Inspirasi Investasi

PGAS Ambles di Kuartal IV/2025: Rugi Gede Bikin Melongo, Prospek Sahamnya Gimana Dong?

Harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mendadak terjun bebas, ambles di bawah Rp2.000-an per saham setelah laporan kinerja Kuartal IV/2025 nunjukkin kerugian bersih mencapai 22,52 juta dolar AS. Pasti pada nanya-nanya kan, ada apa sih sebenarnya? Trus, ke depannya saham ini layak dilirik apa malah bikin gigit jari?

Kinerja Kuartal IV/2025: Pendapatan Ngegas, Tapi Kok Malah Rugi?

Aneh tapi nyata, di periode tiga bulan terakhir tahun 2025, PGAS sebenarnya berhasil cetak performa yang lumayan impresif di sisi pendapatan. Pendapatan mereka naik 8,33 persen jadi 1,05 miliar dolar AS. Bahkan, laba kotor juga ikutan naik 15,29 persen jadi 196,14 juta dolar AS. Ini karena biaya pokok pendapatan naiknya lebih kalem dibanding pendapatan.

Plus, PGAS juga keliatan rajin efisiensi, bro! Beban umum dan administrasi bisa mereka tekan sampai 21,32 persen, sisa 45,08 juta dolar AS aja. Mantap kan?

Nah, tapi kok malah rugi? Ternyata ada dua biang kerok utama yang bikin PGAS apes di kuartal terakhir:

  • Beban Keuangan Melambung: Beban keuangan PGAS naik 12,2 persen jadi 15,59 juta dolar AS. Ini disebabkan oleh beban bunga sewa pembiayaan yang gede banget di kuartal itu, sekitar 15,74 juta dolar AS, ditambah bunga pinjaman Club Deal yang juga signifikan di angka 21 juta dolar AS.
  • Nilai Aset Migas Anjlok: Ini nih yang paling bikin sakit kepala, ada pos penurunan nilai aset migas sampai 99,53 juta dolar AS. Angka segede ini muncul karena hasil audit di Blok Sesulu Selatan yang masih tahap eksplorasi. Estimasi cadangan migas di sana ternyata anjlok parah. Alhasil, nilai asetnya harus dipangkas habis, langsung bikin kinerja PGAS bonyok.Sebagai info, Blok Sesulu Selatan ini dikelola sama anak usaha hulu migas PGAS, Saka Energi. Dulu tahun 2017, cadangannya diprediksi bisa sampai 500 miliar kaki kubik. Tapi ya gitu deh, udah dieksplorasi eh malah estimasinya turun. Makanya ada catatan penurunan nilai aset itu.

Bukan Cuma Teknis: Kinerja Operasional Full Year PGAS Ikut Tertekan

Jadi, kerugian PGAS ini cuma karena faktor akuntansi yang gak ngaruh ke bisnis inti? Sayangnya, nggak juga. Secara akumulasi setahun penuh di 2025, kinerja bottom line PGAS tanpa penurunan nilai aset migas juga sebenarnya lagi kena tekanan.

Laba kotor PGAS setahun penuh turun 7,8 persen jadi 698 juta dolar AS. Ini terjadi karena biaya pembelian gas bumi, terutama dari pihak ketiga, naik 16 persen jadi 2,11 miliar dolar AS. Kenaikan biaya ini lebih tinggi dari pertumbuhan pendapatan yang cuma naik 4,94 persen. Udah beli mahal, jualnya gak bisa ngejar, ya auto tipis marginnya.

PGAS sih udah usaha keras buat efisiensi, buktinya beban umum dan administrasi bisa turun 16,57 persen jadi 167 juta dolar AS. Tapi sayang banget, efisiensi ini cuma bisa nahan biar laba operasional nggak anjlok makin dalam. Faktanya, laba operasional PGAS tetep aja turun 0,58 persen jadi 519 juta dolar AS.

Kalau kita keluarin efek penurunan nilai aset migas, laba bersih PGAS secara operasional memang “cuma” turun 5 persen jadi 417 juta dolar AS. Tapi tetep aja turun, kan?

Mikirin Duit: Perkembangan Sumber Pendapatan Saham PGAS

Secara garis besar, bisnis PGAS ini emang ditopang banget sama segmen niaga dan transmisi gas. Kontribusi pendapatan dan laba usahanya itu di atas 80 persen. Di 2025, segmen ini pendapatannya naik 8,09 persen jadi 3,71 miliar dolar AS. Tapi mirisnya, hasil segmennya malah turun 8,04 persen jadi 506 juta dolar AS. Ini lagi-lagi karena biaya beli gas bumi yang naik.

Sementara itu, segmen hulu migas (lewat Saka Energi) dan bisnis lainnya punya kontribusi di bawah 20 persen. Buat Saka Energi, pendapatan turun 21,8 persen jadi 288 juta dolar AS, dengan laba segmen anjlok 35 persen jadi 34 juta dolar AS. Bisnis layanan jasa lainnya lumayan, pendapatan naik 2,96 persen dan laba segmen melonjak 65 persen.

Salah satu tantangan gede PGAS itu ya susah banget naikin margin keuntungan. Kenapa? Ada kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBT). Walaupun harga HGBT kadang dinaikin dengan kuota terbatas, ini nggak cukup bikin margin lebih tebal. Soalnya, PGAS kan juga nyari gas dari pihak ketiga, dan harga gas ini fluktuatif banget. Jadi, kayaknya PGAS terjepit di tengah.

Terus, ada juga drama spin-off Saka Energi yang dari 2018 cuma jadi wacana. Dulu mau dikasih ke Pertamina Hulu Energi, trus mau IPO juga. Sampai sekarang, nihil. Saka Energi ini ngelola 11 blok migas (6 beroperasi, sisanya eksplorasi) dan punya minoritas di blok shale gas di AS. Tapi produksinya masih receh, cuma sekitar 20.000-an barel setara minyak per hari. Kalo dilepas pun, nggak signifikan dampaknya buat PGAS karena kontribusinya di bawah 10 persen.

Drama Gunvor: Klaim Miliar Dolar AS Siap Bikin Investor Was-Was

Nah, ini dia bumbu drama lain yang bikin PGAS makin puyeng: sengketa sama Gunvor Singapore Ltd. Masalahnya bermula dari kontrak pengiriman 8 kargo LNG dari PGAS ke Gunvor dari Januari 2024 sampai Desember 2027 yang tiba-tiba mandek. PGAS ngajuin force majeure di November 2023, padahal LNG harusnya siap kirim Januari 2024.

Gunvor nggak terima dan langsung nyeret PGAS ke London Court of International Arbitration di tahun 2024. Proses arbitrasenya udah masuk tahap document production di akhir 2025.

Yang bikin kaget, Gunvor baru-baru ini ngajuin klaim ganti rugi senilai 130 juta dolar AS (atau setara Rp2,18 triliun). Angka segede ini itu 60 persen dari laba tahunan PGAS di 2025! Gila kan? PGAS sendiri udah nyiapin provisi alias cadangan dana buat sengketa ini sebesar 72 juta dolar AS (Rp1,2 triliun).

Sidang utamanya dijadwalin Mei-Juni 2026 di London. Kalo PGAS kalah dan kena sanksi, ini bakal jadi tekanan kinerja jangka pendek yang lumayan berat. Mungkin aja setelah kalah sidang, harga sahamnya bisa masuk periode anomali harga diskon yang mungkin bisa dilirik para investor yang suka tantangan.

PGAS: Harga Saham Sekarang Murah Apa Jebakan Batman?

Melihat semua fakta ini, mulai dari kerugian di kuartal terakhir karena penurunan nilai aset dan beban keuangan, kinerja operasional full year yang juga tertekan karena biaya gas yang tinggi, margin bisnis yang tipis gara-gara HGBT, sampai drama sengketa Gunvor dengan klaim yang nggak main-main, PGAS memang lagi diuji banget.

Dengan harga saham yang lagi ambles, menurut lu, PGAS ini sekarang jadi kesempatan emas buat diserok apa justru jebakan Batman yang harus dihindari? Lu yang pegang duit, lu yang nentuin langkahnya!

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x