Saham TOBA Ambyar 2025? Bongkar Tuntas Kerugiannya dan Prospek Cuan di 2026!
Kinerja saham TOBA sepanjang 2025 lagi kena mental, alias rugi gede banget. Banyak yang mikir ini gara-gara TOBA divestasi dua Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan harga diskon, terus otomatis rugi. Tapi, beneran cuma itu doang penyebabnya? Atau jangan-jangan, bisnis intinya TOBA juga udah gak karuan? Yuk, kita bedah bareng, biar lu tau gimana sih prospek saham TOBA buat tahun 2026!
Kenapa TOBA Ambyar di 2025? Bongkar Tuntas Kerugiannya!
TOBA mencatatkan kerugian yang bikin geleng-geleng kepala, mencapai sekitar 162,26 juta AS. Padahal, di periode yang sama sebelumnya, masih sempat untung 25,35 juta AS. Ini sih namanya terjun bebas, bro!
Bukan Cuma Divestasi, Operasional Pun Merana!
Kalo lu pikir kerugian gede TOBA di 2025 cuma karena divestasi dua PLTU yang rugi 96,86 juta AS, lu salah besar! Faktanya, bisnis operasional intinya sendiri juga udah merugi. Laba/rugi usaha TOBA, bahkan tanpa ngitung kerugian divestasi, udah minus sekitar 44,95 juta AS. Gokil gak tuh?
5 Biang Kerok Bikin Kinerja TOBA Terjun Bebas
Ini dia 5 faktor utama yang bikin TOBA pusing tujuh keliling:
- Pendapatan Anjlok Drastis: Pendapatan TOBA turun 5,16 persen jadi 365 juta AS. Hampir semua segmen bisnis utamanya ngalamin penurunan, kecuali manajemen limbah yang naik pesat.
- Pertambangan batu bara: Turun 59 persen.
- Perdagangan batu bara: Turun 18,56 persen.
- Pembangkit listrik: Turun 76 persen.
- Hanya manajemen limbah yang naik 1.084 persen jadi Rp155 miliar, tapi ini efek dari akuisisi SEMBCorp Singapura di awal tahun.
- Beban Pokok Pendapatan Melonjak: Saat pendapatan turun, beban pokok pendapatan malah naik 8 persen! Ironisnya, kenaikan beban pokok ini justru terjadi di segmen manajemen pengelolaan limbah yang pendapatannya lagi naik. Segmen ini mencatatkan kenaikan beban pokok pendapatan 1.757 persen jadi 130 juta AS, dan ini jadi beban pokok terbesar TOBA.
- Beban Umum & Administrasi Ikut Naik: Beban umum dan administrasi juga ikutan naik 76 persen jadi 69 juta AS. Kita menduga ini juga masih ada kaitannya sama efek pasca-akuisisi SEMBCorp tersebut.
- Kerugian Divestasi Anak Usaha: Ini yang paling heboh! TOBA mencatatkan kerugian atas divestasi entitas anak senilai 96,86 juta AS.
- PT Minahasa Cahaya Lestari dijual 14,66 juta AS dengan kerugian divestasi 50,98 juta AS.
- PT Gorontalo Listrik Perdana dijual 34 juta AS dengan kerugian divestasi 45,89 juta AS.
- Beban Keuangan Nanjak Parah: Beban keuangan TOBA melonjak 108 persen menjadi 25,95 juta AS. Ini sih bikin pusing investor!
Dari semua fakta ini, jelas banget kalau TOBA rugi bukan cuma karena divestasi pembangkit listrik doang. Secara operasional, mereka juga lagi kesusahan. Apalagi, bisnis lamanya kayak batu bara yang tadinya jadi penopang, di 2025 ini malah merugi di segmen pertambangan ($30,69 juta AS), meski perdagangan batu bara masih untung tipis ($2,38 juta AS).
Ditambah lagi, bisnis-bisnis barunya kayak pengelolaan limbah dan kendaraan listrik masih nyumbang kerugian total 35 juta AS. PR-nya banyak banget nih!
Peluang Turnaround TOBA di 2026: Bisakah Bangkit dari Keterpurukan?
Meskipun kinerja 2025 bikin geleng-geleng, kita tetep liat ada beberapa potensi yang bisa bikin TOBA bangkit lagi di 2026:
- Harga Batu Bara Membaik: Kalo harga rata-rata batu bara di 2026 lebih tinggi dibanding 2025, ini bisa jadi angin segar buat pendapatan segmen pertambangan dan perdagangan batu bara.
- Normalisasi Laba Pembangkit Listrik: Di 2025, segmen ini rugi 96,46 juta AS karena kerugian divestasi yang 96,86 juta AS. Kalo efek divestasi ini udah lewat, laba dari pembangkit listrik sebenernya masih bisa sekitar 10,39 juta AS. Ini bisa jadi penyelamat!
- Tekan Kerugian Bisnis Baru: Kalo TOBA sukses menekan kerugian di segmen pengelolaan limbah dan bisnis baru lainnya (termasuk kendaraan listrik) jadi lebih rendah, ini bisa sangat membantu.
Kalo ketiga faktor ini berjalan lancar sesuai rencana, ada kemungkinan TOBA bisa mencatatkan turnaround jadi laba lagi di 2026. Bahkan, bisa untung bersih sekitar 1-5 juta AS (bisa lebih kalo bisnis batu bara pulih signifikan)!
Aksi Korporasi TOBA 2026: Refinancing, Buyback, sampe Right Issue!
TOBA juga nggak diem aja. Mereka udah ngejalanin beberapa aksi korporasi penting di awal 2026:
Obligasi & Refinancing Utang
TOBA baru aja ngeluarin obligasi berkelanjutan I tahap II senilai Rp500 miliar di awal 2026. Mayoritas dananya, yaitu Rp400 miliar, dipake buat ngelunasin Obligasi I Tahun 2023 seri A yang bunga-nya 8,8 persen. Sisanya:
- Rp46,39 miliar buat setoran modal ke PT Trisensa Mineral Utama (bisnis pertambangan batu bara).
- Sisanya lagi buat modal kerja perseroan.
Meski bunga obligasi buat refinancing ini lebih rendah, tapi ada potensi nambah beban keuangan TOBA sekitar Rp6,11 miliar (dengan asumsi tingkat bunga sama kayak 2025). Jadi, harus dicermati!
Buyback Saham: Penyelamat Harga?
TOBA juga lagi dalam fase buyback atau pembelian kembali saham, dari 24 Desember 2025 sampai 24 Maret 2026. Mereka nyiapin modal Rp586 miliar buat beli maksimal 825,74 juta lembar saham.
Kalo dihitung kasar, asumsi harga maksimal buat buyback ini di Rp710 per saham. Tapi, kalo harga pasar lebih rendah, ya bukan gak mungkin mereka bakal beli lebih banyak. Penting diinget, dana buyback yang direncanakan gak selalu dihabiskan semua. Biasanya sih cuma sekitar 10-20 persen doang yang dipake, apalagi buat saham yang likuiditasnya terbatas.
Siap-siap Right Issue!
Terakhir, TOBA juga lagi siap-siap buat right issue atau penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Prospektus awalnya udah dirilis, artinya bentar lagi bakal masuk momen persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) sampe akhirnya prospektus lengkapnya keluar. Ini bisa jadi suntikan modal baru buat TOBA, tapi juga bisa bikin saham jadi dilusi.

