Inspirasi Investasi

Strategi Investasi Saham: Beli Saham Murah atau Kejar Saham Booming?

Sebagai investor saham, kamu pasti pernah galau antara dua pilihan klasik: beli saham yang lagi diskon, tapi sepi sentimen atau ikut nimbrung ke saham yang lagi naik kencang. Keduanya terdengar menarik, tapi juga punya jebakan masing-masing.

Lantas, strategi mana yang lebih cuan? Gak ada jawaban mutlak. Semua tergantung waktu, profil risiko, dan tujuan kamu dalam berinvestasi. Yuk kita bahas dua pendekatan ini secara santai tapi tajam, biar kamu bisa ambil keputusan investasi yang lebih mantap!

Saham Murah: Strategi Value Investing yang Teruji Waktu

Beli Saat Diskon, Tapi Jangan Asal Murahan

Strategi ini dikenal dengan sebutan value investing. Intinya adalah beli saham bagus saat harganya turun. Tapi jangan asal murah ya. Murah di sini artinya harga lebih rendah dari nilai wajarnya, bukan murahan yang gak bakal naik lagi.

Biasanya, saham diskon ini muncul karena:

  • Kinerja keuangan sementara melemah: Misalnya akibat turunnya daya beli masyarakat, atau harga bahan baku yang melonjak.
  • Ada sentimen negatif yang sifatnya temporer: Bisa jadi aksi ambil untung dari investor besar, atau berita yang dibesar-besarkan.

Contoh Nyata: Saham SIDO yang Lagi Diskon

Per Juni 2025, saham SIDO MUNCUL sedang berada di harga sekitar Rp500-an. Kalau kamu lihat dari sisi valuasi, posisinya udah nyaris di bawah banget: PER di 14,95x dan PBV di 4,08x, udah masuk ke area diskon dibandingkan sejarahnya sendiri maupun dibanding saham sejenis seperti Kalbe Farma (KLBF) yang PER-nya tembus 20x.

Kok bisa diskon begitu? Karena laporan keuangan Q1 2025-nya menurun. Pendapatan SIDO turun 25% dan labanya amblas 40%. Penyebab utamanya? Penjualan produk andalan seperti Tolak Angin dan Kuku Bima drop hingga 42%!

Tapi kalau kita lihat lebih dalam, pola ini ternyata berulang hampir tiap tahun saat bulan puasa sejak 2016. Jadi ada kemungkinan ini hanya efek musiman. Selain itu, SIDO gak punya utang dan kas-nya tebal. Artinya secara fundamental masih solid. Sinyal beli? Bisa jadi.

Keuntungan dan Risiko Beli Saham Diskon

Keuntungan utamanya jelas: potensi cuan besar dalam jangka menengah. Misalnya kalau harga SIDO balik ke Rp700-an dalam 3–6 bulan, kamu bisa cuan sampai 40%.

Tapi tentu aja ada risikonya. Kalau ternyata penurunan ini bukan karena musiman, melainkan daya beli yang lesu terus sampai 2026, ya kamu harus sabar nunggu.

Saham Booming: Ikutan Tren Biar Nggak Jadi Penonton

Mengejar Momentum Naik, Tapi Harus Cek Fundamental

Strategi ini cocok buat kamu yang gak mau ketinggalan euforia pasar. Misalnya saat saham ANTM naik dari Rp11.000 ke Rp20.000 karena harga emas dunia lagi all-time high dan sentimen positif dari proyek afiliasi Danantara dan Titan.

Masuk ke saham booming ini seru—kayak naik roller coaster. Kalau kamu masuk saat awal momentum, bisa cuan cepat banget. Tapi hati-hati kalau kamu masuk pas udah di pucuk. Bisa-bisa langsung nyangkut.

Contoh Nyata: Ketika Semua FOMO ke Saham ANTM

Banyak investor gak berani masuk ANTM pas harganya masih di bawah Rp15.000 karena kasus emas palsu di 2024. Padahal saat itu valuasinya murah dan dividen yield-nya menggoda di angka 7–10%.

Begitu harga naik dan sentimen positif terus mengalir—termasuk ekspektasi pembagian dividen 100%—barulah investor FOMO dan harga meroket hingga di atas Rp25.000. Kalau kamu masuk di harga Rp20.000 pun masih bisa cuan sekitar 36%, asal tahu kapan harus keluar sebelum euforianya habis.

Risiko Saham Booming: Jangan Sampai Masuk Saat Pesta Udah Selesai

Lihat aja kasus ADRO. Setelah mengumumkan buyback saham tanpa RUPS, harga sempat naik dari Rp1.700 ke Rp2.400 dalam hitungan minggu. Tapi setelah itu… drop lagi ke Rp2.000-an. Padahal periode buyback masih jalan.

Artinya? Momentum bisa singkat. Kalau kamu telat masuk, bukan cuan yang kamu dapat, tapi floating loss. Apalagi kalau saham booming ini masuk full call auction atau papan pemantauan khusus—bisa bikin kamu susah jual sahamnya.

Mana yang Lebih Baik? Semua Tergantung Kamu

Saham diskon memberi peluang cuan optimal dalam jangka menengah, tapi butuh kesabaran dan riset mendalam. Cocok buat kamu yang lebih konservatif dan suka analisis fundamental.

Saham booming bisa kasih cuan cepat, tapi risikonya juga tinggi. Cocok buat kamu yang aktif mantau market dan siap mental kalau harus cut loss.

Kesimpulan: Kenali Diri Sendiri, Baru Pilih Strategi

Nah, sekarang kamu tahu dua pendekatan yang berbeda: beli saat diskon versus kejar saat booming. Keduanya sah dan bisa menghasilkan keuntungan, asal dilakukan dengan strategi dan pertimbangan yang tepat.

Kalau kamu tipe yang sabar dan suka ngulik laporan keuangan, strategi beli saham diskon bisa jadi andalan. Tapi kalau kamu suka adrenalin dan mantau pasar tiap hari, strategi saham booming mungkin lebih cocok buat kamu.

Yang paling penting, jangan asal ikut-ikutan. Investasi itu bukan lomba cepat-cepatan, tapi soal konsistensi dan strategi. Mau cuan dari saham? Mulai dari mengenali dirimu sendiri dulu.

0 0 votes
Post Rating
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x