Prospek Saham BUKA: Sisa Dana IPO Rp4,2 T Mau Dibawa ke Mana, Bosku?
Saham BUKA, alias Bukalapak, lagi di titik terendah banget nih, bro, semenjak dia melantai di bursa alias IPO. Buat investor yang udah nyangkut, ini pasti bikin pusing tujuh keliling. Nah, salah satu momentum terakhir yang masih jadi harapan adalah gimana BUKA bisa mengoptimalkan sisa dana IPO mereka. Tenggat waktunya gak main-main, cuma sampai Desember 2026!
Pertanyaannya sekarang, apakah prospek saham BUKA masih menarik? Yuk, kita bedah bareng!
Dana IPO Bukalapak: Rp4,2 Triliun Masih Nganggur?
BUKA ngumumin kalau sampai akhir Desember 2025, mereka udah pakai dana IPO sekitar Rp17,04 triliun. Artinya, masih ada sisa Rp4,2 triliun lagi yang belum kepakai, bosku! Sepanjang 2025 itu, BUKA cuma ngabisin sekitar Rp4,92 triliun dari dana IPO.
Dalam keterbukaan informasi tanggal 11 Februari 2026, BUKA nge-set target penyelesaian realisasi dana IPO ini sampai 31 Desember 2026. Katanya sih, dana itu bakal dipake sesuai peruntukan awal. Tapi kok… ada yang berubah?
Perubahan Alokasi Dana IPO BUKA: Ada Apa Nih?
FYI aja nih, waktu RUPSLB tanggal 3 Desember 2024 lalu, ada beberapa perubahan penting soal penggunaan dana IPO BUKA yang disepakati:
- Modal kerja BUKA: Ini malah naik dari 33% jadi 40%. Wah, porsi gede nih!
- Modal kerja PT Buka Mitra Indonesia: Turun jadi 12% (dari 15%).
- Modal kerja PT Buka Usaha Indonesia: Jeblok banget, jadi 0,1% (dari 15%).
- Modal kerja PT Buka Investasi Bersama: Turun jadi 0,5% (dari 1%).
- Modal kerja PT Buka Pengadaan Indonesia: Turun sekitar 0,2% (dari 1%).
- Modal kerja Bukalapak Pte. Ltd.: Turun jadi 0,05% (dari 1%).
- Modal kerja PT Five Jack: Turun jadi sekitar 0,5% (dari 1%).
- Sisanya 46,65% bakal dipakai buat pertumbuhan atau pengembangan bisnis BUKA dan anak usahanya. Bisa lewat beli aset, nyuntik modal ke perusahaan patungan, atau modal kerja entitas anak.
Tapi, yang bikin geleng-geleng, realisasi penggunaan dana IPO BUKA ini kok jadi agak abu-abu ya? Kalau kita intip sepanjang 2025, yang jelas cuma buat modal kerja BUKA senilai Rp720 miliar. Nah, yang Rp4,2 triliun sisanya ini, rinciannya belum jelas mau digaspol buat apa. Padahal, Rp4,28 triliun ini gede banget lho buat pengembangan bisnis!
Kalau BUKA bisa investasi ke bisnis yang seksi dan punya potensi growth bagus, ini bisa jadi sinyal positif banget buat saham BUKA yang harganya lagi terpuruk. Tapi, kalau cuma jadi modal kerja buat bisnis yang sekarang, yang mayoritas jualan produk digital, kayaknya sisa dana IPO itu gak bakal jadi daya tarik yang mantul buat prospek saham BUKA, bro.
Bisnis BUKA Sekarang: Revenue Naik, Tapi Kok Marginnya Tipis Banget?
Sampai kuartal I/2026, BUKA emang catet kenaikan pendapatan yang signifikan, naik 63% jadi Rp2,37 triliun. Ini didorong sama segmen bisnis gaming yang ngegas 90,3% jadi Rp1,1 triliun. Keren kan?
Eits, jangan seneng dulu. Kenaikan pendapatan ini gak bikin laba bersihnya positif, bosku. Malah di pos laba usaha masih rugi Rp39 miliar!
Kenapa gitu?
Soalnya, meskipun bisnis gaming naik kenceng, margin keuntungannya tipis banget, cuma 1%! Laba dari segmen itu cuma Rp27,81 miliar. Ini yang bikin pusing!
Di sisi lain, segmen bisnis BUKA lainnya malah pada boncos:
- Mitra Bukalapak: Pendapatan turun 31% jadi Rp174 miliar, dan hasilnya rugi Rp4,26 miliar.
- Bmoney (platform investasi): Pendapatan tumbuh 79% jadi Rp20,98 miliar, tapi hasilnya masih rugi Rp1,82 miliar.
- Segmen ritel (fokus ke apparel dan furniture): Pendapatan turun 10,5% jadi Rp79,43 miliar. Hasil segmennya masih rugi Rp12 miliar.
Ditambah lagi, rugi bersih BUKA di kuartal I/2026 nyentuh Rp425 miliar! Ini didorong sama adanya floating loss sekitar Rp587 miliar. Kita sih curiga ini ada hubungannya sama penurunan harga saham BBHI yang lagi lesu sepanjang tahun ini. Haduh!
Kesimpulan: Prospek Saham BUKA Tergantung di Mana?
Dari semua drama di atas, nasib prospek saham BUKA bakal sangat tergantung sama gimana cara emiten ini ngabisin dana IPO senilai Rp4 triliun lebih itu sampai akhir tahun 2026.
Kalau ujung-ujungnya cuma buat modal kerja bisnis yang sekarang, yang terus-terusan merugi dengan pangsa pasar yang rendah, mungkin setelah Desember 2026, BUKA jadi kurang seksi lagi. Kenapa?
Soalnya, BUKA bakal kehilangan pendapatan keuangan dari dana IPO yang ditargetkan udah habis di 2026. Parahnya lagi, dana IPO sebesar itu gagal dioptimalkan buat mencari ruang pertumbuhan bisnis yang lebih mantap jiwa.
Kecuali, BUKA berani merevisi target penggunaan dana IPO jadi lebih lama lagi. Tujuannya? Buat mikir lebih matang dan masuk ke bisnis yang lebih menjanjikan dan bisa bikin cuan gede!

