Saham Retail Siap Panen Berkah Lebaran 2026? Intip Prospeknya di Tengah Bayang-bayang Deflasi!
Halo, investor kece! Pasti kalian sudah tahu dong, saham perbankan big caps sempat bikin deg-degan pas IHSG trading halt akhir Januari 2026 lalu. Tapi, mereka cepat banget recovery-nya! Nah, sekarang, yuk geser fokus kita ke sektor yang gak kalah menarik: saham retail. Apalagi, Lebaran 2026 sudah di depan mata. Kira-kira, sektor retail bisa jadi cuan besar atau malah melempem?
Di artikel ini, kita akan bedah tuntas prospek saham retail menjelang Lebaran. Kita bakal kupas tuntas peluang dan tantangannya, plus rekomendasi saham-saham pilihan yang punya potensi cetak profit, bahkan di tengah kondisi pasar yang dinamis. Siap-siap catat ya!
Lebaran 2026: Momentum Emas yang Dinanti Sektor Retail?
Memasuki Februari 2026, radar para pelaku pasar langsung tertuju ke satu momentum musiman paling sakti: Ramadan dan Lebaran. Secara historis, periode ini adalah golden era bagi sektor retail. Kenapa begitu? Karena, Bro & Sis, ini waktunya masyarakat all out belanja! Mulai dari baju baru, makanan-minuman khas Lebaran, sampai hadiah buat sanak saudara, semuanya bikin transaksi melesat.
Memang sih, awal Ramadan bisa beda-beda tiap tahunnya. Tapi, lonjakan konsumsi terbesar itu biasanya terjadi jelang hingga Hari Raya Idul Fitri. Tengok saja periode 2021-2024, efek Lebaran paling terasa di kuartal kedua. Nah, di 2025 lalu, karena Lebaran maju, dampaknya sudah terasa di kuartal pertama.
Untuk 2026 ini, Lebaran diperkirakan jatuh di sekitar akhir Maret atau awal April. Ini artinya, kita bisa melihat akselerasi kinerja retail mulai akhir Kuartal 1 hingga Kuartal 2. Peningkatan trafik pusat perbelanjaan, pertumbuhan transaksi omnichannel, dan naiknya ukuran belanja konsumen bakal jadi pendorong utama. Artinya, emiten retail punya kesempatan emas buat perbaiki penjualan kuartalan, terutama di segmen discretionary seperti fesyen, alas kaki, dan lifestyle.
Waspada Deflasi dan Daya Beli Lesu: Deja Vu Lebaran 2025?
Eits, jangan euforia dulu! Ada tantangan yang membayangi sejak awal tahun ini, yaitu daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Hal ini tercermin dari fenomena deflasi yang terjadi jelang Lebaran.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, Januari 2026 kita mengalami deflasi 0,15% secara bulanan. Meskipun inflasi tahunan masih di 3,55%, deflasi bulanan ini perlu diwaspadai. Kenapa? Karena penurunan harga kebutuhan pokok seperti cabai, bawang merah, daging ayam, dan telur, meski menyenangkan di satu sisi, juga bisa jadi indikator permintaan masyarakat yang belum kuat. Harga murah karena pasokan melimpah atau karena orang memang kurang belanja?
Situasi ini mengingatkan kita pada Lebaran 2025. Saat itu, Indonesia juga mengalami deflasi di bulan Februari, padahal biasanya harga-harga naik jelang hari raya. Deflasi kala itu terjadi karena harga pangan turun dan daya beli melemah, bikin konsumsi rumah tangga lesu meskipun Lebaran sudah dekat.
Dengan deflasi muncul lagi di awal 2026, sektor retail berpotensi menghadapi tantangan serupa. Momentum Lebaran mungkin tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya jika masyarakat masih cenderung menahan belanja. Dalam kondisi begini, orang cenderung fokus pada kebutuhan pokok, sementara belanja barang non-esensial seperti fesyen dan lifestyle jadi lebih selektif.
Ke depan, kunci sukses bisnis retail ada pada kemampuan mereka menarik minat belanja konsumen. Promo tepat sasaran, harga kompetitif, dan produk yang sesuai kebutuhan akan sangat menentukan. Jika strategi ini jitu, Lebaran tetap bisa jadi pendorong penjualan, meski dinamikanya lebih menantang.
Strategi Cerdas Pilih Saham Retail di Tengah Badai Deflasi
Melihat peluang seasonality Lebaran yang menarik namun diiringi risiko deflasi dan daya beli, strategi kita harus pintar! Kami menyarankan untuk fokus pada emiten retail yang punya prospek kinerja positif di 2025 atau punya potensi sebagai dividen investing. Selain itu, emiten dengan positioning produk premium yang menyasar kalangan menengah ke atas patut dilirik, karena daya beli segmen ini cenderung lebih aman di kondisi pasar saat ini.
Pilihan Saham Retail Unggulan untuk Lebaran 2026
Berikut adalah beberapa saham pilihan yang kami rekomendasikan:
- ERAA & ERAL: Duo Gadget yang Bikin CuanPilihan pertama kita adalah duo saham yang tak terpisahkan: ERAA (Erajaya Swasembada Tbk.) dan anaknya, ERAL (Erajaya Digital Tbk.). Dua emiten ini panen berkah sejak meluncurkan iPhone 17 pada pertengahan Oktober 2025 lalu. Penjualan iPhone memang di bawah payung ERAA sebagai induk, tapi sebagian besar juga mengalir lewat jaringan toko ERAL, khususnya lewat outlet Urban Republic yang fokus pada produk Apple dan aksesorinya.
Ini terbukti di November 2025, peluncuran iPhone 17 jadi katalis utama. ERAA mencatat Same Store Sales Growth (SSSG) fantastis sebesar 41,2%, sementara ERAL juga gak kalah gila dengan SSSG 22,7%! Secara kumulatif hingga 11M2025, SSSG ERAA mencapai 4,5% dan ERAL lebih tinggi lagi di 15,1%. Manajemen juga konfirmasi bahwa ERAL di November terdorong langsung oleh penjualan iPhone 17 yang kencang lewat Urban Republic, dan potensi permintaannya masih berlanjut hingga Desember. Gokil!
- ERAA & ERAL: Duo Gadget yang Bikin CuanPilihan pertama kita adalah duo saham yang tak terpisahkan: ERAA (Erajaya Swasembada Tbk.) dan anaknya, ERAL (Erajaya Digital Tbk.). Dua emiten ini panen berkah sejak meluncurkan iPhone 17 pada pertengahan Oktober 2025 lalu. Penjualan iPhone memang di bawah payung ERAA sebagai induk, tapi sebagian besar juga mengalir lewat jaringan toko ERAL, khususnya lewat outlet Urban Republic yang fokus pada produk Apple dan aksesorinya.
- MAPI & MAPA: Raja Lifestyle Premium yang Tetap ResilienBerikutnya ada kakak-adik dari grup yang sama: MAPI (Mitra Adiperkasa Tbk.) dan MAPA (MAP Aktif Adiperkasa Tbk.). MAPA lebih fokus pada segmen sportswear dan active lifestyle dengan merek-merek global top, sementara MAPI adalah holding retail dengan portofolio lebih luas, mencakup fesyen, department store, hingga F&B. Keduanya punya kesamaan penting: produk premium dan target konsumen menengah ke atas. Jadi, daya beli segmen ini sangat berpengaruh pada performa mereka.
Yang menarik, di tengah tantangan konsumsi, laba bersih MAPA diproyeksikan melonjak dari sekitar Rp1,35 triliun di 2024 menjadi Rp1,54 triliun di 2025, atau tumbuh sekitar 14,1% YoY. MAPI juga gak mau ketinggalan, laba bersihnya diperkirakan naik dari Rp1,76 triliun di 2024 menjadi Rp1,83 triliun di 2025, setara pertumbuhan 4,0% YoY.
Proyeksi ini menunjukkan permintaan dari segmen menengah atas masih sangat resilien, terutama untuk produk fesyen dan lifestyle premium. Apalagi, permintaan produk-produk ini makin menggila seiring booming-nya olahraga padel. MAPI juga masih dapat cipratan untung dari iPhone 17 lewat jaringan Digimap mereka. Dua-duanya punya daya tarik kuat!
- MAPI & MAPA: Raja Lifestyle Premium yang Tetap ResilienBerikutnya ada kakak-adik dari grup yang sama: MAPI (Mitra Adiperkasa Tbk.) dan MAPA (MAP Aktif Adiperkasa Tbk.). MAPA lebih fokus pada segmen sportswear dan active lifestyle dengan merek-merek global top, sementara MAPI adalah holding retail dengan portofolio lebih luas, mencakup fesyen, department store, hingga F&B. Keduanya punya kesamaan penting: produk premium dan target konsumen menengah ke atas. Jadi, daya beli segmen ini sangat berpengaruh pada performa mereka.
- RALS: Pilihan Cuan Para Pemburu DividenTerakhir, ada RALS (Ramayana Lestari Sentosa Tbk.). Daya tarik utama saham ini saat ini bukan cuma soal ekspansi agresif, tapi lebih ke dividen. Dengan karakter bisnis department store yang matang dan kebutuhan belanja yang relatif stabil di segmen menengah, RALS dikenal sebagai emiten yang sangat royal membagikan dividen. Pas banget buat para investor yang suka passive income!
Yang bikin makin semangat, laba bersih RALS di 2025 diproyeksikan naik jadi sekitar Rp364 miliar dari Rp314 miliar di 2024, alias tumbuh kurang lebih 15,9% YoY. Kenaikan laba ini tentu saja membuka ruang yang lebih besar untuk pembagian dividen. Jika RALS mampu membagikan dividen tunai sebesar Rp50 per saham, dengan harga saham sekitar Rp450, potensi dividend yield-nya bisa mencapai sekitar 11,1%. Lumayan banget kan?
Nah, jadi gimana nih, bro & sis investor? Kalian mau pilih emiten retail yang mana? Mau kejar growth yang ngebut, atau lebih suka yang rajin bagi dividen? Pilihan ada di tangan kalian!

