
1.2 Kenapa Banyak Orang Boncos di Saham?
Ok jadi saham itu bukan judi. Tapi kenapa banyak yang ujung-ujungnya boncos?
Padahal akses makin gampang. Tinggal download aplikasi sekuritas, transfer dana, klik beli. Selesai. Tapi realitanya? Banyak yang masuk pasar modal dengan mimpi cuan cepat… eh tapi malah keluar dengan mental remuk.
Kalau kita lihat data dari Bursa Efek Indonesia, jumlah investor ritel terus naik tiap tahun. Artinya minat tinggi. Tapi sayangnya, kenaikan jumlah investor tidak otomatis berarti kenaikan kualitas investor.
Nah, ini beberapa alasan kenapa banyak orang boncos di saham.
Masuk Tanpa Ilmu, Modal Cuma Nekat
Banyak yang masuk saham karena FOMO. Teman ada yang udah cuan, TikTok rame, grup Telegram teriak “to the moon”, langsung sikat.
Padahal saham itu bisnis. Ketika beli saham, kita beli sebagian kepemilikan perusahaan. Tapi pertanyaannya: tau nggak bisnisnya apa? Laporan keuangannya gimana? Utangnya berapa?
Kalau nggak tahu apa yang dibeli, ya wajar kalau gampang panik dan salah ambil keputusan.
Mental Paling Depan Tapi Skill Masih Nol
Ada yang bilang dirinya investor, tapi tiap hari lihat chart 5 menit.
Ada juga yang ngaku trader, tapi nggak pakai risk management.
Akhirnya? Nyangkut.
Banyak orang nggak sadar perbedaan antara trading dan investing. Mereka nggak punya sistem. Masuk karena euforia, keluar karena panik.
Waktu euforia saham-saham banyak yang naik gila-gilaan. Banyak yang beli di harga pucuk, cuma karena takut ketinggalan. Begitu koreksi, langsung mental breakdown.
Masalahnya bukan di sahamnya. Masalahnya di mindset dan timing yang nggak pakai strategi.
Nggak Punya Manajemen Risiko
Ini dosa paling umum.
Orang berani all-in di satu saham. Bahkan pakai uang panas. Uang yg harusnya buat makan, uang sewa, uang buat nikah, uang dana darurat.
Padahal pasar saham itu fluktuatif. Turun 10–20% itu hal biasa. Kalau kita taruh semua telur di satu keranjang, ya siap-siap aja pecah semua kalau keranjangnya jatuh.
Investor besar seperti Warren Buffett selalu ngomong soal margin of safety. Tapi ritel seringkali justru cari “margin of nekat”.
Terlalu Percaya Rumor dan Influencer
“Katanya mau masuk MSCI.”
“Katanya bakal diakuisisi.”
“Katanya bandar masuk.”
Pasar itu kejam buat yang cuma modal katanya.
Kita harus sadar: informasi itu nggak simetris. Pemain besar punya data dan akses lebih cepat. Kalau berita sudah sampai ke grup WA, sering kali momen emasnya sudah lewat.
Ikut-ikutan tanpa analisa = jadi exit liquidity orang lain.
Nggak Sabar dan Nggak Realistis
Banyak yang masuk saham dengan ekspektasi:
1 bulan bisa dobel
6 bulan bisa financial freedom
Setahun bisa resign
Realitanya? Investasi saham itu maraton, bukan sprint.
Bahkan indeks global seperti S&P 500 pun butuh waktu bertahun-tahun untuk compounding maksimal. Tapi investor ritel maunya instan.
Begitu sideways 3 bulan, langsung bosan.
Begitu turun langsung cut loss di dasar.
Emosi Lebih Dominan dari Logika
Fear dan greed.
Dua hal ini yang bikin grafik keuangan seringkali lebih psikologis daripada matematis.
Naik dikit → serakah.
Turun dikit → takut.
Tanpa disiplin, tanpa trading plan, tanpa journaling, kita cuma jadi penumpang roller coaster.
Jadi, Gimana Biar Nggak Boncos?
Belajar dulu sebelum setor besar.
Tentukan lu trader atau investor.
Manage risiko (position sizing, cut loss, diversifikasi).
Punya thesis (alasan logis & mendasar) sebelum beli.
Siap mental menghadapi volatilitas.
Saham bukan tempat cari sensasi. Hanya orang sabar, disiplin, dan realistis mengelola ekspektasi yang bisa bertahan lama.
Boncos di saham bukan karena pasar atau bandarnya jahat. Tapi karena banyak yang masuk tanpa strategi.
Pertanyaannya sekarang: mau jadi investor yang bertahan… atau cuma euforia sesaat?
