Saham DEWA (Darma Henwa): Laba Bersih Q1 Ngegas +35%, Prospek Bengalon Bikin Melek!
Langsung aja kita bedah laporan keuangan terbaru dari DEWA (PT Darma Henwa Tbk) nih, Bro! Di kuartal pertama 2026, DEWA berhasil catat laba bersih yang lumayan bikin mata melek: Rp93 Miliar! Angka ini naik 35% dari tahun sebelumnya, gak kaleng-kaleng!
DEWA 1Q26: Laba Bersih Sesuai Ekspektasi, Tapi…
Kinerja laba bersih Rp93 Miliar ini memang sejalan sama ekspektasi pasar, Guys. Tapi, perlu diingat, angka segini baru sekitar 12% dari estimasi konsensus untuk proyeksi laba setahun penuh 2026. Jadi, PR-nya masih panjang buat ngejar target.
Intip Angka Penting DEWA di 1Q26:
- Laba Bersih: Rp93 Miliar (naik 35% YoY).
- Capaian dari Target 2026F: Sekitar 12% dari estimasi konsensus.
Gaspol Prospek DEWA: Bengalon Bikin Optimis!
Nah, ini yang bikin prospek saham DEWA ke depan makin hot. Ada potensi kenaikan laba yang signifikan, bahkan bisa auto ngegas mulai kuartal kedua 2026. Kenapa bisa begitu?
Strategi DEWA Bikin Cuan:
- Pengambilalihan Proyek Bengalon: Mulai April 2026, DEWA bakal pegang kendali penuh pengerjaan proyek Bengalon di PT Kaltim Prima Coal (KPC). Ini bisa jadi kunci utama peningkatan kinerja, Bro!
- Ekspansi Klien Baru: Ada potensi tambahan volume kontrak dari klien-klien di luar ekosistem BUMI Resources. Diversifikasi klien ini jelas bagus buat pondasi bisnis DEWA.
Core Profit DEWA 1Q26: Kok Agak Loyo?
Tapi, jangan cuma liat laba bersihnya doang. Kalau kita bedah lebih dalem, di level core profit (laba inti), kinerja DEWA di 1Q26 justru sedikit melambat. Laba inti turun jadi Rp125 Miliar (-24% QoQ, -1% YoY). Ada beberapa penyebabnya:
Alasan Laba Inti DEWA Turun:
- Pendapatan Turun & Hujan Deras: Pendapatan DEWA ambles 11% QoQ, dan rate pengerjaan ikut turun 7% QoQ. Salah satu biang keroknya? Curah hujan yang tinggi bikin volume material bergerak (material moved) relatif flat. Selain itu, ada juga kontrak pihak ketiga yang hilang.
- Opex Bengkak: Biaya operasional (opex) DEWA melonjak 40% QoQ. Pos ‘Others’ yang tidak dirinci perseroan ini jadi tanda tanya, tapi jelas bikin laba tergerus.
- Margin Laba Kotor Terbatas: Meskipun beban subkontraktor sedikit turun, margin laba kotor DEWA gak banyak berubah. Proporsi pengerjaan in-house yang masih di level 74% bikin efisiensi dari penurunan beban subkontraktor kurang nendang.
FYI aja, perbandingan laba bersih 1Q26 langsung dengan 4Q25 itu kurang fair, ya. Soalnya di 4Q25 ada pendapatan one-off dari konsolidasi PT Gayo Mineral Resources.
Gimana menurut lu, Bro? Prospek DEWA ke depan emang menjanjikan dengan proyek Bengalon, tapi tantangannya juga gak sedikit. Yuk, riset lebih lanjut sebelum ambil keputusan investasi!

