Duel Raksasa Digital: GoTo Vs Grab, Siapa yang Beneran Laba dan Gimana Nasib Merger Mereka?
Dua raksasa on-demand, Grab dan GoTo, baru aja rilis laporan keuangan setahun kemarin, dan hasilnya lumayan bikin melongo. Yang satu udah nunjukkin taring profitnya, yang satunya lagi masih berjuang keras nutup defisit. Nah, kira-kira gimana prospek mereka ke depan, dan yang paling penting: gosip merger itu beneran bakal kejadian apa cuma angin lalu doang? Yuk, kita bedah satu per satu biar gak ketinggalan info!
Grab: Ngegas Abis, Cuan Bikin Nangis!
Gaes, perlu lu inget, saham Grab itu listing-nya di NASDAQ. Jadi, semua angka yang gw sebutin nanti udah dikonversi ke Rupiah ya, pake kurs Rp16.500 per dolar AS. Biar lu pada gak puyeng ngitungnya!
Pendapatan Meroket & Cuan Gede Bikin Auto Senyum
- Sepanjang tahun 2025 lalu, kinerja Grab bener-bener solid banget. Pendapatan perusahaan ini melesat 20 persen (YoY), nembus angka Rp55,6 triliun (sekitar US$3,37 miliar). Ini berkat layanan mobility dan deliveries yang makin ngebut di semua lini ekosistem Grab.
- Urusan profitabilitas, Adjusted EBITDA Grab sukses tembus Rp8,25 triliun (sekitar US$500 juta), melonjak 60 persen YoY! Yang lebih keren lagi, Grab berhasil catatin laba bersih sekitar Rp3,3 triliun (sekitar US$200 juta). Gokil, dari rugi sekarang udah berbalik untung!
Operasional Makin Gahar, Arus Kas Ngacir, Siap Tempur!
- Aktivitas transaksi di platform juga gak kalah ngeri. On-Demand GMV (nilai transaksi mobility dan delivery) naik 21 persen YoY jadi Rp365 triliun (sekitar US$22,14 miliar). Pengguna aktif bulanan rata-ratanya juga mencapai 47,2 juta pengguna, naik 14 persen. Cuma bisnis keuangannya aja nih yang masih bikin Grab tekor dikit.
- Soal duit kas, Grab pamer Adjusted Free Cash Flow positif Rp4,8 triliun (sekitar US$290 juta), melonjak 78 persen YoY. Ini bukti kalau Grab makin efisien ngurus operasional dan jago monetisasi platformnya.
- Secara keseluruhan, kinerja Grab itu paket komplit: pendapatan tumbuh kuat, profitabilitas naik, dan arus kas positif. Ini fondasi kuat buat Grab ekspansi lebih gila lagi di tahun 2026!
GoTo: Rugi Tipis, Tapi Lonjakan Profitnya Bikin Jantungan!
Sekarang giliran GoTo. Sepanjang tahun 2025 lalu, GoTo juga berhasil catat peningkatan profitabilitas yang patut diacungi jempol, meskipun secara akuntansi masih merah tipis.
Pendapatan Nanjak, EBITDA Melejit Kayak Roket
- Pendapatan bersih grup GoTo naik 24 persen YoY jadi Rp18,32 triliun. Pendorongnya? Ekspansi ekosistem layanan dan peningkatan aktivitas pengguna yang makin ramai.
- Yang paling bikin heboh, Adjusted EBITDA GoTo melonjak 544 persen YoY jadi Rp2,01 triliun! Padahal tahun sebelumnya cuma Rp312 miliar. Di kuartal IV 2025 aja, Adjusted EBITDA tembus Rp672 miliar, naik 106 persen YoY. Ini jelas nunjukkin GoTo makin disiplin soal efisiensi operasional dan monetisasi platform.
Bisnis Inti Gojek Udah Laba, Kok Totalnya Masih Rugi?
- Aktivitas transaksi di ekosistem GoTo juga gak main-main. Group GTV mencapai Rp685,6 triliun (naik 32 persen YoY), dengan core GTV nembus Rp399,8 triliun (naik 49 persen YoY). Pengguna bertransaksi tahunan juga naik jadi 66 juta pengguna. Penetrasi layanan GoTo makin luas nih di pasar!
- Kontributor utama pertumbuhan ini datang dari financial technology dan on-demand services. Unit fintech mencatat GTV Rp659,6 triliun dengan pendapatan Rp5,78 triliun. Bisnis on-demand services (alias Gojek) bahkan udah catat laba usaha positif senilai Rp888 miliar!
- Nah, ini dia yang bikin GoTo masih rugi. Meskipun Gojek-nya udah untung, GoTo secara keseluruhan masih terbebani kerugian di bisnis keuangan senilai Rp396 miliar dan biaya korporasi yang mencapai Rp1,4 triliun.
- Tapi jangan salah, dari sisi kas, GoTo sukses catat Adjusted Free Cash Flow positif Rp966 miliar sepanjang 2025. Ini nunjukkin kualitas arus kas mereka membaik dan makin disiplin ngatur biaya.
- Penting! Secara laporan akuntansi, GoTo masih mencatatkan kerugian operasional sekitar Rp378 miliar di 2025. Tapi ini jauh banget membaik dibanding kerugian Rp2 triliun lebih di tahun sebelumnya. Trennya positif!
Merger GoTo & Grab: Gosip Atau Realita Cuy?
Dari tahun lalu, isu merger antara GoTo dan Grab udah jadi obrolan hangat di kalangan investor. Tapi sampai sekarang, kepastiannya masih belum jelas kayak hubungan tanpa status. Gimana nih update-nya?
Spekulasi Belaka, Regulator Belum Ngapa-ngapain
- Status merger ini masih sebatas spekulasi strategis karena belum ada pengumuman resmi atau keterbukaan informasi dari kedua perusahaan. KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) bahkan belum terima notifikasi merger, jadi secara hukum, proses ini belum dianggap jalan.
- “Belum, belum (ada notifikasi). Di media kan masih naik-turun terus, ya (kabar rencana merger). Di KPPU belum ada notifikasi, ya,” kata Komisioner KPPU, Eugenia Mardanugraha, Senin (26/1/2026), dikutip dari Antara. Tuh kan, masih abu-abu!
Fokus GoTo: Cuan Dulu, Merger Belakangan
- Manajemen GoTo, lewat Direktur Utama Hans Patuwo, sempat bilang di Januari 2026 kalau merger itu bukan fokus utama perusahaan saat ini.
- GoTo masih mau prioritaskan peningkatan kinerja operasional dan kejar target Adjusted EBITDA sekitar Rp3,2 triliun – Rp3,4 triliun di tahun 2026. Tapi, manajemen juga siap ngikutin arahan pemerintah kalau ada kebijakan strategis soal konsolidasi industri digital. Artinya, pintu masih terbuka tipis.
Valuasi dan Telkomsel Jadi Batu Sandungan Berat
- Beberapa faktor disebut jadi hambatan utama merger ini. Salah satunya soal valuasi dan struktur kepemilikan saham strategis di GoTo.
- Posisi Telkomsel yang punya sekitar 2 persen saham GoTo itu sering disebut titik sensitif. Kenapa? Karena saham itu dibeli dengan valuasi yang jauh lebih tinggi dari harga pasar sekarang. Kalau dilepas di harga lebih rendah, ada potensi muncul isu kerugian negara, mengingat Telkomsel anak usaha Telkom Indonesia. Gawat kan!
Potensi Monopoli dan Intervensi Pemerintah
- Selain itu, potensi merger ini juga akan menghadapi tantangan regulasi. Kalau Grab dan GoTo gabung, mereka berpotensi menguasai pangsa pasar raksasa di sektor ride-hailing dan pengantaran di Indonesia. Ini bikin KPPU bakal ngawasin ketat banget, takutnya terjadi monopoli.
- Di tengah spekulasi, pemerintah juga ikut mantau situasi. Ada rumor pasar soal kemungkinan keterlibatan Danantara sebagai investor atau pemegang golden share kalau konsolidasi beneran terjadi. Tujuannya buat jaga kepentingan nasional dan kedaulatan digital Indonesia.
- Meskipun belum ada keputusan resmi, kalau merger ini kejadian, kami nilai ada potensi harga saham GOTO bisa merangkak naik menuju Rp70 – Rp100 per saham. Kenapa? Karena valuasi bakal meningkat, biaya lebih efisien, dan persaingan di sektor ride-hailing sampai pesan-antar berkurang. Auto cuan dong?
Siapa Aja Sih Pemilik GRAB dan GOTO? Ada yang Sama Gak Nih?
Kepo gak sih siapa aja yang punya saham di balik dua perusahaan gede ini? Kalau merger beneran, bakal melibatkan banyak banget pihak. Yuk, intip daftar pemegang saham utamanya!
Pemegang Saham Utama GOTO (dengan kepemilikan di atas 1%)
- SVF SUbco (Singapore) Pte. Ltd: 7,65%
- Taobao China Holding Ltd: 7,43%
- UBS AG Hong Kong: 2,68%
- Google Asia Pacific Pte. Ltd: 2,48%
- Tencent Mobility Ltd: 2,48%
- GOTO Peopleverse Fund: 2,47%
- Peak XV Partners Goto Investments Holding: 2,47%
- PT Saham Anak Bangsa: 2,26%
- Telkomsel: 1,99%
- Capret (SG) Pte. Ltd: 1,98%
- Saham ASII: 1,56%
- PEAK XV Partner Investment IV: 1,53%
- WP Investment VI.B.V: 1,46%
- Citibank Hong Kong S/A Bhinneka Holdings (22) Ltd: 1,43%
- Platinum Orchid B 2018 RSC Ltd: 1,28%
- PT Provident Capital Indonesia: 1,25%
- William Tanuwijaya: 1,25%
- Morgan Stanley: 1,22%
- CGS Internasional Securities Singapore: 1,09%
Pemegang Saham Utama GRAB (Top 10 Institusional Holder)
- UBER Tech: 13,07%
- SB Investment Advisers (UK) Ltd: 9,8%
- Softbank Vision Fund LP: 9,8%
- Toyota Motor Corporation: 5,44%
- MUFG Bank: 3,49%
- Blackrock Inc: 3,16%
- DiDi Global Inc: 2,97%
- Tiger Global Management LLC: 2,27%
- Morgan Stanley Investment Management Inc: 1,87%
- Invesco: 1,84%
Hubungan Darah di Balik Layar?
Dari daftar di atas, ternyata ada beberapa kesamaan investor antara GoTo dan Grab. Ini dia:
- Pertama, Softbank. GoTo punya Softbank via SVF SUbco (Singapore) Pte. Ltd (7,65%), sementara Grab juga punya Softbank Vision Fund LP (9,8%).
- Kedua, hubungan tidak langsung ASII dengan Toyota. ASII jadi pemegang saham GoTo, sementara dia juga mitra strategis Toyota yang pegang saham Grab. Dunia ini sempit ya!
- Ketiga, Tencent. Tencent Mobility Ltd pegang 2,48% saham GoTo. Nah, lewat DIDI Global Inc, Tencent juga punya kepemilikan di saham Grab (sekitar 2,97%). Apalagi kalau kita lihat perputaran kepemilikan ride-hailing, Uber pegang saham Grab dan DIDI juga. Jadi pada nyangkut semua!
Dari sini, kalau ada dorongan juga dari Danantara yang sempat semangat mengarahkan ke merger/akuisisi dengan Grab, bukan tidak mungkin hal itu kejadian. Tapi, sampai sekarang, belum ada kabar lebih pasti terkait rencana transaksi tersebut. Jadi, kita tungguin aja ya, gaes!

