Prospek Menarik Saham Raharja Energi Cepu (RATU) Setelah Melantai di BEI
Raharja Energi Cepu (RATU) secara resmi telah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 8 Januari 2024. Saham ini dibuka dengan harga 1.150 rupiah per lembar dan langsung melambung, ditutup melonjak hingga +25% menyentuh batas auto reject di level 1.435 rupiah per lembar. Saat IPO, RATU ditawarkan dengan valuasi mencapai 13,1x P/E 1H24 annualized, yang merupakan level lebih premium dibandingkan dengan valuasi peers–nya seperti Medco Energi Internasional (MEDC) di level 4,9x P/E 9M24 annualized.
Dalam artikel ini, kami akan mencoba memberikan guidance sah bagaimana investor dapat memandang dan menilai prospek saham ini ke depannya, tak hanya dari peluang trading jangka pendek.
Model Bisnis dan Kinerja pada 1H24
RATU merupakan perusahaan holding di sektor minyak dan gas (migas) yang dimiliki oleh Happy Hapsoro. Anak usaha Rukun Raharja (RAJA) ini memiliki hak partisipasi sebesar 2,2423% di Blok Cepu melalui entitas asosiasi dengan kepemilikan 49%, PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC). Selain itu, RATU juga memiliki hak partisipasi sebesar 8% di Blok Jabung melalui anak usaha dengan kepemilikan 99%, PT Raharja Energi Tanjung Jabung (RETJ).
Secara keseluruhan, kinerja RATU masih tumbuh pada 1H24, yang mana penurunan produksi di Blok Cepu berhasil terkompensasi oleh peningkatan kinerja Blok Jabung. Per 1H24, RATU mencatatkan pendapatan sebesar 28 juta dolar AS (+143% YoY) dan laba bersih sebesar 7,4 juta dolar AS (+20,3% YoY). Blok Jabung menjadi penyumbang utama laba bersih dengan kontribusi 58%, sementara Blok Cepu berkontribusi 42%.
Blok Jabung sendiri baru saja diakuisisi RATU pada akhir 2023 dengan nilai akuisisi sebesar 26,5 juta dolar AS untuk 8% hak partisipasi di blok tersebut. Nilai akuisisi ini tergolong atraktif karena mengimplikasikan valuasi akuisisi per cadangan migas sebesar 1,3 juta dolar AS per MMBOE, yang jauh lebih murah dibandingkan dengan beberapa akuisisi serupa oleh perusahaan lain belakangan ini:
MEDC (2022) – Akuisisi 54% hak partisipasi Blok Corridor senilai 10,6 juta dolar AS per MMBOE
MEDC (2023) – Akuisisi 20% hak partisipasi Blok 48 dan 60 di Oman senilai 11,4 juta dolar AS per MMBOE
Hibiscus Petroleum (2024) – Akuisisi 38% hak partisipasi Blok B Maharajalela di Brunei Darussalam senilai 12 juta dolar AS per MMBOE
Rencana Akuisisi Baru
RATU pun tengah merencanakan untuk kembali melakukan akuisisi. Pada 16 Oktober 2024, Direktur Utama RAJA, Djauhar Maulidi, mengumumkan bahwa perseroan telah memasuki tahap akhir pembicaraan untuk mengakuisisi sebagian hak partisipasi di blok migas baru. Meski tidak merinci detail blok yang akan diakuisisi, Maulidi menyebut bahwa hak partisipasi di blok tersebut akan relatif lebih besar dibandingkan hak partisipasi di Blok Jabung. Kami memperkirakan, akuisisi ini nantinya akan dilakukan oleh RATU, selaku anak usaha RAJA di bidang hulu migas. Dengan modal awal yang baik dan balance sheet yang kuat, RATU siap untuk mengeksekusi strategi ini.
Guidance Kinerja
Guidance Kinerja
RATU memperkirakan bahwa total produksi migas dari Blok Jabung dan Cepu pada 2025 akan relatif sama dengan tahun lalu. Produksi kedua blok ini baru diharapkan meningkat pada 2026, terutama di Blok Cepu, seiring dengan kegiatan eksplorasi lanjutan lewat program Banyu Urip Infill Clastic. Meski tanpa peningkatan produksi, RATU optimis pendapatan dapat tumbuh double digit pada 2025.
Walaupun RATU memiliki potensi pertumbuhan secara organik, menilai RATU hanya dengan mempertimbangkan faktor pertumbuhan organik saja tidaklah menarik, mengingat valuasinya yang premium jika dibandingkan dengan peers–nya. Kami cenderung menilai RATU sebagai growth stock, di mana perseroan memiliki potensi untuk bertumbuh secara signifikan, namun lebih mengandalkan akuisisi blok-blok migas.
Kesimpulan
Simpulannya, faktor utama yang menjadi kunci bagi RATU adalah keberhasilan perusahaan dalam memperbesar portofolio migas dengan valuasi akuisisi yang reasonable. Dengan strategi yang tepat dalam meningkatkan hak partisipasi di blok-blok migas yang ada dan melakukan akuisisi baru, RATU berpotensi memberikan dampak positif bagi kinerja serta membuat harga sahamnya berpeluang diperdagangkan secara premium di masa depan. Di sisi lain, risiko utama yang harus diperhatikan adalah ketidakberhasilan dalam akuisisi dengan valuasi wajar, mengingat valuasi RATU yang premium. Manajemen yang baik dan strategi akuisisi yang cermat merupakan hal terbaik untuk meminimalkan risiko ini.
