Inspirasi Investasi

Nasib Saham-Saham yang Diakuisisi Grup Djarum: Untung Besar atau Jebakan?

Akuisisi saham oleh grup besar seperti Djarum selalu menarik perhatian investor. Apalagi, jejak rekam mereka dalam mengakuisisi perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) cukup agresif dalam beberapa tahun terakhir.

Baru-baru ini, kabar mengenai akuisisi 40% saham DATA oleh TOWR mengundang spekulasi. Jika transaksi ini berhasil, TOWR akan menjadi pemegang kendali baru atas DATA. Tapi, apakah ini kabar baik bagi investor?

Untuk menjawabnya, kita perlu melihat kembali nasib saham-saham yang sebelumnya diakuisisi oleh Grup Djarum. Apakah mereka berhasil tumbuh setelah diambil alih? Ataukah justru anjlok setelah euforia awal mereda? Yuk, kita kupas satu per satu!

Akuisisi Ranch: Lonjakan 400%, Lalu Amblas 82%!

Salah satu akuisisi pertama Grup Djarum setelah pandemi adalah Ranch, sebuah perusahaan ritel produk primer. Transaksi ini terjadi pada September 2021 dengan nilai sekitar Rp2 triliun.

Pasca akuisisi, harga saham Ranch langsung melejit hingga 400% pada awal Desember 2021. Namun, euforia ini tidak bertahan lama. Setelah periode mandatory tender offer berakhir di Desember 2021, saham Ranch mulai turun dan kini sudah anjlok 82% dari puncaknya.

Dari sisi kinerja keuangan, Ranch juga mengalami tekanan. Pada 2022 dan 2023, perusahaan ini mencatatkan kerugian. Baru pada 2024, Ranch membukukan laba senilai Rp73 miliar di kuartal kedua, meskipun kuartal lainnya masih merugi.

Akuisisi Ranch dilakukan untuk memperkuat bisnis grocery online Blibli. Sayangnya, sinergi ini belum menunjukkan hasil yang signifikan. Bahkan, Blibli sempat mengalami penurunan pendapatan pada 2023 sebelum kembali naik pada 2024.

Akuisisi SUPR: Lonjakan 1.400% dan Laba Rp1 Triliun!

Pada 2022, Grup Djarum melalui TOWR mengakuisisi 94,03% saham SUPR dengan nilai transaksi Rp16,72 triliun. Harga sahamnya saat itu berada di Rp15.640 per lembar.

Pasca akuisisi, saham SUPR naik gila-gilaan hingga 1.400% antara Maret 2021 – Maret 2022. Berbeda dengan Ranch, kenaikan saham SUPR bertahan lebih lama meskipun periode mandatory tender offer sudah berakhir di Januari 2022.

Dari sisi fundamental, laba bersih SUPR juga mengalami peningkatan signifikan. Pada 2022, laba perusahaan melonjak ke Rp936 miliar, naik dari sekitar Rp700 miliar pada 2020. Tren positif ini berlanjut di 2023 dengan laba menembus Rp1 triliun. Namun, di 2024, pertumbuhan laba cenderung stagnan.

Selain itu, akuisisi ini memberikan tambahan aset bagi TOWR berupa 6.780 menara telekomunikasi dan 9.000 km fiber optik. Ini menunjukkan bahwa akuisisi SUPR lebih strategis dibandingkan Ranch, dengan dampak positif pada kinerja perusahaan.

Akuisisi SSIA: Saham Naik 289%, Lalu Koreksi

Pada Mei 2024, Grup Djarum melalui Anarawata Puspa Utama membeli sebagian saham Surya Cipta Swadaya, anak usaha SSIA, dengan nilai transaksi Rp3,1 triliun. SSIA sendiri mengelola kawasan industri di Subang.

Kehadiran Grup Djarum dianggap sebagai investor strategis untuk mempercepat pengembangan kawasan industri tersebut. Saham SSIA pun mengalami kenaikan luar biasa, hingga 289% dalam 9 bulan pertama tahun 2024.

Namun, setelah mencapai puncaknya pada September 2024, harga saham SSIA mulai terkoreksi. Ini adalah pola yang sering terjadi pada saham yang mengalami euforia pasca akuisisi.

Akuisisi IBST: Naik 71%, Lalu Sideways

Pada 2024, TOWR kembali melakukan aksi akuisisi dengan membeli 90% saham IBST senilai Rp3 triliun, dengan harga per lembar sekitar Rp2.800. Saham IBST langsung melejit 71% dalam sebulan setelah pengumuman akuisisi.

Namun, setelah periode mandatory tender offer selesai pada Agustus 2024, harga saham IBST mulai bergerak sideways di kisaran Rp5.000 – Rp5.500.

Akuisisi ini memberikan tambahan bagi TOWR berupa 3.300 menara telekomunikasi dan 16.000 km fiber optik. Artinya, ini adalah langkah strategis untuk memperkuat bisnis infrastruktur telekomunikasi mereka.

Nasib Saham DATA: Apakah Akan Mengikuti Pola yang Sama?

Melihat sejarah akuisisi Grup Djarum, mayoritas saham yang mereka beli mengalami kenaikan tajam dalam jangka pendek, lalu mengalami koreksi atau pergerakan stagnan setelah periode mandatory tender offer. Pola ini terlihat pada Ranch, SSIA, dan IBST.

Saat ini, akuisisi 40% saham DATA oleh TOWR masih dalam tahap negosiasi. Jika disepakati, harga pembelian dan periode mandatory tender offer akan menjadi faktor penentu pergerakan saham selanjutnya.

Salah satu alasan utama akuisisi ini adalah sinergi antara bisnis DATA dan anak usaha TOWR, E4T, yang memiliki kesamaan dalam bisnis fiber optik. Akuisisi ini akan menambah aset fiber optik TOWR, meskipun kontribusi DATA masih kecil dibandingkan aset yang sudah dimiliki TOWR.

Kesimpulan: Apakah Akuisisi Ini Menguntungkan Investor?

Mengamati pola dari beberapa akuisisi Grup Djarum, kita bisa menarik beberapa kesimpulan:

  • Saham yang diakuisisi biasanya melonjak dalam jangka pendek, terutama sebelum dan selama periode mandatory tender offer.
  • Setelah itu, banyak yang mengalami koreksi atau pergerakan stagnan, kecuali saham dengan pertumbuhan laba yang kuat seperti SUPR.
  • Akuisisi dilakukan dengan tujuan memperkuat bisnis grup, terutama dalam sektor telekomunikasi dan ritel.

Bagi investor, strategi terbaik adalah memahami pola ini dan menentukan apakah ingin masuk untuk keuntungan jangka pendek atau menunggu perkembangan kinerja fundamental perusahaan setelah akuisisi.

Jadi, apakah kamu tertarik masuk ke saham DATA atau TOWR? Atau justru memilih untuk wait and see? Keputusan ada di tanganmu!

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x