
3.7 Hitung Untung Rugi Saham
Di dunia saham, ada satu hal yang sering kejadian: kita merasa cuan… padahal belum tentu.
Harga saham naik sedikit, langsung senyum. Turun sedikit, langsung panik.
Masalahnya, kalau masih pemula banyak yang belum benar-benar tahu cara menghitung untung rugi saham dengan benar.
Padahal ini adalah skill paling dasar dalam trading maupun investasi.
Kalau kita nggak paham cara hitungnya, kita bisa:
- Merasa untung padahal sebenarnya rugi
- Terlalu cepat jual saham bagus
- Atau malah terlalu lama nahan saham yang sebenarnya sudah minus dalam
Jadi sebelum bicara strategi yang ribet, indikator teknikal, atau laporan keuangan perusahaan…
kita harus bisa menghitung untung rugi dulu.
Rumus Dasar Untung Rugi Saham
Secara sederhana, rumusnya sangat simpel:
Untung atau Rugi = Harga Jual – Harga Beli
Tapi di saham Indonesia, ada beberapa komponen tambahan yang perlu kita ingat:
- Jumlah lot
- Biaya broker
- Pajak
Karena itu, perhitungan sebenarnya sedikit lebih lengkap.
Untung atau Rugi = (Harga Jual – Harga Beli) × Jumlah Saham – Biaya Transaksi
Kedengarannya ribet? Tenang. Kita lihat contoh nyata.
Contoh Hitung Untung Saham
Misalnya kita beli saham:
- Harga beli: Rp1.000
- Jumlah: 10 lot
Ingat, 1 lot = 100 saham. Jadi total saham yang kita beli: 10 lot × 100 = 1.000 saham
Total modal kita:
1.000 × Rp1.000 = Rp1.000.000
Beberapa waktu kemudian harga naik menjadi Rp1.100, lalu kita jual.
Total hasil penjualan:
1.000 × Rp1.100 = Rp1.100.000
Berarti keuntungan kotor (gross profit) kita:
Rp1.100.000 – Rp1.000.000 = Rp100.000
Ini yang disebut capital gain.
Biaya Broker dan Pajak
Setiap transaksi saham biasanya ada biaya broker dan pajak.
Di Indonesia biaya broker umumnya sekitar:
- Beli: ±0,15%
- Jual: ±0,25%
Dan pajak:
- PPN: 1o% dari biaya broker
- PPh: 0,1%
Mari kita hitung dengan contoh tadi.
Biaya beli:
0,15% × Rp1.000.000 = Rp1.500
Biaya jual:
0,25% × Rp1.100.000 = Rp2.750
PPN:
10% × (Rp1.500 + Rp2.750) = Rp425
PPh:
0,1% × Rp1.100.000 = Rp1.100
Jadi, total biaya transaksi:
Rp5.775
Keuntungan bersih (net profit) kita sebenarnya:
Rp100.000 – Rp5.775 = Rp94.225
Masih untung, tapi sedikit lebih kecil dari yang kita kira.
Contoh Hitung Rugi Saham
Sekarang kita lihat skenario yang sering terjadi di dunia nyata.
Misalnya kita beli saham di harga:
- Rp1.000
- 10 lot
Modal awal kita Rp1.000.000.
Tapi ternyata harga turun menjadi Rp900.
Jika kita jual di harga itu:
1.000 × Rp900 = Rp900.000
Berarti kerugian kotor:
Rp100.000
Inilah yang disebut capital loss.
Biaya Broker dan Pajak
Biaya beli:
0,15% × Rp1.000.000 = Rp1.500
Biaya jual:
0,25% × Rp900.000 = Rp2.250
PPN:
10% × (Rp1.500 + Rp2.250) = Rp375
PPh:
0,1% × Rp900.000 = Rp900
Jadi, total biaya transaksi:
Rp5.025
Kerugian bersih (net loss) kita sebenarnya:
Rp100.000 + Rp5.025 = Rp105.025
Ditambah perhitungan biaya broker dan pajak, rugi bersih kita jadi sedikit lebih besar.
Cara Hitung Persentase Untung Rugi
Trader biasanya tidak melihat angka rupiah saja, tapi juga persentase.
Rumusnya:
(Harga Jual − Harga Beli) ÷ Harga Beli × 100%
Contoh:
Beli Rp1.000 → Jual Rp1.100
Perhitungannya:
(1.100 − 1.000) ÷ 1.000 × 100% = 10%
Berarti kita untung 10%.
Kalau turun dari Rp1.000 ke Rp900:
(900 − 1.000) ÷ 1.000 × 100% = −10%
Berarti kita rugi 10%.
Angka persentase ini penting karena membantu kita mengukur performa secara objektif.
Kenapa Orang Bisa Salah Hitung?
Biasanya karena beberapa hal ini:
- Tidak menghitung biaya broker
- Lupa menghitung jumlah lot
- Fokus ke rupiah, bukan persentase
- Melihat portofolio saat sedang naik saja
Jangan sampe terjebak di fenomena: “Ngerasa jago trading, tapi saldo nggak nambah-nambah.”
Yang Lebih Penting Dari Hitung Untung
Menariknya, di saham sebenarnya bukan cuma soal menghitung untung.
Yang jauh lebih penting adalah:
- berapa besar kerugian yang bisa kita terima
- berapa persen target profit kita
- dan kapan kita harus keluar dari posisi
Inilah yang nanti akan membawa kita ke konsep berikutnya:
- Cut Loss
- Take Profit
- Risk Management
Tanpa tiga hal ini, kita bisa saja beberapa kali untung…
tapi sekali salah langkah, semua keuntungan sebelumnya bisa hilang.
Kesimpulan: Trading Tanpa Hitung = Tebak-tebakan
Kalau dipikir-pikir, menghitung untung rugi saham sebenarnya sangat sederhana.
Tapi justru karena terlihat sederhana, banyak orang mengabaikannya.
Padahal kemampuan ini adalah fondasi dasar sebelum kita melangkah lebih jauh di dunia saham.
Karena pada akhirnya, market tidak peduli dengan perasaan kita.
Yang paling penting di market cuma satu:
Apakah keputusan kita menghasilkan profit… atau malah mengurangi modal.
