Berita Korporasi

Prospek Cuan Saham INCO: Bedah Tuntas Nickel Matte, RKAB, dan Gebrakan HPAL!

Wagelaseh! Baru juga kelar earnings call PT Vale Indonesia (INCO) kemarin, para investor udah pada riuh bahas prospek gila-gilaan ke depan. Yang jadi fokus utama? Tentu aja soal cash cost nickel matte yang bikin penasaran di tengah ketegangan geopolitik, potensi kenaikan kuota RKAB, sama progres kilat proyek ekspansi Pomalaa dan Bahodopi yang bikin mata melek. Yuk, kita bedah satu-satu biar gak FOMO!

Nickel Matte: Jaga Cash Cost <US$10.000/Ton, Gas Teknologi Baru!

Bro, manajemen INCO itu serius banget lho buat jaga cash cost nickel matte biar tetep di bawah US$10.000/ton sampe 2026. Padahal realisasi 2025 aja udah di US$9.339/ton, ini mah makin optimis! Mereka juga antisipatif banget, stok energi (air, diesel, batu bara) aman sekitar dua bulan, plus sulfur buat buffer sampe 8-9 bulan. Anti-panik deh!

Gak cuma itu, INCO lagi ngegas eksplorasi teknologi OESBF buat monetisasi saprolit kelas receh (berkadar rendah), biar gak ada yang kebuang sia-sia. Plus, ada optimasi proses pengeringan di kiln sama pengangkutan bijih pake truk listrik (EV hauling) biar makin efisien dan ramah lingkungan. Keren, kan?

Penjualan Bijih Saprolit: Kuota Melejit, Harga Bikin Sumringah?

Nah, soal jualan bijih saprolit, dari total RKAB sekitar 8,1 juta wmt, manajemen INCO alokasiin 5-6 juta wmt buat produksi bijih saprolit, sisanya (~2 juta wmt) buat bijih limonit. Estimasi cash cost di blok Bahodopi sekitar US$18/ton (udah sama royalti!), nah kalo di blok Pomalaa diprediksi bakal lebih rendah lagi karena skalanya yang lebih gede. Mantap!

FYI aja nih, manajemen mengindikasikan harga jual bijih saprolit di Q1 2026 diprediksi lebih kece dibanding Q4 2025, meski belum disebutin angka pastinya. Kalo ada potensi revisi RKAB di periode Juni–Juli 2026, INCO siap fokus produksi bijih nikel seoptimal mungkin biar dapet jatah kuota tambahan dari penambang yang underperform. Stok bijih limonit di Sorowako sama pre-stripping lokasi tambang juga udah disiapin. Gercep abis!

Limonit & HPAL: Proyek Gaspol, Kualitas Nomor Satu!

Proyek Pomalaa, Bahodopi, Sorowako: Progress On-Track!

  • Di Pomalaa, progres pembangunan tambang udah 60% per Januari 2026, sementara pembangunan HPAL-nya ~53%. Target operasi? Q3 2026. Pengiriman bijih perdana bahkan dipercepat 2 bulan jadi Februari 2026 buat persiapan uji coba. Gaspol!
  • Kalo di Bahodopi, progres pembangunan tambang udah hampir rampung (~99% per Januari 2026!), sementara pembangunan HPAL 21,5%. Target operasi di Q4 2026.
  • Untuk Sorowako Limonite, masih tahap awal dengan progres pembangunan tambang ~37% dan HPAL ~17% per Januari 2026. Target operasi di Q2 2027.

Strategi Kepemilikan & Diversifikasi Sumber Daya

Manajemen INCO juga tegaskan, pertimbangan utama buat eksekusi opsi kepemilikan di proyek HPAL itu bukan cuma soal EBITDA positif doang, tapi yang paling penting adalah kualitas smelter HPAL pas beroperasi nanti. Opsi top-up kepemilikan hingga 30% di JV Pomalaa sama Sorowako bakal dieksekusi paling cepat 2027 dan udah masuk rencana capex. Sebagai konteks, INCO adalah pemilik minoritas di semua proyek HPAL ini ya.

Terakhir, buat merespons kenaikan harga sulfur, INCO udah siap jurus diversifikasi sumber asam sulfat. Bisa pake pirit, gipsum, atau asam alternatif macem asam klorida (HCl). Manajemen melihat teknologi HPAL terbaru berpotensi fleksibel banget sama jenis input sulfur atau asam yang beda-beda. Jadi, gak perlu khawatir soal pasokan! Prospek INCO emang bikin deg-degan positif!

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x