Saham Nikel Mau Ngegas Lagi? Ada Perubahan Formula Harga & RKAB Nih!
Dunia saham nikel lagi ada narasi baru nih! Setelah sempat bikin heboh seantero jagat dengan isu pangkas produksi, eh sekarang malah ada kabar gokil soal rencana ubah formula harga acuan bijih nikel jadi lebih tinggi. Seriusan? Pastinya ini bikin investor nikel penasaran, siapa sih yang auto cuan dan apa dampaknya buat pergerakan harga?
Cekidot poin-poin penting biar gak ketinggalan info!
- Harga nikel diproyeksi masih kinclong tahun ini. Ini berkat kenaikan harga patokan mineral (HPM) plus rencana kuota produksi RKAB nikel yang dipangkas signifikan.
- Emiten upstream alias penambang bijih nikel diprediksi jadi yang paling diuntungkan. Tiga nama yang masuk radar kami: INCO, NICE, dan DKFT.
- Sebaliknya, emiten yang punya smelter, apalagi yang teknologi HPAL buat bahan baku baterai, bakal ngerasain risiko lebih gede. Ini juga bisa bikin harga kendaraan listrik (EV) ikut ngegas naik.
Update Harga Patokan Bijih Nikel Dinaikkan, Auto Bikin Greget?
Pemerintah Indonesia fix banget mengubah skema Harga Patokan Mineral (HPM) lewat Kepmen ESDM No. 144 Tahun 2026. Aturan baru ini mulai berlaku besok, Rabu, 15 April 2026. Jadi, bukan cuma harga naik langsung, tapi ada penyesuaian formula yang bikin harga bijih nikel di dalam negeri cenderung lebih tinggi. Penambang sih, pasti senyum lebar!
Ada beberapa perubahan kunci yang wajib lu tahu:
- Faktor Koreksi (CF) Naik: Pemerintah menaikkan corrective factor. Misalnya, dari sekitar 20% jadi 30% buat kadar tertentu. Artinya, harga jual bijih nikel domestik bakal ikut naik, merespons keluhan kalau HPM sebelumnya belum mencerminkan biaya produksi.
- Mineral Ikutan Diperhitungkan: Formula baru nggak cuma ngitung kadar nikel, tapi juga masukin nilai mineral lain kayak kobalt (≥0,05%), besi (≥35%), dan krom. Dulu, komponen ini sering dianggep nggak bernilai, sekarang jadi sumber tambahan cuan.
- Perubahan Satuan Harga: HPM sekarang dihitung dalam basis wet metric ton (wmt), bukan lagi dry metric ton (dmt). Ini biar lebih sesuai kondisi riil bijih yang diperdagangkan di lapangan.
Di saat yang sama, harga nikel global juga lagi nanjak lagi setelah sempat flat. Dalam seminggu terakhir, naiknya sekitar 5% dan mulai mendekati US$18.000 per ton lagi. (Sumber: Trading Economic, 14 April 2026)
Katalis dari kenaikan HPM bijih nikel ini makin bikin semangat, apalagi dari awal tahun produksi nikel di Indonesia udah dipangkas signifikan.
Kementerian ESDM sudah merampungkan sebagian besar persetujuan RKAB nikel untuk tahun 2026. Mengutip Bloomberg Technoz, sampai 6 April 2026, kuota yang disetujui baru sekitar 190 juta ton. Ini jauh banget di bawah realisasi RKAB tahun 2025 yang tembus 379 juta ton.
Di sini, pemerintah sengaja ngerem produksi buat jaga harga nikel global agar nggak anjlok gara-gara oversupply. Meski kuota RKAB yang disetujui sekarang segitu, pemerintah pasang target total produksi bijih nikel 2026 di angka 209,08 juta ton. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, sempat kasih sinyal kalau pemerintah mungkin ngasih relaksasi terukur (penambahan kuota terbatas) di semester kedua kalau harga pasar stabil dan kebutuhan smelter domestik naik.
Di sisi lain, buat permintaan, kondisi masih relatif loyo. Produksi stainless steel masih cukup tinggi, tapi aktivitas manufaktur secara umum belum nunjukkin penguatan signifikan. Permintaan dari sektor baterai juga belum kasih lonjakan yang bikin melongo.
Eh, ada dukungan kebijakan juga dari luar negeri. April kemarin, Western Australia nawarin pinjaman tanpa bunga buat bantu penambang nikel mereka balik beroperasi dan ningkatin produksi. Ngeri-ngeri sedap kan?
Dampak ke Harga Nikel: Siapa Auto Cuan, Siapa Bikin Puyeng?
Dengan keputusan pengetatan RKAB ini, ditambah kenaikan Harga Patokan Mineral (HPM) yang berlaku besok, pasokan bijih nikel di dalam negeri diprediksi jadi lebih ketat dan otomatis lebih mahal.
Dua dampak utama nih:
- Dampak Positif:</Strong; sejumlah emiten tambang nikel bakal ngerasain cuan karena harga jual mereka naik.
- Dampak Negatif: pemain smelter cenderung rugi karena biaya bahan baku naik. Ini juga bisa menjalar ke pemain EV, karena harga produk jadi bisa ikut naik, apalagi diskon atau insentif dari pemerintah udah mau rampung.
Kami melihat emiten yang berpotensi diuntungkan paling banyak itu yang main di upstream. Ada tiga yang kami pantau: INCO, NICE, dan DKFT. Mari kita kepoin satu per satu!
Saham INCO: Si Raja Nikel Matte yang Ikutan Nyebur di Bijih
INCO itu aslinya produsen Nikel Matte, Bro. Jadi, mereka nggak cuma gali bijih, tapi udah diolah di smelter mereka sendiri di Sorowako. Tapi, ada perkembangan menarik di 2025-2026 ini, mereka mulai diversifikasi dengan jual bijih nikel langsung!
Berdasarkan data operasional terbaru 2026, INCO targetin volume penjualan bijih nikel ke pihak ketiga mencapai 8 sampai 8,5 juta ton per tahun. Pasokan ini mayoritas dari blok tambang mereka di Bahodopi dan Pomalaa, dialokasikan khusus buat nguatin arus kas perusahaan.
Dengan kenaikan HPM baru-baru ini, margin dari Blok Bahodopi dan Pomalaa bisa meningkat karena harga patokan domestik naik dan formula baru udah masukkin nilai mineral ikutan.
Mayoritas pembeli bijih INCO adalah perusahaan pengolahan nikel independen yang butuh pasokan bijih kadar tinggi. Tapi, ada juga yang nggak jual putus, karena udah ada yang nampung dari smelter raksasa yang dibangun bareng mitra strategisnya:
- Huayou Cobalt: Mitra utama di proyek HPAL Pomalaa dan Sorowako buat olah bijih kadar rendah (limonit) jadi bahan baku baterai (MHP).
- Ford Motor Co: Terlibat di rantai pasok Pomalaa buat ngamanin bahan baku baterai kendaraan listrik.
- TISCO & Xinhai: Mitra di proyek Morowali (Blok Bahodopi) yang bakal olah bijih saprolit INCO jadi ferronickel atau nickel pig iron (NPI).
Sementara buat bisnis utamanya, nikel matte hampir seluruhnya dijual ke Vale Canada Limited atau Vale Japan lewat kontrak penjualan jangka panjang. Jadi, bisa dibilang penjualan nikel INCO itu relatif terjamin karena pembeli udah ada. Faktor paling pentingnya adalah ngeliat harga dan pasokan.
Kami menilai, kinerja kuartal I/2026 diperkirakan masih positif. Didukung harga nikel global yang sempat mendekati US$19.000/ton di awal tahun, ditambah produksi masih pakai RKAB lama, jadi produksi masih aman. Namun, risiko mulai muncul di kuartal II/2026 dan seterusnya jika kepastian produksi belum terjaga. Saat ini, alokasi produksi masih sekitar 30% dan ada potensi revisi RKAB dalam waktu dekat.
Proyek Pomalaa masih dalam tahap penyesuaian dengan target mechanical completion di Agustus 2026. Sampai sekarang, progres proyek udah sekitar 62%, dengan pembangunan fasilitas utama dan pendukung yang terus berjalan.
Saham NICE: Penambang Murni yang Auto Diuntungkan HPM
Kedua, ada NICE yang fokus di bisnis upstream nikel. Doi nguasain tambang strategis di Morowali Utara, Sulawesi Tengah. NICE saat ini berfokus sebagai penambang murni yang jual bijih nikel langsung ke pasar domestik. Produknya ada dua:
- Bijih Saprolit (Kadar Tinggi): Jadi tulang punggung pendapatan saat ini buat masok smelter RKEF (produksi NPI/Ferronickel).
- Bijih Limonit (Kadar Rendah): Mulai jadi aset strategis seiring berkembangnya teknologi HPAL buat bahan baku baterai EV di Indonesia.
Penjualan NICE ini juga mirip INCO, udah terjamin. Sampai akhir tahun lalu, semua penjualan nikel NICE dibeli oleh PT Energy Metal Indonesia, yang merupakan pihak berelasi.
Sebagai penambang murni (pure miner), NICE termasuk pihak yang paling diuntungkan dari kenaikan Harga Patokan Mineral (HPM). Setiap kenaikan formula HPM langsung berdampak positif ke pendapatan NICE secara instan. Mantap jiwa!
Terkait RKAB 2026, NICE udah dapet persetujuan sejak Februari 2026 buat produksi sekitar 2,5 Juta ton bijih nikel tahun ini. Jumlah ini justru naik dari kuota tahun sebelumnya yang 2 juta ton. Meski begitu, NICE dikabarin lagi nyiapin pengajuan revisi kenaikan kuota di semester II/2026 (Juli-Agustus) buat maksimalkan kapasitas produksi tambang mereka di Konawe Utara yang masih sangat potensial.
Saham DKFT: Lengkap, Dari Tambang Sampai Olah
Terakhir, ada DKFT yang bisa dibilang punya model bisnis cukup lengkap di sektor nikel, dari tambang sampai pengolahan. Dari sisi bisnis, pendapatan DKFT masih didominasi bijih nikel, dengan tambang yang tersebar di Morowali Utara dan Konawe Utara. Selain itu, DKFT juga produksi feronikel dari smelter yang saat ini terus dioptimalkan.
Sebagai catatan, di luar nikel, DKFT juga jual batu kapur, tapi kontribusinya belum signifikan ke laporan keuangan. Lanjut lagi ke nikel, buat pasar, bijih nikel DKFT mayoritas diserap domestik, terutama oleh smelter di kawasan industri Morowali. Jadi, dengan bisnis ini, DKFT relatif diuntungkan sebagai penambang karena harga jual bijih bisa naik.
Sementara feronikel lebih banyak ditujukan ke pasar ekspor, khususnya ke Tiongkok sebagai bahan baku stainless steel.
Namun, ada juga risiko yang dihadapi dari smelter miliknya. Sebagai operator smelter RKEF, DKFT tetap bakal ngerasain kenaikan biaya bahan baku. Memang, dibanding HPAL dampaknya cenderung lebih ringan, tapi margin tetap berpotensi tertekan, apalagi kalau kenaikan harga nggak sepenuhnya bisa diteruskan ke harga jual feronikel.
Tantangan lain juga datang dari sisi efisiensi, terutama karena DKFT masih bergantung pada energi konvensional. Kalau biaya energi atau logistik naik, ini bisa ikut nekan profit dari segmen smelter.
Dari sisi ekspansi, DKFT sedang mengembangkan smelter tahap kedua dengan teknologi RKEF senilai sekitar US$500 juta, dengan target mulai uji coba di 2026. Proyek ini cukup krusial buat nentuin apakah DKFT bisa naik kelas sebagai pemain hilir yang lebih besar.
Untuk 2026 sendiri, kuota produksi (RKAB) DKFT diperkirakan ada di kisaran 2–3 juta ton. Dengan kondisi yang relatif lebih stabil dan dukungan pendanaan baru, ada peluang produksi bisa dimaksimalkan selama harga nikel masih menarik.
Jadi, mana nih pilihan kalian yang bikin greget dari tiga emiten upstream nikel ini? Siap-siap pantau terus pergerakannya ya, gaes!

