Berita Korporasi

INCO: Laba Bersih Vale Indonesia Q1 2026 Ngegas, Saham Nikel Makin Menjanjikan?

Buat lu para investor atau yang lagi kepo sama dunia saham nikel, ada kabar gokil nih dari INCO, alias PT Vale Indonesia Tbk. Kinerja keuangan mereka di Q1 2026 ternyata sukses bikin kaget, laba bersihnya loncat parah! Ini kenapa jadi sinyal penting buat portofolio investasi lu ke depan.

Laba Bersih INCO Q1 2026: Ngacir Abis!

Bayangin aja, Vale Indonesia (INCO) di kuartal pertama tahun 2026 ini berhasil bukukan laba bersih US$44 juta. Angka ini naik 85% dibanding kuartal sebelumnya (QoQ) dan bahkan melonjak 100% dari tahun lalu (YoY)! Jujur aja, hasil ini lumayan sesuai ekspektasi pasar, karena udah setara 20% dari estimasi konsensus 2026F.

Gimana caranya INCO bisa ngegas begini? Padahal, ada beberapa tantangan operasional lho di awal tahun. Tapi, kuncinya ada di kombinasi kenaikan harga jual rata-rata (ASP) produk mereka dan normalisasi beban operasional (opex) setelah ada biaya one-off di 4Q25. Meskipun volume penjualan sempet nyungsep karena penghentian sementara operasional tambang akibat penundaan persetujuan RKAB dan perbaikan furnace nickel matte, laba bersih tetep mantul!

Penyebab Cuan INCO: Ini Dia Detailnya!

Laba usaha INCO di Q1 2026 mencapai US$42 juta, padahal di Q4 2025 cuma US$3 juta dan Q1 2025 cuma US$8 juta. Lonjakan ini didorong oleh beberapa faktor utama:

  • ASP Bikin Sumringah: Harga jual rata-rata bijih saprolit ngegas +44% QoQ, dan nickel matte juga naik +15% QoQ. Ini jelas dong, bikin pendapatan mereka makin tebel.
  • Beban Usaha Kembali Normal: Beban usaha turun drastis ke US$9 juta (-68% QoQ). Kenapa bisa? Karena di Q4 2025 lalu ada biaya restorasi lingkungan US$15 juta yang sifatnya one-off. Nah, di Q1 2026 ini udah nggak ada lagi.
  • Stok Melimpah, Beban Pokok Ketahan: Ada akumulasi persediaan sebesar US$25 juta di Q1 2026 (bandingin sama Q4 2025 yang minus US$7 juta). Ini artinya, produksi mereka melebihi penjualan. Alhasil, beban pokok penjualan (COGS) di Q1 2026 jadi lebih tertahan.

Operasional INCO: Antara Turunnya Volume dan Naiknya Harga

Secara operasional, penjualan nickel matte memang turun ke 13.727 ton di Q1 2026 (-25% QoQ, -20% YoY). Tapi, jangan salah, ASP-nya justru naik jadi US$14.213/ton (+15% QoQ, +19% YoY). Begitu juga dengan penjualan bijih saprolit yang mencapai 0,98 juta wmt (-31% QoQ, tapi jauh lebih tinggi dari 0,08 juta wmt di Q1 2025) dengan ASP yang meroket ke US$59/wmt (+44% QoQ, +86% YoY).

Penurunan volume penjualan ini sebagian besar disebabkan oleh penundaan izin RKAB di awal tahun dan proses rebuilding furnace. Tapi, kenaikan harga nikel yang signifikan berhasil menutupi efek penurunan volume ini, bahkan bikin laba bersih INCO jadi makin moncer.

Jadi, meskipun ada tantangan di sisi volume, INCO nunjukkin kalo mereka punya ketahanan bagus lewat strategi harga dan efisiensi biaya. Ini bisa jadi poin penting buat lu yang lagi ngintip peluang di saham pertambangan nikel!

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x