AADI Bikin Kaget? Analisis Laba Adaro Andalan Indonesia 1Q26
Kinerja emiten batu bara memang selalu seru buat dibedah. Kali ini, sorotan kita jatuh ke AADI alias Adaro Andalan Indonesia. Baru-baru ini, mereka mencatat laba bersih yang bikin para investor garuk-garuk kepala, khususnya di kuartal pertama tahun 2026. Angka-angkanya gimana? Langsung aja kita ulik!
Laba Bersih AADI 1Q26: Kok Bisa Meleset dari Ekspektasi?
Di 1Q26, AADI berhasil mengantongi laba bersih US$143 juta. Keren? Eits, tunggu dulu. Angka ini ternyata turun 17% secara QoQ (Quarter-on-Quarter) dan 27% secara YoY (Year-on-Year). Parahnya lagi, laba segini cuma setara 16% dari estimasi konsensus untuk tahun 2026. Jauh banget dari rata-rata 1Q dua tahun terakhir yang biasanya bisa nyentuh 24% dari realisasi tahunan.
Jadi, bisa dibilang, kinerja AADI ini agak kurang nendang di mata pasar. Apa sih kira-kira penyebab utama anjloknya laba bersih ini?
Detail Penurunan Laba: Biang Keroknya Apa Sih?
Penurunan laba bersih AADI secara kuartalan ini utamanya dipicu oleh penurunan pendapatan yang lumayan signifikan, sekitar 20% QoQ. Pendapatan turun, ya otomatis laba ikut nyungsep, kan? Nah, pendapatan ini sendiri menyusut karena:
- Volume Penjualan Anjlok: Lu musti tau, volume penjualan AADI turun 22% QoQ. Bayangin, barang yang kejual makin sedikit, ya pendapatan ikutan seret.
- Kenaikan ASP yang Loyo: Meskipun harga batu bara acuan (ICI-3) melonjak 22% QoQ, harga jual rata-rata (ASP) AADI cuma naik tipis, sekitar 2% QoQ. Ini nunjukin ada gap antara harga pasar global sama harga jual AADI.
- Harga Ekspor Turun: Porsi pendapatan ekspor AADI itu gede banget, nyumbang 74% dari total pendapatan konsolidasi. Masalahnya, harga ekspor mereka malah turun 1% QoQ. Jelas ini jadi pukulan telak buat pendapatan mereka.
Margin Laba Kotor Naik, Kok Bisa? Ada Apa Ini?
Di tengah kabar kurang enak soal laba bersih dan pendapatan, ada satu poin menarik nih yang patut disorot: margin laba kotor AADI justru naik +20 bps QoQ. Padahal, biaya kas per ton (cash cost per ton) mereka juga ikutan naik 7% QoQ.
Kenapa bisa begitu? Ternyata kenaikan margin laba kotor ini didukung oleh dua hal:
- Penurunan Biaya Pembelian Batu Bara: Mereka berhasil menekan biaya untuk pembelian batu bara.
- Penumpukan Persediaan: Ada akumulasi persediaan, yang mungkin menunjukkan strategi untuk antisipasi harga jual di masa depan atau efisiensi biaya produksi.
Jadi, meskipun omzetnya lagi lesu, AADI masih mampu menjaga efisiensi operasional dari sisi biaya tertentu. Ini bisa jadi sinyal positif di tengah tantangan yang ada. Gimana menurut lu, menarik kan buat diikutin terus pergerakan saham AADI?

