Kamu Apa?

Banyak orang kalau memulai investasi itu mikirnya cuma cari aset yang auto cuan. Padahal, dalam memulai investasi, hal terpenting adalah: “Apa sih tujuanmu?” Kami jelaskan detail strategi investasinya di sini!

Kesimpulan: Stock Split, Cuan Instan atau Butuh Analisis Lebih Dalam?

Stock split emang bikin harga saham seakan jadi lebih murah, semakin terjangkau juga untuk berbagai kalangan. Tapi inget, tujuan utamanya adalah bikin harga saham lebih likuid, sekaligus mendongkrak free float jadi lebih sehat.

Namun, untuk mencapai tujuan utama itu prosesnya nggak bisa instan. Faktor lain dari teknikal sampai fundamental tetep dibutuhkan agar pertimbangan untuk beli saham lebih matang.

Adapun dari lima emiten yang kita bahas di atas, kami menilai efek stock split itu kayaknya cuma jangka pendek doang. Semuanya udah mengalami kontraksi hebat dari awal tahun, tapi menurut kami tetep perlu selektif, karena yang valuasinya masuk akal hanya ada tiga, yaitu DSSA, RAJA, dan RMKE.

PR kita tinggal pinter-pinter nyesuaiin timing untuk masuk dan monitor narasi dari setiap aksi korporasi atau rencana ekspansi yang setiap perusahaan miliki.

Di luar lima saham itu, kalau kondisi market mulai membaik, pasti akan ada lebih banyak emiten yang ngelakuin stock split atau aksi korporasi lainnya. Karena, masih banyak saham HSC atau memang saham itu sendiri tidak likuid di market.

Jadi, gimana menurut kalian? Mana emiten stock split paling menarik tahun ini? Tulis di kolom komentar, ya!

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x