Saham Grup Bakrie Comeback? Cek Dulu, Jangan Sampe Nyesel Nanti!
Saham-saham Grup Bakrie lagi jadi omongan hangat di pasar saham. Setelah libur panjang, emiten-emiten ini kompak ngegas naik, bikin banyak investor penasaran: beneran ini awal kebangkitan atau cuma PHP doang?
Di tengah euforia rebound ini, beberapa aksi korporasi dan progres bisnis juga mulai nongol dari emiten-emiten Bakrie. Tapi, jangan buru-buru Fomo, ada baiknya kita bedah dulu bareng-bareng biar nggak salah langkah.
Rebound Kencang Saham Bakrie: Sinyal Bangkit dari Kubur?
Pasar baru buka setelah libur Lebaran, saham-saham Bakrie langsung tancap gas. DEWA terpantau paling kencang, terbang lebih dari 16% di perdagangan Rabu (25/3/2026). Nggak mau kalah, BUMI dan BRMS juga ikut ngacir naik sekitar 8-9%, disusul ENRG yang naik lumayan sekitar 5%.
Kenaikan ini bisa dibilang wajar. Kenapa? Karena sejak awal tahun, pergerakan saham-saham ini udah babak belur. BUMI, DEWA, dan BRMS tercatat udah nyungsep lebih dari 30%. Sementara ENRG, kontraksinya lebih moderat, “cuma” sekitar 8% di periode yang sama.
Analisis Teknikal: Jangan Buru-buru Nyangkut, Bro!
Meski kemarin saham-saham Bakrie ngegas, hari ini Kamis (26/3/2026) mereka terpantau koreksi tipis. Nah, ini penting buat lu perhatiin, gaes!
Secara teknikal, pergerakannya itu hampir mirip. Tren harganya masih belum keluar dari fase downtrend. Jadi, rebound sehari doang kemarin itu belum cukup kuat buat dibilang akumulasi atau pembalikan tren yang valid.
Dalam jangka pendek, harga masih berpotensi sideways dulu, nunggu konfirmasi arah selanjutnya. Area MA20 dan MA50 juga masih jadi resistance dinamis yang lumayan kuat buat ditembus.
Perlu dicatat juga risiko yang ada: kalau harga gagal bertahan di area support terdekat, tekanan jual masih bisa berlanjut dan buka peluang buat makin nyungsep ke support berikutnya.
Makanya, untuk sekarang pendekatan paling aman itu nunggu konfirmasi pembalikan tren, kayak:
- Harga mampu break dan bertahan di atas MA50, atau
- Terbentuk higher low yang diikuti peningkatan volume.
Selama sinyal itu belum nongol, pergerakan saham-saham Bakrie ini masih cenderung di fase konsolidasi dengan bias turun.
Risiko Eksternal: Ancaman Outflow Gara-gara MSCI!
Sebagai saham “konglo”, deretan saham Grup Bakrie ini juga lagi dalam mode wait and see soal update kepemilikan investor lebih dari 1% yang katanya beres akhir Maret 2026 ini.
Setelah itu, April nanti bakal ada pertemuan penting antara regulator (BEI dan OJK) sama MSCI buat bahas kelanjutan soal free float dan transparansi bursa ke depan. Ini jadi makin penting karena isu teknis pasca morning call MSCI akhir Januari lalu terbukti punya pengaruh gede ke saham-saham konglomerat. Bahkan, IHSG sempat trading halt dua kali, ngeri kan?
Tentu kita nggak mau kejadian mencekam itu terulang lagi. Maka dari itu, kita antisipasi ini sebagai risiko outflow yang masih bisa terjadi, setidaknya sampai Mei 2026 karena ada rebalancing kedua MSCI. Soalnya, ada tiga saham Grup Bakrie yang masuk dalam konstituen mereka.
Aksi Korporasi dan Fundamental: Dari Buyback Sampai Minyak Baru!
Meskipun kondisi teknikalnya masih rapuh, di balik layar, sejumlah sentimen fundamental dan aksi korporasi terbaru mulai bermunculan dari emiten-emiten di Grup Bakrie. Mulai dari ekspansi bisnis, pendanaan, sampai perubahan komposisi pemegang saham kakap.
Ini dia perkembangan terbaru dari deretan emiten Grup Bakrie yang wajib lu pantengin:
BUMI: Gaspol Diversifikasi & Cuan dari Obligasi
- Pertama, ada BUMI yang terus gaspol melakukan sejumlah langkah strategis buat memperkuat bisnisnya.
- Februari 2026, BUMI terbit Obligasi Berkelanjutan I Tahap IV Tahun 2026 senilai Rp612,75 miliar. Ini bagian dari program obligasi Rp5 triliun buat nguatin likuiditas perusahaan.
- Di sisi lain, BUMI juga mulai serius dorong diversifikasi bisnis ke sektor mineral dan Energi Baru Terbarukan (EBT). Salah satu langkah pentingnya adalah akuisisi 100% Wolfram Limited, perusahaan tambang tembaga dan emas asal Australia, dengan nilai sekitar Rp698 miliar. Tambang Wolfram ditargetkan beroperasi lagi pertengahan 2026, estimasi produksi lebih dari 9.000 ton tembaga ekuivalen.
- Sementara itu, dari sisi kepemilikan saham, terjadi perubahan signifikan. Chengdong Investment Corporation (CIC) yang sebelumnya jadi salah satu pemegang saham besar BUMI, dilaporkan sudah nggak muncul lagi dalam daftar pemegang saham di atas 1% berdasarkan data KSEI per 27 Februari 2026. Aksi ini terjadi setelah Chengdong melakukan divestasi besar-besaran sejak akhir 2025 hingga awal 2026.
- Awal Januari 2026: Kepemilikan masih sekitar 5,99% atau sekitar 22,2 miliar saham.
- Pertengahan Januari 2026: Turun menjadi 4,99% atau sekitar 18,5 miliar saham.
- Akhir Januari 2026: Kembali turun drastis menjadi 2,81% atau sekitar 10,44 miliar saham.
- Dengan kecepatan penjualan tersebut, posisi Chengdong kemungkinan sudah habis atau tersisa sangat kecil di bawah 1% pada pertengahan Maret 2026. Dalam keterbukaan informasi, manajemen Chengdong bilang transaksi ini memang buat tujuan divestasi langsung. Kalau ngelihat secara historis, langkah itu wajar sebagai bagian dari akhir siklus restrukturisasi utang lama, di mana kreditur akhirnya merealisasikan keuntungan setelah harga saham BUMI pulih.
- Beralih ke bisnis batu bara, untuk tahun 2026, BUMI targetkan produksi batu bara konsolidasi mencapai 77-78 juta ton, termasuk kontribusi dari anak usaha Arutmin. Sebagai catatan, tambang batu bara BUMI itu punya status IUPK, ini memastikan bahwa “pintu” untuk mencapai target tersebut tetap terbuka lebar tanpa hambatan kuota dari RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya).
BRMS: Siap Panen Emas, Dividen? Kayaknya Nanti Dulu!
- Berikutnya ada BRMS. Emiten tambang emas ini dijadwalkan gelar RUPS Tahunan pada 30 April 2026. Dalam rapat tersebut, ada beberapa agenda yang berpotensi jadi perhatian investor.
- Salah satunya adalah pembahasan penggunaan laba bersih tahun buku 2025. BRMS sebelumnya lapor kinerja yang cukup kuat dengan laba bersih mencapai sekitar US$50,09 juta, melonjak hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
- Meski begitu, peluang pembagian dividen diperkirakan masih relatif kecil. Kemungkinan besar manajemen bakal nahan laba buat reinvestasi, mengingat BRMS masih dalam fase ekspansi.
- Selain itu, manajemen juga berpotensi kasih update terkait target produksi emas 2026 yang diproyeksikan mencapai sekitar 80.000 ons, atau naik sekitar 11% dibanding realisasi produksi 2025 sebanyak 72.000 ons, yang juga naik 11% secara tahunan.
- Agenda lain yang biasanya jadi sorotan adalah perkembangan proyek strategis perusahaan, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan emas di Palu dengan kapasitas sekitar 2.000 ton bijih per hari yang ditargetkan selesai pada kuartal IV-2026, serta rencana pengembangan tambang bawah tanah dan tambang dengan kadar emas lebih tinggi untuk periode berikutnya.
DEWA: Buyback Abis-abisan, Lanjut Lagi?
- Ketiga ada saham DEWA yang terpantau juga aktif melakukan aksi korporasi.
- Perusahaan kontraktor tambang ini udah rampungin program buyback saham pertengahan Februari 2026, lebih cepat dari jadwal awal.
- Secara total, DEWA ngabisin dana sekitar Rp949,99 miliar atau hampir seluruh plafon Rp950 miliar yang disiapin. Dari program ini, perusahaan berhasil beli kembali sekitar 1,63 miliar lembar saham, setara dengan 4,03% dari total saham beredar.
- Aksi buyback ini dinilai cukup membantu jaga pergerakan harga saham DEWA, terutama di tengah volatilitas sektor energi di awal tahun.
- Menariknya, setelah program ini selesai, manajemen juga berencana mengusulkan buyback tahap kedua dalam RUPS yang dijadwalkan pada 29 April 2026.
- Di sisi operasional, DEWA dijadwalkan mulai garap proyek tambang milik PT Kaltim Prima Coal (KPC) secara penuh pada 2026. Proyek ini diharapkan bisa bantu naikin margin keuntungan sekaligus perbaiki arus kas perusahaan.
ENRG: Nemuin Minyak Baru, Gas!
- Terakhir ada ENRG yang ngasih kabar terbaru penemuan minyak baru di sumur Cenako-1 Twin di blok South CPP, dengan estimasi original oil in place sekitar 15,6 juta barel.
- Selain itu, perusahaan berhasil ngaktifin lagi sumur gas Bentu-2 yang sebelumnya idle, dengan potensi produksi sekitar 5 juta kaki kubik gas per hari.
- Dari sisi pembiayaan, perusahaan ini udah terbit Obligasi Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2026 senilai Rp1 triliun, yang resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 18 Februari 2026.
- Dana tersebut bakal digunakan buat dukung belanja modal (capex) sekitar US$200 juta di 2026, terutama buat kegiatan pengeboran dan peningkatan produksi migas.
- Dari lantai bursa, saham ENRG terpantau diakumulasi. Pada 16 Maret 2026, beberapa entitas termasuk Shima Global Kapital dilaporkan nambah kepemilikan lebih dari 71 juta saham ENRG.
Kesimpulan: Jangan Terjebak Fomo!
Rebound saham Grup Bakrie setelah libur panjang kemarin itu lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal setelah penurunan tajam sejak awal tahun. Meskipun beberapa emiten mulai nunjukkin aksi korporasi dan perkembangan fundamental, tren harga secara teknikal masih berada dalam fase konsolidasi dengan bias turun.
Karena itu, investor masih perlu nunggu konfirmasi pembalikan tren dan perhatiin risiko eksternal kayak isu MSCI serta potensi outflow sampai pertengahan tahun ini. Jangan sampai cuan yang cuma sesaat bikin lu nyangkut!

