Inspirasi Investasi

Konflik Timur Tengah Makin Panas: Selat Hormuz Terancam, Ekonomi RI Kena Imbas?

Gejolak geopolitik di Timur Tengah lagi-lagi bikin kita deg-degan. Konflik yang tadinya cuma regionalan, sekarang malah jadi perang terbuka antara Iran lawan koalisi Amerika Serikat dan Israel. Ini bukan main-main, lho! Potensinya bisa bikin efek domino ke ekonomi global.

Salah satu yang paling bikin was-was adalah ancaman penutupan jalur vital energi dunia: Selat Hormuz. Bayangin aja, hampir seperlima pasokan minyak global lewat sini. Kalo ditutup, harga komoditas energi bisa auto lonjak parah!

Dampak gejolak ini enggak cuma berhenti di Timur Tengah doang, tapi udah mulai kerasa sampai bursa dunia, termasuk Bursa Efek Indonesia (BEI). Nah, pertanyaan besarnya: gimana sih konflik ini bisa bikin pasar saham dan ekonomi Indonesia gonjang-ganjing?

Latar Belakang Perang: Drama Geopolitik yang Berlanjut

Eskalasi ketegangan di Timur Tengah lagi-lagi naik level, melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Situasi ini langsung bikin alarm bahaya buat stabilitas ekonomi global, apalagi soal pasokan energi.

Sebenernya, konflik ini bukan drama semalam dua malam. Jalan ceritanya udah panjang banget, jauh sebelum tahun 1979. Waktu itu, Iran sama AS-Israel masih mesra, pas Iran dipimpin Shah dari Dinasti Pahlavi yang pro-Barat.

Tapi, setelah Revolusi Islam Iran 1979, semua berubah total! Pemerintahan baru Iran langsung anti-Barat dan ogah mengakui Israel sebagai negara. Hubungan diplomatik Iran sama AS-Israel pun langsung putus. Nah, salah satu pemicu ketegangan selanjutnya itu ya program nuklir Iran. Negara-negara Barat curiga Iran mau bikin senjata nuklir, meski Iran sendiri selalu ngelak. Tapi ya gitu deh, kekhawatiran global tetap tinggi.

Puncaknya, pertengahan 2025 lalu, konflik antara Iran dan Israel mulai meletus dan makin panas di akhir Februari 2026. Pasukan AS-Israel langsung gaspol melancarkan serangan besar ke wilayah Iran, fokusnya di Tehran, sampai kabarnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, jadi korban. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, ngotot bilang operasi ini buat cegah Iran ngembangin senjata nuklir, terutama fasilitas pengayaan uranium di Natanz. Ini udah jelas sinyal konflik jadi perang antar negara beneran.

Iran enggak tinggal diam, mereka balas dendam dengan serangkaian serangan rudal dan drone ke wilayah Israel dan pangkalan AS di Timur Tengah. Dan yang paling bikin kaget, Iran secara resmi menutup Selat Hormuz. Gila, kan? Selat ini itu jalur ekspor minyak paling penting di dunia, ngubungin produsen minyak gede di Teluk kayak Arab Saudi, Iran, Irak, Uni Emirat Arab, ke Teluk Oman dan Laut Arab.

Kenapa Selat Hormuz Jadi Inti Nadi Perekonomian Global?

Lu kudu tahu nih, Selat Hormuz itu bukan selat biasa! Dia adalah salah satu rute pelayaran terpenting di dunia dan titik krusial buat transit minyak. Bayangin aja, sekitar 20 juta barel atau hampir 20% dari total konsumsi minyak global lewat sini setiap harinya. Minyaknya enggak cuma dari Iran, tapi juga dari negara-negara Teluk lain kayak Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Secara geografis, Selat Hormuz ini terbilang rawan karena areanya sempit dan dangkal. Meski gitu, dia cukup kok buat dilalui kapal tanker minyak mentah raksasa dunia, baik dari produsen minyak dan gas utama di Timur Tengah maupun para pelanggannya.

Makanya, kalo jalur vital ini ditutup, jelas bakal boncosin negara-negara Teluk, kayak Arab Saudi, yang ekonominya full bergantung sama ekspor energi. Bahkan Indonesia yang jauh juga bisa kena imbasnya, mengingat impor minyak mentah kita masih gede banget dari Timur Tengah dan wajib lewat Selat Hormuz itu.

Kalo kita liat per wilayah, Timur Tengah masih jadi penyumbang kenaikan minyak terbesar. Produksi di sana diproyeksi naik signifikan jadi 32.7 juta barel per hari di tahun 2030. Artinya, tambahan pasokan minyak dunia beberapa tahun ke depan bakal banyak bergantung sama negara-negara produsen gede di sana. Amerika Utara jadi produsen terbesar kedua, diproyeksi sekitar 29.2 juta barel per hari di 2030.

Dari sisi kualitas dan biaya, minyak di Timur Tengah, khususnya Iran, punya keunggulan kompetitif. Biaya ekstraksinya super efisien, cuma sekitar US$ 10 per barel. Bandingin sama produsen utama di negara Barat kayak Amerika Serikat dan Kanada yang umumnya biaya produksinya lebih tinggi, antara US$ 40 – US$ 60 per barel.

Komoditas Apa Aja yang Kena Imbas Konflik & Penutupan Selat Hormuz?

Kalo Selat Hormuz ditutup, auto harga komoditas pada lonjak! Ini detailnya:

Minyak Mentah

Komoditas energi kayak minyak mentah, baik Brent maupun WTI, langsung kena dampak kenaikan harga. Eskalasi konflik yang berujung penutupan Selat Hormuz ini bikin pasokan terganggu. Dalam seminggu terakhir, minyak Brent dan WTI naik signifikan sekitar 17%, masing-masing di level 82 per barel dan 77 per barel. Ini jelas karena Selat Hormuz itu jalur krusial yang menyumbang hampir seperlima total konsumsi minyak global.

Batubara

Batubara juga ikut nge-gas kenaikan harga. Dalam seminggu terakhir, harga batubara sudah melonjak sekitar 15%, sempat di level 138 per ton sebelum akhirnya terkoreksi. Lonjakan ini dipicu penghentian langka di fasilitas LNG Qatar, ditambah ketegangan di Timur Tengah yang bikin orang beralih ke batubara buat sektor kelistrikan. Apalagi, Tiongkok, produsen dan konsumen batubara terbesar dunia, juga lagi gencar nambah kapasitas PLTU batubara demi keamanan energi mereka.

Gas Alam

Harga gas alam berjangka Eropa ikut terseret, lonjakannya signifikan banget! Dalam seminggu terakhir naik sekitar 75% di level €55/MWh. Selain gangguan jalur transit di Selat Hormuz, lonjakan ini juga karena penutupan produksi di fasilitas LNG Ras Laffan – pusat ekspor LNG terbesar di dunia di Qatar, yang menyumbang hampir 20% pasokan LNG global. Produksi ditutup, pasokan terbatas, tapi permintaan tetap kuat. Ya wajar kalau harga meroket!

Emas

Emas kembali jadi primadona di tengah konflik Iran vs AS-Israel, sempat menyentuh di level 5.300-an per troy ons. Walaupun sempat terkoreksi dalam 4% pada Selasa (3/3/2026) karena dolar menguat (efek kekhawatiran kenaikan biaya energi yang bisa dorong inflasi) dan aksi taking profit, tapi setelah itu emas balik naik lagi. Soalnya, konflik Timur Tengah masih memanas, dan emas memang dinilai sebagai aset safe haven yang diincar buat hedging.

Saham-Saham yang Cuan di Tengah Konflik?

Sentimen perang yang memanas ini kembali bikin arus dana global bergeser, terutama ke aset-aset berbasis komoditas dan safe haven. Meskipun IHSG sempat drop hampir 10% dalam seminggu terakhir karena imbas perang, tapi di sisi lain, ada saham-saham yang justru diuntungkan. Kenaikannya didorong faktor lonjakan harga komoditas. Ini dia sektornya:

Saham Migas

Kenaikan harga minyak dan gas jelas jadi katalis positif buat saham migas. Terutama emiten yang punya eksposur produksi dan penjualan berbasis harga pasar global. Melihat komoditas energi minyak dan gas yang lonjak signifikan, potensi perbaikan pendapatan dan margin udah pasti jadi daya tarik tersendiri buat pelaku pasar. Contohnya emiten seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA) atau PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS).

Saham Batubara

Saham batubara juga ikut jadi perhatian di tengah eskalasi geopolitik yang makin panas. Padahal sebelumnya harga batubara cukup stagnan di level 110 per ton. Tapi konflik Iran dengan AS-Israel ini bawa harga batubara sampai ke level $138 per ton. Permintaan global juga masih solid, terutama dari China yang terus nambah kapasitas PLTU batubara demi ketahanan energi. Ini jadi faktor penopang utama. Dengan harga batubara yang tinggi, prospek pendapatan dan arus kas emiten batubara berpotensi menguat. Contoh emitennya: PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), atau PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

Saham Emas

Saham komoditas metal, khususnya emas, juga enggak luput dari lonjakan harga yang signifikan. Mengingat ketegangan konflik perang makin memanas, emas yang dipandang sebagai aset safe haven kembali banyak dilirik pasar. Emiten-emiten produsen emas berpotensi menikmati kenaikan ini. Misalnya: PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), atau PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).

Saham Perkapalan

Saham perkapalan juga ikut tersorot imbas ketegangan Iran dengan AS-Israel. Konflik di Timur Tengah ini mendorong kenaikan biaya logistik dan premi asuransi pelayaran. Sejumlah emiten pengiriman mulai ngalihin rute kapal buat hindari wilayah berisiko di sekitaran Selat Hormuz, yang pada akhirnya meningkatkan tarif freight. Kenaikan tarif angkutan laut ini jadi katalis positif buat emiten perkapalan, terutama yang bergerak di pengangkutan minyak, gas, dan komoditas energi. Jika lonjakan freight rate bertahan, potensi peningkatan pendapatan sektor ini juga makin terbuka. Misalnya: PT Temas Tbk (TMAS), PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), atau PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS).

Dampak ke Ekonomi Indonesia: Kita Kena Apa Aja?

Eskalasi konflik Iran dengan AS-Israel ini, bukan cuma berdampak ke wilayah sekitar Timur Tengah doang. Tapi juga berpotensi bikin tekanan ke rantai pasokan dan ekonomi dalam negeri kita. Apalagi, konflik ini juga mengakibatkan perusahaan produsen LNG terbesar milik Qatar – Qatar Energy, menghentikan produksi liquefied natural gas (LNG) setelah Ras Laffan kena serangan drone.

Melansir dari International Energy Agency (IEA), pasar Asia itu jadi tujuan utama LNG Qatar dan UEA. Tahun 2025, hampir 90% dari total volume yang diekspor lewat Selat Hormuz ditujukan ke pasar Asia. Sementara pangsa Eropa cuma sedikit di atas 10%.

Proyeksinya, di tahun 2026, pertumbuhan konsumsi gas di negara-negara berkembang Asia, salah satunya Indonesia, diperkirakan meningkat sekitar 7%. Ini didorong pemulihan penggunaan gas di sektor industri dan meningkatnya kebutuhan energi. Nah, di tengah pasokan Timur Tengah yang diperketat, permintaan di Asia, termasuk Indonesia, justru meningkat. Fix ini jadi tantangan tersendiri buat memenuhi kebutuhan dalam negeri kita!

Selain gas alam, minyak mentah juga jadi energi yang krusial, mengingat sebagian besar ekspor dari Selat Hormuz menuju Asia. Gangguan terhadap pasokan minyak mentah ini udah pasti berdampak besar bagi pasar minyak. Lonjakan harga minyak yang sudah tercermin sekarang bisa bikin kelangkaan fisik cepat terjadi, kalo gangguan pengiriman itu terus-menerus berkepanjangan.

Dalam situasi kenaikan harga minyak, muncul tekanan ke harga BBM domestik yang imbasnya bisa makin nambah. Kalo pemerintah nahan kenaikan lewat subsidi, konsekuensinya ya beban fiskal bisa lonjak parah. Tapi kalo enggak di-cover, tekanan ke inflasi bisa jadi lebih kuat. Apalagi, inflasi tahunan Indonesia Februari 2026 meningkat jadi 4.76%, mencapai level tertingginya sejak Maret 2023.

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x