Gebrak Pasar! 3 Saham Backdoor Listing Ini Auto Nge-Gas ke Bisnis Batu Bara, Gimana Prospeknya?
Gaes, siap-siap pantengin! Ada tiga saham backdoor listing yang lagi gercep banget mau banting setir ke bisnis batu bara. Yoi, bisnis ‘emas hitam’ ini emang lagi jadi primadona. Tapi, gimana nih perkembangan dan potensi masing-masing saham ini? Yuk, kita bedah bareng!
FORU: Anak Baru dengan Jurus Lama, Bisnis Batu Bara Nanti Tahun 2026?
Salah satu yang baru aja bikin pengumuman heboh soal rencana terjun ke tambang batu bara adalah saham FORU. Ini nih saham backdoor listing generasi 2024, tapi rencana perubahan bisnisnya baru digeber di 2026. Lumayan PR ya, nungguinnya.
FORU dan Akuisisi Borneo Prima: Kalori Tinggi, Cadangan Gede?
Kabar gokilnya, IMR Asia sebagai pengendali FORU, punya rencana buat mindahin aset tambang batu bara afiliasinya lewat FORU. Targetnya? PT Borneo Prima. Katanya, Borneo Prima ini punya lahan segede 15.000 hektar. Bayangin, seluas apa itu, lur!
Nah, yang bikin makin melongo, kualitas batu baranya itu lho, kalori 7.850 kalori per kg. Ini jenis coking coal yang lagi dicari-cari industri baja. Lokasinya di Kabupaten Murung, dan total cadangan akumulasi proven & probable-nya sekitar 87,7 juta ton. Mantap jiwa!
Tapi ya, detail produksinya per tahun masih abu-abu. Cuma ada estimasi, kalo Borneo Prima bisa produksi 5 juta – 7 juta ton per tahun, cadangan segitu bisa cukup buat 12-18 tahun ke depan. Lumayan panjang umur tambangnya.
Kalo dibandingin sama ADMR yang udah duluan eksis, ADMR punya cadangan 170,7 juta ton batu bara metalurgi dengan rata-rata produksi 6 juta ton per tahun. Artinya, kalo Borneo Prima nge-gas di 5 juta ton per tahun, skalanya emang masih di bawah ADMR, tapi gak jauh-jauh amat.
Namun, pas kita intip kinerja Q1/2026 Borneo Prima, skalanya emang masih jauuuuh banget dibanding ADMR. Mereka cuma nyatet pendapatan sekitar USD 11,29 juta dengan laba bersih sekitar USD 954.000. Masih butuh kerja keras ekstra nih.
Skema Akuisisi dan Right Issue Jumbo Bikin Pusing?
Dalam proses pengalihan aset ini, FORU bakal ngambil 49 persen saham Seri A Borneo Prima yang punya hak suara penuh. Sisanya yang 51 persen saham Seri B dan C dipegang PT Pacific Samudera Prima tapi tanpa hak suara. Artinya, FORU auto punya hak suara penuh buat ambil keputusan. Jadi, kendali di tangan mereka.
Buat transaksi ini, FORU rencananya bakal nerbitin 219 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp126 per saham. Ini dia nih yang bikin puyeng! Jumlah right issue FORU ini super jumbo, bro. Gimana gak, saham lama mereka cuma 465 juta lembar. Otomatis tingkat dilusi alias pengenceran sahamnya bakal tinggi banget.
Efeknya, setiap 100 saham lama yang lu pegang, bakal berhak nebus 47.177 lembar saham baru di harga Rp126 per saham. Jadi, kalo lu mau ikut right issue-nya, siap-siap modal gede ya. Misalnya, modal lu cuma 1 lot (sekitar Rp300.000), lu butuh siapin sekitar Rp5,9 juta buat nebus saham barunya. Jangan kaget!
Kalo lu cuma ngejar harga sekarang tapi gak ikut right issue-nya, siap-siap aja kena floating loss signifikan. Soalnya, harganya bakal disesuaikan secara teoritis jadi sekitar Rp132 per saham (ini asumsi harga cum-right ide Rp3.000 per saham). Jadi, harus ekstra hati-hati, lur.
Enaknya, pengendali gak butuh dana dari publik karena transaksi ini dilakukan secara inbreng (saham baru ditukar aset). Jadi, kalo niatnya ngejar harga sekarang, mending jangan hold sampe right issue-nya ya. Pikirin mateng-mateng!
MEJA: Akuisisi Tambang Batu Bara Belum Ada Kepastian, Cuma Estimasi?
Beralih ke saham MEJA. Mereka udah ngumumin rencana buat mengakuisisi 45 persen saham PT Trimata Coal Perkasa sejak akhir 2025. Tapi, sampe sekarang, rencana itu masih belum terealisasi. Sabar ya, gaes.
Progres dan Skema Right Issue MEJA
Target manajemen sih, mereka berencana RUPSLB di kuartal III/2026 dan langsung gas pol right issue di periode yang sama. Meski masih mentah, manajemen ngasih bocoran harga right issue-nya bakal di kisaran Rp450 – Rp550 per saham sebagai indikasi awal. Ini ngacu ke nilai wajar Trimata Coal Prima dan posisi harga saham MEJA sekarang.
Dari hasil studi independen per 1 Juni 2026, estimasi cadangan batu bara yang bisa ditambang sekitar 400 juta ton. Gede banget kan? Tapi, fakta lapangan bilang kalo angka segitu itu baru estimasi alias perkiraan. Plus, yang bikin kita mikir, tambang Trimata ini belum sampe tahap produksi. Jadi, jangan terlalu nafsu dulu ya.
Skema right issue MEJA agak beda nih sama FORU yang inbreng satu pihak. Kalo MEJA, ini bukan backdoor listing satu pihak, tapi melibatkan dua pihak. Pertama, MEJA diakuisisi sama Triple B, yang kabarnya terkait sama Noprian Fadli (pemain lama di beberapa akuisisi saham). Nah, nanti right issue MEJA ini pake skema share-swap dengan strategic buyer.
Artinya, pengendali baru MEJA bakal beli saham baru yang diterbitin dengan ngasih 45 persen Trimata Coal sebagai bentuk inbreng non-tunai. Jadi ada tukar guling saham MEJA dengan Trimata sebagai bagian dari kesepakatan peralihan kepemilikan saham dari Triple B ke pengendali barunya (yang kebetulan punya Trimata Coal). Skema ini lumayan unik, bro.
NINE: Aset Tambang Mongolia, Kapan Realisasinya?
Selain FORU dan MEJA, ada lagi nih saham NINE yang udah dari 2025 ngiler rencana inbreng aset tambang batu bara milik Grup Poh di Mongolia. Tapi, sama kayak MEJA, rencana ini masih belum terealisasi juga. Update detailnya juga masih minim banget.
Prospek Tambang Mongolia NINE: Potensi Gede, Data Masih Misterius
Setelah Grup Poh jadi pengendali NINE, mereka memang niat banget mau ambil alih aset tambang milik pengendali di Mongolia, yaitu Poh Golden Ger Resources Ltd. (PGGR). Ini bakal dilakuin lewat right issue dengan nilai aset indikatif mencapai USD 150 juta. Skemanya lagi-lagi pake inbreng alias saham baru ditukar aset.
PGGR disebut punya 100 persen dua konsesi tambang di Mongolia. Tapi ini dia nih yang bikin kita bertanya-tanya, belum ada data detail soal potensi cadangan apalagi kabar apakah tambang ini udah beroperasi apa belum. Masih jadi misteri, gaes.
Kalo kita coba ngacu ke aset Tian Poh Resources Ltd (yang masih grup Poh) di Mongolia, itu terdiri dari dua tambang:
- Tambang Batu Bara Nuurst seluas 2.497 hektar. Sumber dayanya (bukan cadangan dan masih eksplorasi ya!) sekitar 478 juta ton. Lokasinya 100 km dari Ulan Bator, ibukota Mongolia. Jenisnya batu bara thermal kalori rendah.
- Tambang Batu Bara Semi-Kokas seluas 530 hektar dengan cadangan 61 juta ton. Posisinya deket perbatasan China.
Salah satu narasi paling kuat yang dikeluarin manajemen NINE adalah soal penandatanganan framework agreement for mining cooperation dengan kontraktor EPC+F dari Inner Mongolia, China. Kontraktor ini katanya perusahaan gede sejak 1998, punya 1.000 karyawan, asetnya disebut USD 500 juta, dan jago banget ngoperasiin tambang terbuka maupun bawah tanah. Ini bikin ekspektasi pasar lumayan naik.
Konon, kontraktor EPC+F ini niat dan punya kapasitas investasi lebih dari USD 100 juta buat ngoperasiin tambang Grup Poh. Tapi, realisasinya nanti tergantung hasil due diligence dan persetujuan dari Overseas Direct Investment di China. Jadi, masih banyak “tapi”-nya.
Yang bikin kita semua penasaran banget adalah: kapan sih aksi right issue ini bakal dilakuin? Terus, gimana detail pasti aset tambang yang mau diakuisisi NINE? Masih jadi tanda tanya besar.
Kita semua masih nunggu banget hasil public expose NINE ini. Semoga aja cepat ada kejelasan biar investor gak bingung tujuh keliling ya.
Nah, itu dia bedah singkat tiga saham yang lagi ngebet jadi juragan batu bara lewat jalur backdoor listing. Gimana menurut lu, bro? Potensi cuan atau PR banget nih nunggunya? Tetap riset mendalam dan bijak dalam mengambil keputusan investasi ya!

