Saham DEWA Sulap Laba 4 Triliun
Pasti banyak dari lu yang kaget atau malah ikutan syok pas liat laporan keuangan terbaru DEWA. Bayangin, perusahaan yang tahun-tahun sebelumnya laba cuma puluhan miliar rupiah, sekarang tiba-tiba tembus lebih dari Rp 4 triliun! Rilisnya sendiri tanggal 26 Maret kemarin. Ini saham ampas jadi sultan dadakan apa gimana, ges? Mari kita bongkar tipis-tipis!
DEWA Makin Efisien, Tapi Laba Triliunan Dari Mana?
Awalnya, bisnis inti DEWA ini emang kontraktor tambang. Kerjaan utamanya ya tukang gali sama ngangkut. Nah, di laporan keuangan terbaru, pendapatan mereka naiknya tipis, cuma sekitar 6%. Tapi, yang bikin melongo itu laba kotornya naik 119%! Ini nunjukkin kalau secara operasional, DEWA udah makin gercep dan efisien. Margin keuntungan mereka lebih tebel, artinya usaha mereka udah mulai waras nih.
Tapi, kalau cuma dari operasional, kok bisa laba bersihnya langsung ngegas sampai triliunan? Ini yang jadi pertanyaan besar, kayak ada sentuhan sulap Pak Tarno!
Plot Twist: Laba Jumbo dari Akuisisi, Bukan Kontrak Tambang!
Sabar, bukan sulap, bukan sihir! Ternyata, laba Rp 4 triliun itu bukan dari kontrak tambang atau gali-gali batu bara, tapi dari akuisisi! Jadi, akhir tahun lalu, DEWA lewat anak perusahaannya, beli perusahaan tambang emas namanya Gayo Mineral Resources (GMR). Harganya lumayan, sekitar Rp 800 miliar.
Nah, di sinilah drama keuangan dimulai. Setelah dihitung, ternyata nilai wajar aset GMR (yang isinya aset eksplorasi emas dan tembaga) itu jauh lebih tinggi dari harga beli DEWA. Selisihnya? Langsung dicatat sebagai keuntungan triliunan rupiah! Anjay, beli barang langsung auto cuan di laporan! Ini yang dalam istilah keuangan disebut “negative goodwill”.
Apa Itu Negative Goodwill?
Negative goodwill itu ibarat lu beli motor bekas harga Rp 5 juta, tapi pas di appraisal nilai aslinya Rp 20 juta. Nah, Rp 15 juta itu bisa langsung lu catat sebagai keuntungan. Cuma, perlu diingat, ini bukan duit tunai yang masuk ke kantong DEWA, ya! Jadi, jangan kira DEWA sekarang punya kas Rp 4 triliun gara-gara ini. Dan juga, laba kayak gini nggak bakal berulang tiap tahun.
Prospek DEWA: Neraca Kuat, Bidik Emas Jangka Panjang
Meski bukan uang tunai dan nggak berulang, bukan berarti ini kabar jelek! Artinya sekarang DEWA punya aset tambang emas dan tembaga dengan nilai triliunan. Ini bikin neraca perusahaan jadi makin kuat. Aset naik, ekuitas ikut naik, jadi pondasi perusahaan makin kokoh.
Memang, tambang GMR ini statusnya masih eksplorasi, Bro. Butuh waktu dan modal gede lagi buat sampai ke tahap produksi. Tapi, ini jelas langkah strategis! DEWA yang tadinya cuma dikenal sebagai kontraktor gali batu bara, sekarang punya potensi jadi pemain emas. Auto transformasi dari ‘tukang gali’ jadi ‘calon juragan emas’, mantap jiwa!
Ke depannya, manajemen DEWA juga punya rencana usulan buyback saham tahap kedua yang bakal diputuskan di RUPS April 2026. Di sisi operasional, DEWA juga punya jadwal garap proyek tambang di Kaltim Prima Coal (KPC) secara penuh tahun ini. Kalau lancar, ini bisa jadi gas pol buat naikin margin keuntungan dan arus kas perusahaan.

