Kabar Pasar

Indeks Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi dalam 1 Tahun

Indeks Dolar AS, yang dikenal dengan simbol DXY, mengalami penguatan yang signifikan sebesar 2,3% WoW pada hari Kamis, 14 November, mencapai level 106,9. Ini menandai level tertinggi yang dicapai dalam satu tahun terakhir, dan berita ini tentunya memberikan dampak yang besar pada nilai tukar rupiah.

Sayangnya, penguatan dolar ini membuat nilai tukar rupiah jatuh ke level 15.889 sebelum akhirnya ditutup pada 15.855, mengalami pelemahan sekitar -0,76% WoW. Ini menandakan bahwa rupiah berada dalam posisi terlemah sejak pertengahan Agustus 2024. Tak hanya rupiah, mata uang dari banyak negara emerging market lainnya juga mengalami nasib serupa, seperti ringgit Malaysia yang melemah -1,84% WoW, baht Thailand -2,32% WoW, dan peso Filipina dengan pelemahan -0,09% WoW.

Penyebab Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Pelemahan nilai tukar rupiah dan mata uang lainnya dalam seminggu terakhir terutama karena *wacana kebijakan inflationary* yang diajukan oleh presiden terpilih AS, Donald Trump. Sebelumnya, Trump sudah mengeluarkan sejumlah pernyataan yang mengindikasikan kebijakan proteksionis yang mungkin akan diterapkan, sehingga menciptakan sentimen negatif di pasar. Kemenangan Trump ini juga semakin dipertegas oleh kemenangan Partai Republik yang menguasai mayoritas kursi di Senat dan DPR AS pada pemilu 2024, yang berpotensi mengurangi pengaruh oposisi, dalam hal ini Partai Demokrat, untuk menghalangi kebijakan yang diajukan Trump.

Inflasi AS Meningkat

Selain dari kemenangan Trump, penguatan DXY juga disebabkan oleh naiknya tingkat inflasi di AS. Berdasarkan laporan untuk bulan Oktober 2024, inflasi indeks harga konsumen di AS tercatat mencapai 0,2% MoM dan 2,6% YoY, sejalan dengan ekspektasi konsensus. Inflasi inti pada bulan yang sama juga stabil di 0,3% MoM dan 3,3% YoY, namun masih tetap lebih tinggi dibandingkan dengan target inflasi The Fed yang ditetapkan di level 2%.

Pasar mulai berekspektasi bahwa penurunan suku bunga yang lebih kecil akan terjadi pada tahun 2025. Menurut analisis dari CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed untuk menurunkan suku bunga mencapai ke level 45,9%, menurun dari 62,7% sebelum kemenangan Trump. Sementara itu, kemungkinan penurunan suku bunga <75 bps hingga Juni 2025 meningkat menjadi 54,1%.

Dampak pada Pasar Modal Indonesia

Satu lagi dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah adalah pada pasar modal Indonesia. Dalam satu pekan terakhir, pasar mengalami foreign outflow yang signifikan. IHSG turun -0,4% WoW, mencapai level 7.215, dengan foreign outflow mencapai 5,23 triliun rupiah. Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun juga naik +17 bps WoW ke level 6,96%.

Sementara itu, investor harus berhati-hati, terutama terkait dengan kebijakan moneter yang diusung oleh Bank Indonesia. Meskipun pasar mulai mengurangi optimisme terhadap penurunan suku bunga, jelas bahwa arah pergerakan suku bunga masih perlu dicermati lebih lanjut, terutama dengan *ketidakpastian* yang terjadi. Mengingat adanya potensi dampak dari kebijakan yang diusulkan oleh pemerintahan Trump, kuatnya dolar AS berpotensi mempersempit ruang bagi Bank Indonesia untuk melakukan pemotongan suku bunga lebih lanjut.

Kesimpulan

Dalam kondisi pasar yang terus berubah, sangat penting bagi investor untuk memanfaatkan strategi yang tepat. Salah satu strategi yang bisa digunakan untuk memitigasi risiko yang mungkin terjadi adalah dengan mengunci yield obligasi FR, terutama pada seri short-term seperti PBS032 yang saat ini menawarkan nilai yang menarik. Alternatif lainnya, investor juga bisa mempertimbangkan SBN Retail ST013 yang saat ini sedang dalam masa penawaran dan memiliki kupon floating with floor.

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x