
4.7 Cara Menilai Saham Mahal atau Murah
Mungkin kita pernah lihat satu saham, harganya cuma Rp200 tapi rasanya “kok mahal ya”, sementara ada saham lain Rp5.000 tapi malah dibilang “murah”? Nah, di sinilah kadang orang kejebak.
Harga nominal bukan penentu mahal atau murah. Yang menentukan itu: value atau nilai intrinsik di balik harganya.
Kalau kita cuma lihat angka doang, ya sama aja misalnya kayak menilai pakaian cuma dari warna, bukan kualitasnya. Bisa-bisa kita beli yang kelihatannya murah, tapi ternyata zonk.
Mahal vs Murah Itu Relatif
Di saham, istilah mahal atau murah itu bukan absolut. Semua tergantung:
- Kinerja perusahaan
- Potensi pertumbuhan
- Risiko bisnis
- Ekspektasi market
Contoh simpel:
- Perusahaan A laba stabil, growth kecil
- Perusahaan B lagi ekspansi, laba belum besar tapi growth tinggi
Bisa jadi:
- A keliatan “murah” tapi gak kemana-mana
- B keliatan “mahal” tapi justru masa depannya cerah
Jadi, kita gak bisa nilai saham cuma dari harga per lembar.
1. Gunakan PER (Price to Earnings Ratio)
PER itu salah satu “kacamata” paling basic buat lihat valuasi.
Rumus:
Harga Saham / Laba per Saham (EPS)
Artinya:
Kita bayar berapa untuk setiap Rp1 laba perusahaan
Contoh:
- Saham A: PER 5 → kita bayar Rp5 untuk Rp1 laba
- Saham B: PER 20 → kita bayar Rp20 untuk Rp1 laba
Sekilas:
- PER kecil = terlihat murah
- PER besar = terlihat mahal
Tapi jangan buru-buru.
👉 PER rendah bisa berarti:
- Memang undervalued
- Atau… bisnisnya lagi bermasalah
👉 PER tinggi bisa berarti:
- Kemahalan
- Atau… market expect growth tinggi
Intinya: PER itu salah satu alat bantu, bukan jawaban final.
2. Gunakan PBV (Price to Book Value)
PBV lihat harga saham dibanding nilai aset bersihnya.
Rumus:
Harga Saham / Nilai Buku
Interpretasi:
- PBV < 1 → harga di bawah nilai aset (terlihat murah)
- PBV > 1 → harga di atas aset (terlihat mahal)
Tapi lagi-lagi…
Fakta yg sering terjadi, kalau:
- Perusahaan bagus → PBV tinggi itu normal
- Perusahaan jelek → PBV rendah belum tentu menarik
Karena aset doang gak cukup. Yang penting: aset itu bisa menghasilkan laba atau enggak.
3. Bandingkan dengan Sektornya
Ini juga penting tapi kadang sering dilupain.
Saham itu gak hidup sendirian. Dia selalu punya “tetangga” di sektor yang sama.
Contoh:
- Saham Bank besar → PER 15–20 itu wajar
- Saham Batu bara → PER 3–6 itu normal
Kalau kita bandinginnya yang gak sekelas, ya pasti salah.
👉 Jadi:
Mahal atau murah itu harus dibandingkan dengan juga dengan peer di sektor yang sama.
4. Lihat Growth (Pertumbuhan)
Ini kunci yang sering bikin kita “rela bayar mahal”.
Kalau perusahaan bisa:
- Naikin laba konsisten
- Ekspansi bisnis
- Punya masa depan jelas
Market biasanya kasih harga premium.
Makanya ada istilah:
“Saham mahal bisa jadi murah… kalau dia terus tumbuh”
Dan kebalikannya:
“Saham murah bisa jadi mahal… kalau dia gak tumbuh”
5. Perhatikan Narasi vs Realita
Ini khas market kita.
Kadang saham naik bukan karena fundamental, tapi karena:
- Story bagus
- Hype tinggi
- Digoreng
Di sini kita harus tanya:
“Ini mahal karena value… atau mahal karena cerita?”
Kalau cuma narasi tanpa realisasi:
👉 hati-hati, itu bukan investasi… itu spekulasi.
6. Gunakan Logika Sederhana
Kadang kita terlalu ribet pakai indikator, padahal logika dasar cukup:
- Perusahaan untung gak?
- Utangnya sehat gak?
- Bisnisnya jelas gak?
- Ada masa depan gak?
Kalau jawabannya gak meyakinkan,
murah pun tetap berisiko.
Kesimpulan: Mahal & Murah Tergantung Cara Pandang
Di saham, gak ada label tetap.
Yang ada cuma:
- Overvalued (terlalu mahal)
- Undervalued (terlalu murah)
- Fair value (wajar)
Dan semua itu tergantung perspektif kita.
👉 Investor fokus jangka panjang
👉 Trader fokus momentum
👉 Bandar fokus likuiditas
Masalah terbesar kita seringkali bukan gak bisa nilai saham
Tapi:
kita tahu itu mahal, tapi tetap beli karena takut ketinggalan
Atau:
kita tahu itu murah, tapi takut beli karena gak ada yang ngomongin
Di sinilah perbedaan antara:
yang ngikut market
dan
yang ngerti market
Pada akhirnya Cuan itu bukan soal beli yang paling murah, tapi beli yang paling “bagus”.
