Prospek Saham KETR: Gaspol di Bisnis Kabel Laut, Aman dari Badai?
Saham KETR ini, gengs, lagi jadi sorotan karena potensi pertumbuhannya yang lumayan bikin penasaran. Gimana enggak, dari penjualan kabel laut SKKL Rising 8 yang lagi ngebut, sampai posisinya di ekosistem Sinarmas Grup, semua kelihatan menjanjikan. Tapi, namanya investasi, pasti ada dua sisi mata uang. Jadi, gimana sih prospek cuan dan risiko saham KETR ini biar lu makin paham?
Prospek Bisnis KETR: Kenceng di Kabel Laut & Sinergi Grup!
SKKL Rising 8: Stok Banyak, Potensi Cuannya Gede!
Secara fundamental, KETR ini punya peluang gaspol dari penjualan kontrak SKKL Rising 8 yang udah kelar proyeknya. Bayangin aja, KETR masih punya sekitar 11 pair kabel lagi yang siap dijual. Kata manajemen, biasanya butuh waktu 3-5 tahun buat ngejual infrastruktur kabel kayak gini.
Yang bikin optimis, dari public expose tanggal 18 Juni 2026, manajemen bilang udah ada 3 pelanggan serius yang siap kerja sama. Beberapa pemain gede kayak penyedia layanan OTT dan provider luar negeri juga udah mulai nanya-nanya. Ini sih sinyal positif banget!
Kalo kita pake data historis, misalnya dari kontrak 2 pair Batam-Singapura yang nilainya Rp44,55 miliar, berarti estimasi kasar per pair bisa di angka Rp22,28 miliar. Meski, validitasnya emang rada rendah ya, karena lokasi kabelnya beda. Tapi lumayan lah buat gambaran. Kalo 3 pelanggan itu deal di 2026, ada potensi tambahan pendapatan sekitar Rp66 miliar dari SKKL Rising 8.
Angka ini emang masih lebih kecil dari target manajemen KETR yang ambisius. Mereka targetin pendapatan naik 35 persen jadi Rp1,01 triliun, dengan pendapatan dari pengembangan kabel laut naik 38 persen jadi Rp745 miliar. Nah, kalo KETR bisa jual sekitar 6 pair aja tahun ini (angka moderat), potensi pendapatannya bisa nyentuh Rp133 miliar. Itu udah sekitar 23 persen dari sisa target pendapatan (setelah dikurangi pendapatan Rp181 miliar di Kuartal I/2026).
Model Bisnis KETR: Aset Jangka Panjang, Pendapatan Stabil
Yang menarik dari KETR ini, mereka gak cuma jual putus aset. Jadi, aset kabel yang udah laku itu sifatnya kontrak jangka panjang, bisa sampe 15 tahun! Selama periode itu, KETR bakal jadi operator infrastruktur sekaligus yang ngurusin maintenance. Artinya apa? Perusahaan ini bakal dapet pendapatan berulang alias recurring revenue dari aset-asetnya. Keren kan?
Bahkan, di tahun 2025, kontribusi pendapatan dari managed service jadi yang terbesar kedua, nyumbang 24 persen dari total pendapatan.
Ekspansi Gak Ada Henti: CLV Bentang Bahari & SKKL Median Ring
Ke depan, KETR juga punya rencana buat monetisasi kapal CLV Bentang Bahari miliknya. Kapal ini nantinya bakal melayani pemasangan dan restorasi kabel laut di berbagai wilayah strategis Indonesia, kayak Bali dan Nusa Tenggara, Sumatera, Sulawesi, sampe Indonesia Timur. Ini sih peluang gede buat layanan kabel laut mereka.
Selain itu, KETR juga lagi ngebutin pengembangan SKKL Median Ring Indonesia. Untuk tahap 1, panjangnya sekitar 2.360 km dengan 16 fiber pair. Targetnya, proyek ini udah ready for service di tahun 2028. Mantap jiwa!
Tantangan KETR: Modal Gede & Harga Bahan Baku Nggak Stabil
Meskipun prospeknya cerah, KETR juga gak luput dari tantangan yang wajib lu perhatiin baik-baik sebelum gaspol investasi.
Geopolitik Bikin Proyek Mundur?
Tantangan pertama, kondisi geopolitik global, terutama perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, itu bisa berdampak ke harga bahan baku kayak kabel. Ini bisa bikin biaya proyek membengkak dan jadwal jadi mundur. Contohnya, manajemen KETR ngakuin kalo target ready for service buat SKKL Median Ring Indonesia jadi mundur dari akhir 2027 ke awal 2028.
Tapi tenang, ini bukan berarti proyeknya dihentikan. Cuma ditunda satu kuartal aja. Kata manajemen, “Kami tidak mau memaksakan diri, beberapa vendor juga menyarankan untuk menunda dulu. Hal ini bertujuan agar tingkat keekonomian SKKL Median Ring Indonesia tetap terjaga.” Jadi, ini langkah bijak biar proyeknya tetap untung.
Bisnis Padat Modal: Utang Aman Gak Sih?
Tantangan kedua, bisnis KETR ini emang butuh modal yang gak sedikit. Ambil contoh SKKL Rising 8, modalnya sekitar 60 juta dolar AS. KETR ngebagi biayanya dengan kolaborasi bareng MORA dengan porsi 50:50. Selain itu, mereka juga dapet pinjaman dari PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) sebesar Rp500 miliar.
Dalam kondisi begini, KETR fokus ngoptimalin cashflow buat bayar utang-utangnya. Makanya, cashflow KETR dalam dua tahun terakhir emang rada ketat. Untungnya, KETR berhasil nurunin utang berbunga sekitar 29 persen jadi Rp562 miliar di Kuartal I/2026. Tingkat debt to equity ratio (DER) KETR juga masih cukup aman di 0,38 kali, dengan interest coverage ratio di 4,64 kali. Jadi, aman lah ya!
Untuk proyek SKKL Median Ring Indonesia, KETR diperkirakan butuh dana sekitar 60 juta dolar AS lagi. Buat nutupin ini, KETR lagi nyari pendanaan, salah satunya dari obligasi berkelanjutan senilai Rp730 miliar. Tahap pertama, KETR bakal cairin Rp220 miliar, sisanya mereka bilang bakal ditutup pake cashflow yang tersedia.
Sinergi Sinarmas & Jurus Baru Data Center KETR
DSSA & Sinarmas: Belum Jelas, Tapi Potensi Klien Masih Ada
Soal rencana voluntary tender offer oleh anak usaha DSSA, manajemen KETR belum mau ngomong banyak. Katanya, transaksi itu urusannya pemegang saham pengendali sama DSSA. Sampai sekarang, belum ada omongan pasti soal sinergi bareng Sinarmas Grup.
Manajemen cuma nekanin kalo posisi Sinarmas Grup, lewat MORA dan EXCL, itu udah jadi klien KETR. Dan KETR bakal tetep objektif ke semua kliennya, termasuk soal harga jual kontrak jangka panjang kabel sampe maintenance-nya. Jadi, kalo ada sinergi, itu bonus! Kalo gak ada, klien udah siap sedia.
Nggak Cuma Kabel: KETR Juga Lirik Data Center
Meskipun fokusnya di kabel, manajemen KETR juga lirik potensi bisnis data center. Mereka udah mulai dari collocation site yang sekarang udah berkembang jadi data center kecil Tier 3. Setelah SKKL Rising 8 kelar, data center KETR di Tanjung Pakis juga udah memenuhi syarat buat jadi data center skala internasional. Ini sih langkah maju yang patut diacungi jempol!
Manajemen KETR nekanin kalo kemampuan mereka sebagai pengembang kabel bakal terus diasah, karena masih banyak daerah di Indonesia yang belum terhubung dengan baik. Tapi, mereka juga ngelirik potensi pertumbuhan dari jasa telekomunikasi, terutama di segmen data center. Ini nunjukkin kalo KETR punya visi yang luas dan gak cuma terpaku di satu jenis bisnis aja. Semoga cuan-nya makin melimpah!

