IHSG Ambyar ke Level Terendah Sejak 2021, Rupiah Jebol All-Time Low! Ada Apa Ini, Bro?
Gila banget sih hari ini! Pasar keuangan Indonesia lagi dihantam badai, bro. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kita hari Rabu (3/6) ditutup anjlok parah -4,11% ke level 5.941. Ini titik terendah sejak Mei 2021, lho! Udah gitu, secara Year-to-Date (YTD), IHSG udah ambles -31,3%. Parah, kan? Bikin IHSG jadi indeks saham paling loyo dari lebih 90 indeks global yang dipantau Bloomberg.
Saham-Saham Big Cap dan Sektor Komoditas Bikin IHSG Ngedrop
Anjloknya IHSG hari ini utamanya sih gara-gara saham-saham jumbo yang pada merosot. Cekidot nih:
Secara sektoral, tekanan paling kerasa datang dari saham-saham komoditas dan konglomerasi. Terbukti dari sektor Basic Materials yang turun -9,05% dan sektor Energi yang ambles -5,61%. Para investor asing juga pada kabur, tercatat ada net foreign outflow sebesar Rp993,3 M hari ini. Bikin dag dig dug!
Rupiah Nggak Mau Ketinggalan, Ikut Jebol All-Time Low
Nggak cuma saham, mata uang kita juga lagi nggak baik-baik aja. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS ditutup melemah -0,63% ke level 17.950. Ini rekor terendah sepanjang sejarah alias all-time low baru, bro! Sejak awal tahun, Rupiah udah terdepresiasi sekitar -7,5% YTD, menjadikannya mata uang Asia dengan performa terburuk menurut data Bloomberg. Ampun DJ!
Kenapa Bisa Begini? Cek Rekap Kejadian Penting Minggu Ini!
Situasi pasar yang lagi “nge-jamet” gini pasti ada penyebabnya, kan? Nah, ini beberapa peristiwa penting yang bikin pasar keuangan kita ketar-ketir:
Harga Minyak Makin Menggila, Dekati US$100/Barrel
Harga minyak Brent terus naik selama tiga hari berturut-turut, sekarang udah nangkring di level US$98,9/barrel per Rabu (3/6) sore. Ini efek ketidakpastian gencatan senjata AS-Iran dan nasib jalur perdagangan Selat Hormuz. Kalau harga minyak tetap tinggi, Indonesia yang statusnya net importir minyak bisa makin pusing karena defisit fiskal makin melebar. Gawat!
Neraca Dagang Ambyar & Inflasi Ngegas Melebihi Ekspektasi
Data terbaru juga bikin kita geleng-geleng. Neraca perdagangan Indonesia di April 2026 cuma surplus US$90 juta (bandingin sama Maret 2026 yang US$3,3 miliar!). Ini surplus terendah sejak defisit di April 2020, dan jauh di bawah ekspektasi konsensus Bloomberg yang ngarepnya US$1,35 miliar.
Sementara itu, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia di Mei 2026 mencapai 3,08% YoY (vs. April 2026: 2,42% YoY). Ini juga di atas ekspektasi konsensus 2,98% YoY, walaupun masih sejalan dengan target inflasi BI 2,5±1% di 2026. Data ini bikin pasar tambah was-was.
Aturan Ekspor Komoditas Bikin Pusing, Pengiriman Batu Bara ke China Terhambat
Reuters melaporkan, kelompok usaha di Indonesia lagi mendesak pemerintah buat cepet-cepet keluarin panduan teknis soal sentralisasi ekspor komoditas dan aturan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) di bank himbara.
Imbasnya udah kerasa, nih! Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China (CCTD) bilang importir di China udah pada nunda pengiriman batu bara Juni 2026. Ini gara-gara rencana pemerintah Indonesia mau sentralisasi ekspor komoditas lewat Danantara. Analis CCTD, Ma Yanxu, bilang aturan ini bikin transaksi lambat, harga naik, dan pasokan jadi ketat. Duh, bikin makin runyam aja!
Jadi, gimana nih menurut lu? Pasar lagi diguncang habis-habisan. Tetap pantau terus ya, biar nggak ketinggalan info!

