ADRO Tetap Gacor? Bongkar Rahasia Kinerja Adaro Energy Saat ADMR Lagi Loyo-Loyonya
Pusing mikirin kinerja saham? Apalagi kalo liat laporan keuangan emiten-emiten raksasa kayak Adaro Energy Indonesia (ADRO). Banyak yang kaget, lho, pas tau laba bersih ADRO dari operasi yang dilanjutin (di luar spin-off AADI) cuma turun 21 persen. Padahal, anak usahanya, Adaro Minerals Indonesia (ADMR), laba bersihnya anjlok parah sampe 37 persen! Bahkan, laba usaha ADRO cuma melorot 9,88 persen, sementara ADMR udah jeblok 15 persen. Jadi, sebenernya apa sih yang bikin ADRO tetep strong?
ADMR Lagi Ngos-ngosan: Bisnis Batu Bara Metalurgi Kena Uji
Setelah ADRO lepas AADI, banyak yang ngira ADMR ini bakal jadi cash cow utama yang paling gacor. Maklum, ADMR kan fokus di batu bara metalurgi dan lagi bangun smelter aluminium yang digadang-gadang jadi masa depan. Eh, taunya tahun 2025 ini jadi momen berat buat ADMR.
Laba bersih ADMR tergerus 25,7 persen, nyungsep ke angka US$972 juta. Penyebab utamanya jelas, harga jual rata-rata (ASP) batu bara metalurgi anjlok parah lebih dari 25 persen, jadi cuma US$154 per ton. Padahal, segmen ini nyumbang 99,99 persen pendapatan ADMR sepanjang 2025. Walaupun volume penjualan ADMR udah naik 12,5 persen jadi 6,3 juta ton, tetep aja gak mampu nahan gempuran penurunan harga. Rugi banget, kan?
Ditambah lagi, saat pendapatan lagi seret, beban pokok pendapatan ADMR malah stagnan di US$577 juta. Beban usaha juga ikutan naik 13 persen jadi US$43 juta. Jadi wajar aja, kinerja laba usahanya makin tertekan.
Proyek Smelter Aluminium: Harapan Baru tapi Simpan “Kejutan”
Yang unik dari ADMR, biaya bunga pinjaman gak muncul sama sekali di laporan laba rugi tahun ini, padahal tahun lalu masih ada US$10,8 juta. Ini yang bikin persentase penurunan laba bersih mereka terlihat sedikit “mendingan” dibanding laba usaha.
Eits, tapi jangan salah sangka. Ini bukan berarti ADMR gak punya utang, lho. Justru utang mereka malah melonjak 63 persen jadi US$713 juta. Terus, kenapa bunga pinjamannya gak keliatan? Ada potensi karena biaya bunga itu dikapitalisasi. Artinya, biaya bunga dibebankan ke biaya pembangunan proyek smelter karena proyeknya masih dikerjakan sampai akhir 2025.
Nanti, kalo proyek smelter udah beroperasi komersial di 2026, biaya bunga pinjaman sekitar US$50 juta ini bisa aja muncul lagi di laporan laba rugi. Ini emang praktik normal dalam akuntansi, tapi bisa jadi “kejutan” yang bikin beban bunga naik signifikan.
Tapi tenang, kalo smelter lancar jaya beroperasi, harusnya kenaikan beban bunga ini bisa dikompensasi dengan pendapatan baru. Kecuali ya, kalo ada kendala operasional kayak perawatan smelter yang bisa ngerem pendapatan dan bikin laba rugi ADMR makin melorot.
Smelter aluminium ADMR sendiri udah masuk tahap pengujian dan komisioning sebagian di akhir 2025. Mereka lagi ngebut buat ningkatin kapasitas produksi sampai penuh di akhir 2026. Total kapasitasnya nanti diperkirakan 1,5 juta ton aluminium ingot per tahun, dibagi tiga tahap.
Buat tahap pertama, targetnya bisa produksi 500.000 ton aluminium ingot per tahun. Prediksi konservatif kita, di 2026 smelter ini bisa hasilin 50.000 – 100.000 ton ingot aluminium (target 500.000 ton per tahun di 2027-2028). Artinya, potensi pendapatan dari smelter ini bisa sekitar US$135 juta – US$270 juta di 2026. Lumayan, lho, ini bisa nyumbang 10-20 persen dari total pendapatan ADMR sekarang.
Pertanyaannya, berapa sih margin laba usahanya? Mengingat biaya awal operasional smelter biasanya lumayan tinggi. Dengan asumsi biaya energi gak terlalu gila-gilaan, kita perkirakan margin EBITDA bisa sekitar 20 persen. Kalo pendapatan US$135-270 juta, berarti potensi EBITDA-nya sekitar US$27-54 juta. Ini cuma simulasi kita ya, bisa beda jauh sama realita nanti!
Rahasia ADRO Gak Ikut Nyungsep: Siapa Penopang Laba Adaro Energy?
Nah, ini dia pertanyaan paling penting: kenapa ADRO gak ikutan kolaps padahal anak emasnya, ADMR, lagi babak belur? Ternyata eh ternyata, ADRO punya strategi diversifikasi yang gak kaleng-kaleng.
Setelah lepas AADI (tambang batu bara thermal), komposisi pendapatan ADRO jadi tiga bagian:
Kunci Pertahanan: Bisnis Kontraktor Pertambangan
Jagoan utama yang bikin ADRO tetep tegak adalah bisnis kontraktor pertambangan lewat PT Saptaindra Sejati (SIS). Ini dia kontributor pendapatan terbesar ADRO sepanjang 2025. Bayangin aja, pendapatan dari SIS naik 3,75 persen jadi US$1 miliar, dan labanya juga tumbuh 4,92 persen jadi US$145,13 juta. Jadi, pas ADMR lagi krisis, SIS ini jadi penopang utama yang bikin ADRO gak goyang.
Penopang Lain: Diversifikasi ke Pembangkit Listrik
Selain SIS, ADRO juga punya “cadangan” lain dari bisnis pembangkit listrik. ADRO punya 4 pembangkit, tapi yang masuk konsolidasi pendapatan lain-lain ada 3:
- PLTU Makmur Sejahtera Wisesa (100% milik ADRO, kapasitas 2×30 MW).
- PLTS Makmur Sejahtera Wisesa (100% milik ADRO, kapasitas 130 kWp + 467 kWp).
- PLTU Tanjung Power Indonesia (65% milik ADRO, 35% Korea EWP, kapasitas 2×100 MW).
Total pendapatan dari tiga pembangkit ini sepanjang 2025 mencapai sekitar US$44,88 juta. Angka ini juga lumayan banget buat nutupin sebagian penurunan kinerja ADMR.
Jadi, jelas ya, kinerja ADRO tetap terjaga kuat meskipun ADMR tertekan karena harga batu bara metalurgi lagi loyo. Kuncinya ada di pertumbuhan bisnis kontraktor pertambangan SIS dan kontribusi stabil dari segmen pembangkit listriknya. Ini bukti kalo diversifikasi bisnis itu penting banget buat ngejaga emiten tetap stabil di tengah gejolak pasar.

