Berita Korporasi

EXCL Merugi Rp 2,6 Triliun: Di Balik Angka Merah Pasca-Merger, Ada Sinyal ARPU Melaju

Kinerja keuangan PT XL Axiata Tbk (EXCL) pada kuartal ketiga 2025 menarik perhatian investor. Perusahaan telekomunikasi raksasa ini kembali mencatatkan kerugian bersih, namun di balik angka merah tersebut, terdapat sinyal-sinyal strategis yang patut dianalisis. Apakah ini hanya badai sesaat pasca-merger, ataukah ada tantangan jangka panjang yang membayangi?

EXCL Merugi Triliunan: Dampak Biaya Integrasi Merajalela

Pada kuartal ketiga 2025, XL Axiata membukukan rugi bersih sekitar IDR 1,4 triliun. Angka ini memang lebih baik dibandingkan rugi IDR 1,6 triliun pada kuartal sebelumnya (2Q25), namun berbanding terbalik dengan laba bersih IDR 292 miliar yang dicatatkan pada periode yang sama tahun 2024 (3Q24).

Secara kumulatif, kerugian bersih selama sembilan bulan pertama 2025 (9M25) telah mencapai IDR 2,6 triliun. Jauh berbeda dengan laba bersih IDR 1,3 triliun di 9M24, dan juga melampaui ekspektasi konsensus analis untuk rugi bersih setahun penuh 2025 yang diperkirakan hanya IDR 809 miliar. Angka-angka ini tentu menjadi sorotan utama para pemangku kepentingan.

Mengapa Laba Berbalik Rugi?

Penyebab utama di balik kerugian pada 3Q25 adalah masih tingginya biaya integrasi pasca-merger. Beban ini menekan margin laba kotor secara signifikan, menyusut ke level 13,8%. Angka ini anjlok drastis dibandingkan 28% pada 3Q24 dan 16,7% pada 2Q25, sehingga menyebabkan laba kotor perusahaan turun 10% secara kuartalan (QoQ).

Kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 13% QoQ dan beban operasional (opex) sebesar 5% QoQ menjadi pemicu kerugian. Hal ini seiring dengan mulai dibukukannya biaya integrasi secara penuh sejak merger efektif pada 16 April 2025. Proses ini memang membutuhkan investasi besar yang memengaruhi profitabilitas jangka pendek.

Transformasi Bisnis Pasca-Merger: Fokus pada Nilai, Bukan Jumlah

Meskipun laba bersih tertekan, XL Axiata menunjukkan perubahan strategi yang menarik pada sisi operasional.

ARPU Melaju, Pelanggan Selektif

Setelah sempat menurun pasca-merger, Average Revenue Per User (ARPU) EXCL menunjukkan sinyal positif dengan kenaikan 9,6% QoQ, mencapai IDR 38.900 pada 3Q25. Ini adalah pemulihan yang signifikan dari IDR 35.500 pada 2Q25, meski masih -6% YoY.

Di sisi lain, jumlah pelanggan memang mengalami penurunan 3,6% QoQ menjadi 79,6 juta. Namun, penurunan ini bukan tanpa alasan. Manajemen EXCL menjelaskan bahwa mereka sedang melakukan pemangkasan paket layanan dengan ARPU rendah. Ini adalah langkah strategis untuk bergeser dari fokus pada kuantitas pelanggan semata, menuju penciptaan nilai lebih tinggi dari setiap pelanggan.

Peningkatan Data Yield: Sinyal Kualitas Pendapatan

Fokus perusahaan pada segmen pelanggan bernilai tambah tinggi tercermin dari peningkatan data yield. Pada 3Q25, pendapatan per data (data yield) naik 5,1% QoQ menjadi IDR 2,6 per MB. Meskipun masih -10,7% YoY, kenaikan kuartalan ini menunjukkan bahwa pendapatan EXCL dari penggunaan data, yang merupakan tulang punggung bisnis telekomunikasi modern, semakin berkualitas.

Beban Integrasi: Harga yang Harus Dibayar untuk Efisiensi Jangka Panjang

Biaya integrasi pasca-merger merupakan faktor dominan yang menekan kinerja EXCL, namun ini adalah bagian dari investasi untuk masa depan yang lebih efisien.

Depresiasi Aset dan Spektrum: Penyebab Lonjakan Biaya

Kenaikan beban pokok pendapatan pada 3Q25 salah satunya disebabkan oleh lonjakan beban depresiasi sebesar 14% QoQ. Hal ini dipicu oleh percepatan depresiasi atas aset-aset yang tidak lagi digunakan, termasuk perangkat jaringan terkait spektrum 900 MHz yang wajib dikembalikan pada akhir 2026. Ini merupakan langkah akuntansi yang wajar dalam proses integrasi untuk membersihkan buku dan menyiapkan operasional yang lebih ramping.

Estimasi Biaya Berkelanjutan: Jalan Panjang Menuju Integrasi Penuh

Manajemen EXCL mengonfirmasi bahwa biaya integrasi akan terus berlanjut hingga proses merger benar-benar selesai, yang diperkirakan pada 4Q26 atau 1Q27. Untuk tahun 2025, perseroan menganggarkan total biaya integrasi sebesar IDR 1,5 triliun, dengan sekitar IDR 1 triliun sudah dibukukan hingga 9M25 dan sisanya akan tercatat pada 4Q25. Proyeksi untuk 2026 menunjukkan biaya integrasi akan berada di kisaran yang sama.

Menariknya, jika kita mengecualikan beban one-off seperti biaya integrasi, percepatan depresiasi, dan penurunan nilai aset (impairment), manajemen memperkirakan EXCL masih mencetak laba setelah pajak yang telah ternormalisasi (normalized profit after tax) sebesar sekitar IDR 1,2 triliun pada 3Q25. Ini memberikan gambaran potensi profitabilitas inti perusahaan tanpa gangguan biaya non-rutin.

Prospek Saham EXCL: Di Antara Tantangan dan Potensi

Dengan semua dinamika yang ada, bagaimana prospek XL Axiata ke depan?

Laba Normalisasi vs. Ekspektasi Konsensus

Realisasi pendapatan EXCL selama 9M25 mencapai 73% dari estimasi konsensus 2025F. Angka ini sedikit di bawah 74% realisasi tahunan pada 9M24. Namun, dengan kenaikan ARPU yang cukup tinggi secara kuartalan pada 3Q25 dan keyakinan manajemen akan adanya ruang untuk terus menaikkan ARPU di kuartal mendatang, target pendapatan konsensus masih dinilai achievable. Investor perlu memantau tren ARPU dan strategi peningkatan nilai pelanggan secara cermat.

Kejutan Dividen Tambahan? Investor Menanti RUPSLB

Kabar gembira bagi investor: EXCL membuka peluang untuk membagikan tambahan dividen final tahun buku 2024 pada 2025. Dividen ini rencananya akan diambil dari saldo laba ditahan. Manajemen akan mengajukan persetujuan terkait rencana ini dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 21 November 2025. Ini bisa menjadi sinyal positif dan daya tarik bagi pemegang saham di tengah kondisi keuangan yang penuh tantangan.

Secara keseluruhan, kinerja EXCL pada 3Q25 mencerminkan periode transisi yang intensif pasca-merger. Meskipun kerugian tercatat, upaya strategis untuk meningkatkan ARPU, menyeleksi pelanggan, dan mengelola biaya integrasi secara transparan memberikan harapan akan fundamental yang lebih kuat di masa depan. Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan integrasi dan bagaimana strategi ini akan berbuah pada profitabilitas jangka panjang EXCL.

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x