Gokil! Laba INTP INTP Melambung, Tapi Ada ‘Penolong’ Rahasia Nih!
Bestie, lagi pada ngulik saham semen? Yuk, kita spill hasil laporan keuangan INTP (Indocement Tunggal Prakarsa) yang baru rilis. Kelihatannya sih cuan banget, tapi ada detail yang perlu lu tau biar gak salah kaprah! Kita bedah bareng, jangan cuma lihat angka di permukaan, ya.
Laba INTP: Angka Manis Tapi…
Laporan INTP nunjukkin laba bersih di 4Q25 naik gila-gilaan jadi Rp1,2 Triliun! Ini bikin total laba bersih sepanjang 2025 tembus Rp2,2 Triliun, lebih tinggi dari ekspektasi konsensus. Dari angka ini, banyak yang auto seneng dong? Eits, tunggu dulu!
Divestasi Jadi Penyelamat?
Angka laba bersih yang kinclong itu ternyata ada ‘backingan’nya, gaes. Laba bersih 2025 ini terangkat signifikan berkat adanya keuntungan dari divestasi alias penjualan 60% saham di PT Mortar Prakarsa Utama senilai Rp670 Miliar di kuartal keempat. Ini juga termasuk pengukuran ulang sisa kepemilikan.
Keuntungan one-off ini yang bikin laporan keuangan INTP terlihat maknyus. Bayangin aja, tanpa keuntungan tak terulang itu, laba bersih doi cuma sekitar Rp1,6 Triliun. Angka ini jauh di bawah ekspektasi dan bahkan turun 21% dibanding tahun sebelumnya. Jadi, jangan keburu happy sama angka atas doang, ya, perlu dilihat inti bisnisnya.
Kinerja Operasional: Kok Loyo?
Nah, ini bagian yang harus kita perhatiin. Laba usaha INTP justru agak lemes, bro. Turun 24% YoY di 4Q25 dan 11% YoY di sepanjang 2025. Angka ini sesuai ekspektasi sih, tapi ya gitu deh… kalau laba usaha menurun, artinya ada tantangan di bisnis intinya.
Margin Tertekan, Leverage Melemah
Apa sih yang bikin laba usaha doi gembos? Ternyata, operating leverage mereka lagi melemah. Margin laba usaha INTP melorot ke 15,4% di 4Q25 (dari 18,6% di 4Q24) dan jadi 11,8% sepanjang 2025 (dari 12,6% di 2024). Ini nunjukkin ada tekanan di efisiensi operasional mereka, mungkin karena harga bahan baku atau persaingan yang makin ketat.
Jadi, meskipun INTP ngasih angka laba bersih yang kinclong di 2025, lu harus hati-hati liat detailnya. Ada faktor one-off yang ngasih dorongan gede banget. Kinerja operasional inti masih perlu diwaspadai karena efisiensi dan marginnya tertekan. Jangan lupa riset mendalam sebelum gaskeun investasi, ya! Tetap objektif dan bijak.

